Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PANDEMI covid-19 menjadi momentum tepat untuk bebenah, termasuk mengkaji ulang kebijakan pembiayaan kesehatan di Indonesia untuk mengedepankan aspek pencegahan. Hal itu ditegaskan oleh Guru besar Universitas Indonesia dan Dekan FKUI Prof Ari Fahrial Syam.
Pernyataan Ari merespons rencana transformasi enam pilar sistem kesehatan yang digaungkan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Enam pilar itu terdiri dari layanan primer, layanan rujukan, sistem ketahanan kesehatan, sistem pembiayaan kesehatan, SDM kesehatan, dan teknologi kesehatan.
"Pemerintah mestinya fokus untuk memperbesar skema pembiayaan skrining sebagai pencegahan penyakit seperti yang dilakukan Jepang dan Thailand untuk deteksi kanker. Saat ini, skrining penyakit di Indonesia masih by project, harusnya masif," kata Prof Ari kepada Media Indonesia.
Baca juga: Pada Rapat Penutupan G20, RI Siap Atasi Masalah Lingkungan Secara Seimbang
Saat ini skrining untuk penyakit kanker yang ditanggung pemerintah Indonesia baru skrining kanker leher rahim (serviks) melalui pemeriksaan IVA dan Pap Smear; serta kanker payudara melalui metode Clinical Breast Examination (CBE).
Sedangkan skrining usus besar misalnya, belum dijamin, sementara kasusnya meningkat. "Harusnya pencegahan ini diperbesar porsinya daripada menanggung biaya pengobatan yang jauh lebih besar," kata Ari.
Di masa pandemi, Ari mengingatkan, skrining juga mesti disiapkan untuk kasus long covid-19 yang memiliki beragam gejala. Karena covid-19 masuk bencana nonalam, jadi pembiayaannya haruslah ditanggung pemerintah. "Sebab, pembiayaan kesehatan yang berhubungan dengan pandemi itu harusnya gratis," cetusnya.
Selain menyoroti soal pembenahan pembiayaan kesehatan, Ari juga mengingatkan pentingnya pembenahan layanan primer seperti puskesmas sebagai pilar pertama sistem kesehatan.
Menkes, tegas Ari, harus mengembalikan fungsinya puskesmas sebagai pusat kesehatan anak, keluarga, dan lingkungan, dimana dokter benar-benar ada di tengah-tengah masyarakat. "Kalau sekarang ini kesannya puskesmas jadi rumah sakit kecil. Itu setelah otonomi daerah," tukasnya.
Hal tak kalah penting lainnya, tambah Ari, adalah transformasi SDM kesehatan sebagai pilar kelima sistem kesehatan. Menurutnya, minimnya tenaga dokter di puskesmas bisa diatasi dengan memberdayakan dokter internship (magang) yang jumlahnya mencapai 12.000 orang per tahun. Untuk menambah jumlah dokter spesialis, Kemenkes bisa kerja sama dengan Kemendikbud-Ristek. Ketika mereka bekerja di RS sebagai PPDS, pemerintah harus memfasilitasinya.
Sesuai UU 20/2013, PPDS harusnya diberikan insentif karena mereka tenaga kesehatan statusnya, bukan peserta didik. Tapi kenyataannya terbalik, dokter PPDS malah diminta membayar.
Soal lain yang disoroti Prof Ari adalah transformasi teknologi kesehatan yang makin diperlukan. Ia menyontohkan, platform telemedicine atau aplikasi PeduliLindungi misalnya, sudah baik, cuma saja belum sepenuhnya bisa diandalkan. "PeduliLindungi awal munculnya kan masih jeblok, error karena banyak yang download aplikasinya tapi sistem tidak siap," kata dia.
Contoh lain, data kamar rumah sakit untuk pasien covid-19 yang kemarin sangat dibutuhkan masyarakat ternyata datanya tidak real time.
Prof Ari mengingatkan, sebagus apapun rencana transformasi sistem kesehatan, itu tidak akan berhasil jika ego sektoral antar instansi masih kuat. "Semangat perubahan itu harus dimiliki oleh semua pihak. Tidak bisa Menkes sendiri," tegasnya. (H-3)
Keterlibatan sekolah dan orang tua jadi elemen penting dalam membangun pemahaman anak terhadap kesehatan dan lingkungan medis secara positif.
Jasa Raharja telah mengoptimalkan sistem monitoring dan respons cepat yang terintegrasi secara daring dengan lebih dari 2.770 rumah sakit di seluruh Indonesia.
Fokus kolaborasi ini adalah menggalakkan program pencegahan stunting bagi warga masyarakat di sekitar Pondok Gede, Kota Bekasi.
Integrasi fasilitas dan layanan ini dirancang untuk menghadirkan alur perawatan kanker yang lebih komprehensif dan efisien.
MULAI berfungsinya kembali beberapa rumah sakit di lokasi bencana banjir di Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh merupakan kabar baik. Namun, peningkatan jumlah pasien akan meningkat.
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mempercepat pembersihan, perbaikan, dan pemulihan layanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang terdampak bencana Sumatra.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengeluhkan harga tiket pesawat yang mahal untuk menuju titik bencana di Sumatra dan Aceh.
KEMENTERIAN Kesehatan memasuki tahap lanjutan penanganan bencana Aceh Sumatra dengan fokus pada pemulihan layanan kesehatan primer melalui puskesmas di wilayah terdampak.
KEPALA Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman menyampaikan prevalensi kusta di Indonesia sampai saat ini sebesar 0,91/10.000 di ratusan daerah.
Pemerintah memperluas imunisasi heksavalen melalui penguatan Program Imunisasi Nasional. Imunisasi terbukti efektif melindungi anak dari penyakit menular berbahaya.
PROGRAM Cek Kesehatan Gratis (CKG) mencatat capaian signifikan dengan jumlah kehadiran peserta menembus 70 juta orang hingga 29 Desember 2025.
Kemenkes menyatakan bahwa nakes Kemenkes menyatakan nakes tetap melayani warga di Desa Cekal dan Desa Pantan Kemuning,Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved