Senin 27 September 2021, 20:29 WIB

Begini Strategi Menkes Cegah Klaster Covid-19 di Sekolah 

Nur Aivanni | Humaniora
Begini Strategi Menkes Cegah Klaster Covid-19 di Sekolah 

Antara/Indrianto Eko Suwarso
Siswa menerapkan protokol kesehatan saat mengikuti pembelajaran tatap muka

 

MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memaparkan strategi yang akan dilakukan untuk mencegah klaster covid-19 di sekolah yang sudah melakukan pembelajaran tatap muka (PTM). Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers secara virtual, pada Senin (27/9). 

Dikatakannya, pemerintah akan mengubah yang tadinya surveilansnya passive case finding menjadi active case finding. Dengan begitu, pemerintah akan secara aktif mencari kasus. 

"Kita melakukannya bagaimana? Kita tentukan di tingkat kabupaten/kota berapa jumlah sekolah yang melaksanakan tatap muka, dari situ kita ambil 10% untuk sampling, kemudian dari 10% ini kita bagi alokasinya berdasarkan kecamatan," kata Menkes. 

Alokasi berdasarkan kecamatan itu dilakukan, jelasnya, karena para epidemiolog mengatakan penularan lebih berpotensi terjadi antarkecamatan. Karena itu, wilayah epidemiologis per kecamatan harus diawasi dengan ketat. 

Pemerintah kemudian akan melakukan pengujian PCR terhadap sampel 30 siswa dan 3 pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) per sekolah.

Baca juga :  Pemerintah Perketat Pintu Masuk dari AS dan Turki

Dari pengujian itu, jika ditemukan kasus positif di sekolah di bawah satu persen, maka pembelajaran tatap muka akan tetap berjalan normal untuk anggota kelas yang tidak terpapar. Tes akan dilakukan terhadap kontak erat dari yang terbukti positif dan semuanya dikarantina di rumah. 

Untuk sekolah dengan tingkat positif 1-5 persen, maka akan dilakukan dalam tes terhadap semua anggota rombongan belajar dan mereka akan menjalani karantina di rumah. Pembelajaran tatap muka sendiri tetap berjalan untuk anggota kelas yang tidak terpapar. 

"Tapi kalau yang di atas lima persen, kita tesnya seluruh sekolah karena ada kemungkinan ini menyebar. Sekolahnya kita ubah dulu menjadi online, menjadi daring dulu selama 14 hari," kata Budi. 

Dikatakannya, langkah tersebut memastikan bahwa surveilans itu dilakukan di level paling kecil. Dan, jika terbukti ada penularan masif, maka hanya sekolah tersebut yang akan ditutup. Sekolah dengan protokol kesehatan yang baik akan tetap melakukan pembelajaran tatap muka. (OL-7)

Baca Juga

Antara/Dhedhez ANggara

Kementan Kirim Obat-Obatan dan APD ke Beberapa Wilayah untuk Kendalikan PMK

👤Despian Nurhidayat 🕔Rabu 18 Mei 2022, 19:14 WIB
“Mulai tanggal 7-12 Mei lalu kami sudah melakukan pengiriman logistik tahap 1 ke beberapa provinsi, “ ungkap Direktur Jenderal...
ANTARA/ASPRILLA DWI ADHA

Dirjen Dikti-Rinstek Tinjau Pelaksanaan UTBK-SBMPTN di UI dan UNJ

👤Faustinus Nua 🕔Rabu 18 Mei 2022, 19:03 WIB
Nizam mengatakan bahwa pandemi telah mengajarkan untuk beradaptasi dengan perubah secara...
ANTARA/Maulana Surya

166,4 Juta Masyarakat Indonesia telah Terlindungi Vaksin Dosis Lengkap

👤Kautsar Widya Prabowo 🕔Rabu 18 Mei 2022, 18:13 WIB
Indonesia menargetkan 208,2 juta penduduk menerima vaksin covid-19 dari target sebelumnya 181,5 juta warga. Penambahan itu karena anak usia...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya