Rabu 22 September 2021, 16:10 WIB

Peralihan Musim, La Nina dan Potensi Cuaca Ekstrem

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Peralihan Musim, La Nina dan Potensi Cuaca Ekstrem

AFP
Ilustrasi

 

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta nelayan disepanjang pesisir selatan Jawa untuk mewaspadai potensi perubahan cuaca ekstrem jelang masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

“Pada musim peralihan, gelombang tinggi, badai, angin kencang, atau cuaca buruk dapat sewaktu-waktu terjadi. Ketinggian gelombang bisa mencapai kisaran 4 - 6 meter," kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam keterangannya Rabu (22/9).

Peringatan cuaca buruk itu juga diberikan untuk sejumlah wilayah di Indonesia diprediksi akan mengalami musim hujan lebih besar dari biasanya. Diantaranya yaitu, sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau bagian selatan, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur bagian barat hingga selatan, Sulawesi, Maluku Utara bagian barat, Pulau Seram bagian selatan, dan Papua bagian selatan. Puncak musim hujan periode 2021/2022 sendiri diprediksi akan terjadi pada Januari dan Februari 2022.

La nina
Dwikorita menyebut, berdasarkan pemantauan parameter anomali iklim global oleh BMKG dan institusi-institusi internasional lainnya, terdapat indikasi/peluang bahwa ENSO Netral akan berkembang menjadi La Nina dengan kategori lemah hingga moderat menjelang akhir 2021 hingga awal 2022. Sementara itu, Indian Ocean Dipole Mode (IOD) Netral diprediksi bertahan setidaknya hingga Januari 2022.

“Jika La Nina terjadi, maka akan berdampak pada peningkatan curah hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Hal ini juga berdampak pada risiko terjadinya bencana hidrometeorologi,” sebutnya.

Dwikorita menuturkan, perubahan cuaca ekstrem jelang masa peralihan sangat mempengaruhi keselamatan pelayaran perahu nelayan saat tengah mencari ikan. Maka dari itu, BMKG menghimbau kepada nelayan untuk terus mengupdate informasi cuaca sebelum memutuskan untuk berlayar.

Selain membaca tanda-tanda alam seperti kemunculan awan Cumulonimbus yang berbentuk seperti bunga kol bergulung-gulung, lanjut dia, nelayan perlu juga mengakses informasi cuaca real time yang dikeluarkan pemerintah melalui BMKG.

“Informasi dari BMKG tersebut dijadikan pijakan keputusan, apakah akan melaut atau tidak. Kapan harus berlayar, dan kapan harus menunggu. Waktu menunggu bisa dimanfaatkan untuk perbaikan kapal atau jaring,” jelasnya. (H-2)

Baca Juga

Antara

Tinjau Hotel Jemaah Haji di Madinah, Menag Mengaku Puas

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Minggu 22 Mei 2022, 18:32 WIB
Layanan akomodasi jemaah haji Indonesia di Madinah menggunakan sistem full musim dan penyewaan blocking time. Adapun hotel yang disewa...
MI/ Andri Widiyanto

Update 22 Mei: 166,8 Juta Orang Sudah Divaksinasi Lengkap

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Minggu 22 Mei 2022, 18:32 WIB
Indonesia menargetkan 208,2 juta penduduk menerima vaksin...
DOK/HUMAS UPI

UPI Bandung Luncurkan BeCool, Solusi Mengatasi Pemanasan Global

👤Naviandri 🕔Minggu 22 Mei 2022, 18:30 WIB
BeCool sebagai solusi dalam mengatasi pemanasan global sebagai dampak dari kepadatan bangunan terurama pada kota-kota besar dan menimbulkan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya