Kamis 12 Agustus 2021, 19:20 WIB

Kemenkes Terus Lakukan Perbaikan Data Kematian Covid-19

Selamat Saragih | Humaniora
Kemenkes Terus Lakukan Perbaikan Data Kematian Covid-19

Antara/Raisan Al Farisi
Lahan khusus pemakaman pasien Covid-19 di Cimahi, Jawa Barat

 

ANGKA kematian Covid-19 pada periode tiga minggu terakhir cenderung tinggi terutama di Pulau Jawa. Sesuai analisis data National All Record (NAR) ternyata pelaporan kasus kematian yang dilakukan daerah tidak bersifat real time melainkan akumulasi dari bulan-bulan sebelumnya.

Juru bicara vaksinasi Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, mengakui hal tersebut bagian dari perbaikan data yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah. Pihaknya terus melakukan evaluasi dan sinkronisasi data pusat dan daerah agar lebih efisien dan tepat.

"Kemenkes masih proses terus perbaikan data secepatnya agar selesai dilakukan daerah. Tapi data Covid-19 tetap bisa masuk dan kita update terus menerus per harinya," kata Nadia, di Jakarta, Kamis (12/8).

Kemenkes mengumpulkan data dari seluruh dinas kesehatan provinsi, kabupaten, dan kota. Perbaikan dan penyesuaian data sudah mulai dilakukan agar sinkronisasi data dapat berjalan. 

Memang ada beberapa pada saat melaksanakan proses sinkronisasi data tersebut, ditemukan sejumlah kasus yang tidak sesuai antara data pusat dan data daerah.

Tenaga Ahli Kemenkes Panji Fortuna Hadisoemarto mengatakan, berdasarkan analisis data NAR Kemenkes, ditemukan pelaporan kasus kematian di daerah tidak bersifat real time dan merupakan akumulasi dari bulan-bulan sebelumnya.

Baca juga : PPKM Turunkan 56,9% Kasus Covid 19, Polri: Kedisiplinan Adalah Kunci

“NAR adalah sistem big data untuk pencatatan laboratorium dalam penanganan Covid-19 yang dikelola Kemkes,” kata Panji sebelumnya dalam keterangan pers, di Jakarta, Rabu (11/8).

Dia menyebutkan, berdasarkan laporan kasus Covid-19 pada 10 Agustus 2021, dari total 2.048 kematian dilaporkan, sebagian besar bukan angka kematian pada tanggal itu, melainkan seminggu sebelumnya. 

Bahkan 10,7% di antaranya berasal dari kasus pasien positif yang sudah tercatat di NAR lebih 21 hari, tetapi baru terkonfirmasi dan dilaporkan bahwa pasien telah meninggal.

“Kota Bekasi, contohnya, laporan pada tanggal 10 Agustus 2021 dari sebanyak 397 angka kematian dilaporkan, 94% di antaranya bukan merupakan angka kematian pada hari tersebut, melainkan akumulasi dari Juli sebanyak 57% dan Juni dan sebelumnya sebanyak 37%. Lalu 6% sisanya merupakan rekapitulasi kematian di minggu pertama Agustus,” jelas Panji.

Contoh lain di Kalimantan Tengah. Sekitar 61% dari 70 angka kematian yang dilaporkan pada Selasa (10/8) adalah kasus aktif yang sudah lebih 21 hari, namun baru diperbarui statusnya. (OL-7)

Baca Juga

Medcom.id

Program Beasiswa OSC Medcom.id Buka Peluang Kerja Sama dengan Universitas Korea Selatan

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Senin 08 Agustus 2022, 14:18 WIB
Kompetisi Beasiswa Online atau Online Scholarship Competition (OSC) Medcom.id berpotensi menggandeng universitas dari luar negeri seperti...
Ist/Hotel Indonesia Kempinski Jakarta

Hotel Indonesia Kempinski Jakarta Gelar Acara Bertajuk “Wondrous 60 Years"

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 08 Agustus 2022, 14:01 WIB
Selama bulan Agustus Hotel Indonesia Kempinski Jakarta bekerja sama dengan ISA Art & Design menyajikan karya seni bertema...
Ist/DPR

Fadli Zon: Prangko Identitas Negara dan ‘Second Track Diplomacy’ Antarwarga

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 08 Agustus 2022, 12:55 WIB
Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Fadli Zon menilai kehadiran prangko dapat menjadi identitas suatu negara, seperti...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya