Minggu 08 Agustus 2021, 08:57 WIB

Jaga Harimau Sumatra, Masyarakat Adat Pasaman Barat Bentuk Community Patrol

Abdillah M Marzuqi | Humaniora
Jaga Harimau Sumatra, Masyarakat Adat Pasaman Barat Bentuk Community Patrol

Dok BKSDA Sumbar
Harimau sumatra Sipogu yang dilepasliarkan oleh BKSDA Sumbar pada 30 Juli

 

BAGI masyarakat Pasaman Barat, Sumatra Barat, harimau sumatra bukanlah satwa yang harus dimusuhi. Bukan pula satwa liar yang harus dimasukkan dalam kandang rumahan. Bagi mereka, keberadaan harimau berarti kelestarian hutan.

Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat (Sumbar) Ardi Andono bahkan mengaku takjub dengan sikap warga Pasaman Barat.

Di banyak wilayah, harimau adalah momok dan biang konflik antara satwa dan manusia. Satwa langka itu dianggap sebagai musuh yang keberadaannya tidak diizinkan. Ketakutan dan kekhawatiran atas sifat buas harimau mendorong mereka untuk kasar pada harimau, bahkan berlaku sadistis.

Baca juga: Cinta Harimau tidak Berarti Memelihara sang Raja Rimba di Rumah

"Ini sangat menarik, karena mereka meminta harimau tersebut dilepasliarkan di areal ini (semula) kembali. Di mana biasanya di tempat lain, harimau ini ditolak, tetapi di sini, berbeda sekali. Bahkan mereka meminta kita untuk melepaskan di lokasi ini," ujar Ardi.

Satwa liar dan manusia bisa dengan adem menjalani kehidupan masing-masing, tanpa saling menganggu. Bupati Pasaman Barat Hamsuardi mengungkap harimau sumatra merupakan satwa yang dihormati dan dijaga keberadaannya secara kearifan lokal.

"Tentunya kepada seluruh masyarakat yang ada di sekitar hutan ini mari kita saling menjaga. Sehingga habitat di sana akan terjaga sehingga para satwa, binatang, atau harimau yang ada di sana enak tinggal di hutan. Dan tidak terjadi lagi keluar dari hutan," tegas Hamsuardi.

Pasaman Barat membuktikannya. Harmoni kehidupan antara masyarakat dan alam liar bisa terwujud. Tentu ada rahasia di balik kesadaran masyarakat Pasaman Barat atas keberadaan harimau.

Baca juga: Ini 3 Penyebab Harimau ke Luar Hutan

"Di sana sampai hari ini, sejak kita lahir dan sebelumnya juga, kita belum pernah mendengar ada konflik dengan harimau. Rahasianya cuma satu. Kita tidak pernah menganggu mereka. Masyarakat Simpang Godang, saya belum pernah mendengar niatnya untuk menjerat harimau. Jadi tak ada konflik antara harimau dan masyarakat," lanjutnya.

Bahkan para pemangku kepentingan di Pasaman Barat sepakat untuk menandatangani Piagam Kesepakatan Bersama Para Pihak Untuk Kelestarian Harimau Sumatera di Kabupaten Pasaman Barat pada 29 Juli 2021, bertepatan dengan Global Tiger Day. Piagam itu menjadi merupakan langkah maju bagi pelestarian harimau sumatra.

Baca juga: BKSDA Sumbar Lepasliarkan Seekor Harimau Sumatera di Kawasan Hutan Lindung Pasaman Barat

Semangat pelestarian itu kemudian mewujud dalam program community patrol. Program itu melibatkan masyarakat adat dan tokoh muda setempat yang akan berpatroli di lokasi tersebut sebagai upaya pemantauan pascapelepasliaran.

"Kami akan membentuk tim community patrol untuk transfer knowledge antara petugas dan masyarakat yang terlatih bagaimana nanti mengatasi konflik harimau juga bagaimana melakukan patroli di dalam hutan. Selain itu mungkin nanti kita juga mengajarkan mereka bagaimana memasang kamera trap, menganalisa posisi harimau," terang Ardi.

Baca juga: Dua Harimau Sumatra di Ragunan Sempat Terpapar Covid-19

Keberadaan community patrol nantinya juga dilembagakan melalui surat keputusan wali nagari setempat.

"Jadi secara filosofi, hanya ada masyarakat yang sehat, hanya ada masyarakat yang memiliki kepedulian yang tinggi yang bisa menyelamatkan harimau ini," tegas Ardi.

Untuk tahap pertama, ada 10 warga yang diikutsertakan dalam pelatihan. Mereka akan dilatih untuk bisa melakukan patroli ke dalam hutan, menanggani konflik ketika harimau turun gunung, hingga memasang kamera-jebak. Selain fungsi pemantauan harimau, mereka juga bisa menjalankan tugas lain seperti menghalau pemburu liar dan pembalak liar. Tentunya semua dalam pendampingan tim BKSDA Sumbar.

"Kita tidak akan meninggalkan mereka begitu saja, tapi kita akan terus-menerus supervisi mereka," ujar Ardi.

Baca juga: Terus Diburu, Populasi Harimau dan Gajah Sumatra Mengkhawatirkan

Namun bagaimanapun baik rancangan konsep dan teknis, tentu tidak bisa berjalan tanpa pendanaan yang memadai. Pada tahap ini, pihak swasta bersedia untuk mengalokasikan dana bagi kegiatan community patrol.

"Jadi untuk pendanaan ini, PT PMS sebagai buffer yang ada di kawasan Hutan Danau Laut Tinggal ini. Dia akan men-support sepenuhnya, menyiapkan dana CSR untuk kegiatan community patrol," ujar Ardi. (X-15)

VIDEO TERKAIT:

Baca Juga

Dok. Kemenparekraf

Komitmen Kolaborasi Pelaku Pariwisata Wilayah Borobudur-Yogya-Prambanan dalam Pengembangan Desa Wisata 

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 03 Februari 2023, 10:47 WIB
Sebanyak 20 orang perwakilan desa wisata yang merupakan local champion dari Kabupaten/Kota Magelang, Sleman, Klaten, dan Yogyakarta...
Dok. BSBK

Kemenkes Persiapkan Fasilitas Kesehatan di IKN

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 03 Februari 2023, 10:46 WIB
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mulai mempersiapkan fasilitas kesehatan di Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak hanya rumah sakit tetapi juga di...
Dok. Sinotif

Bikin Belajar Makin Efektif, Sinotif Usung Pembelajaran Online dengan Cita Rasa Tatap Muka

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 03 Februari 2023, 10:41 WIB
Banyak anak yang ternyata lebih nyaman dan tidak cemas ketika harus belajar dari rumah saat pandemi baik dari sektor pendidikan formal...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya