Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
Direktur Utama Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, dr. Syahril Mansyur Sp.P mengatakan terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan penyintas COVID-19 masih bisa terpapar virus lagi, yang salah satunya adalah memiliki kontak erat dengan mereka yang terinfeksi.
"Penyintas bisa kena lagi, atau reinfeksi, apabila dia bertemu lagi dengan kontak erat atau pergi ke zona merah," kata dr. Syahril melalui seminar daring, Rabu (21/7).
Tak hanya menyerang penyintas, virus juga bisa menyerang masyarakat yang telah melakukan vaksinasi, tak terkecuali mereka yang sudah diberikan dua dosis vaksin sekali pun.
Menanggapi hal tersebut, dr. Syahril menegaskan bahwa vaksin tidak 100 persen membuat tubuh menjadi kebal sepenuhnya dari paparan COVID-19. Vaksinasi akan menjadi efektif jika setidaknya masyarakat sudah 70-80 persen divaksin, dan kedisiplinan masyarakat menjalani protokol kesehatan. "Vaksin tidak melindungi 100 persen sehingga menjadi kebal COVID. Maka dari itu, ada 70-80 persen komoditas agar divaksin untuk menciptakan herd immunity (kekebalan komunal). Kalau yang divaksin sedikit, maka tidak ada dampak bahkan akan ada penularan," ujar dr. Syahril.
"Untuk mereka yang sudah divaksin, antibodi yang timbul mungkin tidak cukup untuk membunuh virus yang masuk. Apalagi orang yang sudah divaksin terus terpapar dengan mereka yang terinfeksi COVID. Apalagi dengan varian yang baru, karena mereka sudah bermutasi lebih canggih dan mengelabui kekebalan yang ada," imbuhnya.
Herd immunity
Menambahkan, Medical Senior Manager PT Kalbe Farma, dr. Esther Kristiningrum, mengatakan, bagi penyintas COVID-19 yang belum pernah mendapatkan vaksin, bisa mengikuti vaksinasi setidaknya tiga bulan setelah sembuh.
"Karena tujuan kita adalah bagaimana mencari herd immunity, maka sekarang yang diutamakan adalah mereka yang belum terkena COVID-19. Jika sudah pernah (terpapar virus corona), tubuh sudah membentuk antibodi terhadap COVID, dan seiring berjalannya waktu, antibodi menurun," kata dr. Esther.
"Tapi, belum jelas berapa lama apakah antibodi akan menurun, sehingga dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), menganjurkan vaksinasinya setelah tiga bulan sembuh," imbuhnya.
Ia menambahkan, "Sebenarnya kalau sudah sembuh bisa saja (langsung divaksin). Namun, vaksin yang ada masih terbatas dan fokus ke herd immunity, sehingga diutamakan bagi yang belum terinfeksi COVID-19 karena belum ada kekebalan terkait COVID-19." (Ant/OL-12)
Malaria masih menjadi masalah kesehatan global yang kompleks akibat imunitas parsial, pembawa asimtomatik, dan resistensi insektisida.
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di musim hujan.
Program vaksinasi PMK juga dilakukan secara serentak dalam dua periode secara nasional.
Influenza atau yang lebih akrab dikenal sebagai flu sering kali dianggap remeh sebagai gangguan pernapasan biasa.
Daya tular campak cukup tinggi, mirip dengan covid-19. Seseorang yang terinfeksi dapat menularkan virus selama 4 hari sebelum dan sesudah gejala muncul.
Jemaah haji perlu memahami manfaat kesehatan jangka panjang dari vaksinasi, bukan sekadar memenuhinya sebagai syarat administrasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved