Selasa 13 Juli 2021, 00:18 WIB

Pro Kontra Draf Baru Keanekaragaman Hayati PBB

Mediaindonesia.com | Humaniora
Pro Kontra Draf Baru Keanekaragaman Hayati PBB

AFP/Pablo Porciuncula Brune.
Penguin raja dan seekor domba terlihat di Volunteer Point, utara Stanley di Kepulauan Falkland (Malvinas), Inggris.

 

PERUNDINGAN COP15 pada KTT keanekaragaman hayati PBB sejatinya direncanakan berlangsung pada tahun lalu di Kunming, Tiongkok. Hal itu tertunda karena pandemi covid-19 dan sekarang diatur untuk berlangsung secara virtual.

Sumber yang dekat dengan konferensi mengatakan mungkin akan ditunda hingga tahun depan. Sesi yang dijadwalkan untuk Agustus, juga online, akan memberikan kesempatan kepada negara-negara untuk menyuarakan pandangan mereka tentang draf teks.

"Masih banyak pekerjaan yang tersisa sebelum draf teks negosiasi ini ditetapkan sebagai inti dari Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global yang baru," kata Linda Krueger, pemimpin kebijakan keanekaragaman hayati global di The Nature Conservancy.

Dia mengatakan draf, Senin (12/7), itu memiliki peningkatan yang signifikan pada versi sebelumnya. Penyelenggara telah mendengarkan dengan seksama konsultasi dan telah memperkuat dan mengklarifikasi teks yang sesuai.

Draf naskah dari PBB terkait negosiasi KTT yang akan datang menjabarkan target pendanaan khusus. Ini termasuk pengurangan subsidi yang berbahaya bagi alam setidaknya mencapai US$500 miliar per tahun.

Upaya itu juga membutuhkan setidaknya US$200 miliar setiap tahun dalam pembiayaan baru dan tambahan untuk mengimplementasikan target. Sejumlah target lain dari rancangan itu yakni setidaknya 30% spesies darat dan laut juga harus dilindungi melalui kawasan konservasi. Kerangka kerja ini juga menyerukan praktik pertanian dan perikanan yang lebih berkelanjutan, serta menghilangkan pembuangan limbah plastik.

Oscar Soria, manajer kampanye di kelompok penekan Avaaz, mengatakan kepada AFP bahwa angka-angka yang tercantum dalam rancangan itu merupakan jumlah minimum mutlak. "Jika rancangan ini bertahan dari tawar-menawar negosiasi, dunia akan memiliki cetak biru yang kuat untuk tindakan keanekaragaman hayati," katanya.

Tetapi yang lain kurang positif. Guido Broekhoven, kepala Penelitian dan Pengembangan Kebijakan di WWF, mengatakan kepada AFP bahwa teks baru itu tidak menunjukkan urgensi dan ambisi yang diperlukan untuk memerangi hilangnya alam.

Baca juga: PBB Targetkan Lestarikan Minimum 30% Spesies Daratan dan Lautan pada 2050

 

"Kita benar-benar perlu memiliki dunia alam yang positif pada 2030. Itu berarti ada lebih banyak alam pada 2030 daripada yang ada sekarang," katanya. (OL-14)

Baca Juga

Freepik

Ini Tips Memilih Popok yang Tepat untuk Anak Anda

👤Basuki Eka Purnama 🕔Selasa 18 Januari 2022, 08:45 WIB
Berdasarkan hasil riset, 7-35% anak-anak di bawah usia tiga tahun mengalami ruam popok lantaran popok yang terlalu ketat, lembap, atau...
AFP/ ADEK BERRY

Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Covid-19, Kemendagri Terbitkan Dua Aturan Baru

👤Indriyani Astuti 🕔Selasa 18 Januari 2022, 08:17 WIB
Dua Inmendagri ini merupakan panduan bagi daerah untuk lebih tanggap dan waspada serta melakukan langkah antisipasi yang ditindaklanjuti...
Dok. ITB

Dampak Perubahan Pantai terhadap Batas Laut Negara

👤Dr Eka Djunarsjah Kelompok Keahlian Hidrografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung 🕔Selasa 18 Januari 2022, 06:00 WIB
PENELITIAN ini merupakan studi lanjutan dari Kelompok Keahlian (KK) Hidrografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya