Jumat 11 Juni 2021, 06:35 WIB

Dari Ruang Tamu Mengantar Anak-Anak Melek Pendidikan

Gariel Langga | Humaniora
Dari Ruang Tamu Mengantar Anak-Anak Melek Pendidikan

MI/Gariel Langga
Difabel di Sikka Cerdaskan Anak Miskin di Rumah Pribadinya.

 

MENJADI penyandang disabilitas tidak menjadi penghalang bagi Maria C Liys untuk bisa hidup mandiri, berkarya, dan membantu sesama. 

Liys, sapaan akrab penyandang tunadaksa ini, di tengah keterbatasan fisik mampu mendirikan lembaga PAUD (pendidikan anak usia dini).

Saat ditemui Media Indonesia, Jumat (4/6) di rumahnya, Kelurahan  Wairotang, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Liys pun menceritakan lahirnya PAUD Pelita Hati.

Berawal setiap hari ia melihat anak-anak tetangga setiap hari bermain, ia kemudian mengumpulkan para ibu di sekitar rumah dan menggagas berdirinya PAUD.

Dengan penuh semangat dan keterbatasan, ia pun mengumpulkan beberapa ibu-ibu di kediamannya dan menyepakati untuk mendirikan PAUD dengan nama PAUD Pelita Hati. Liys pun merelakan satu ruangan tamu berukuran 3x4 di rumah pribadinya dijadikan tempat pembelajaran untuk mencerdaskan anak-anak dari kalangan miskin itu.

"Jadi saya mulai tata ruang tamu di rumah pribadi saya jadi ruangan kelas.  Kami mulai tempel pernak-pernik, poster, dan gambar-gambar. Ruangan tamu ini kami buat seperti ruang kelas. Tidak ada kursi. Kami gunakan karpet saja agar anak-anak bisa duduk saat bermain dan belajar," lanjut Lyis yang mengalami kecacatan pada kaki sejak usia dua tahun dan harus menggunakan penyangga setiap berjalan atau berdiri.

Ia mengaku mengumpulkan seluruh barang bekas yang ada di rumahnya untuk dijadikan tema pendidikan bagi 14 muridnya yang merupakan angkatan pertama. Untuk alat tulis ada sumbangan dari para tetangga.

Untuk tenaga pengajar, ia bersama dua ibu rumah tangga menjadi pengajar di PAUD Pelita Hati. Proses pendidikan berlangsung dari Senin-Jumat.

"Tenaga pengajar hanya tiga orang saja, termasuk saya. Kami bertiga ini hanya tamat SMA. Tidak ada yang sarjana pendidikan," ujar dia.

Memang kelas untuk PAUD ini tidak permanen. Bila selesai kegiatan PAUD, ruangan kelas berubah jadi ruang tamu. Maka setiap pagi, Liys harus kerja cepat untuk menyulap ruang tamu menjadi kelas PAUD sebelum anak-anak masuk kelas.  

"Jadi tiap pagi saya harus bersihkan ruang tamu dan ubah lagi menjadi ruang kelas. Setelah mereka selesai belajar dan bermain, ruang kelas itu saya ubah lagi menjadi ruang tamu. Karena kalau siang atau sore, kadang ada tamu datang ke rumah," ungkapnya.

Berjalan waktu, ia pun mulai mengurusi surat-surat izin agar PAUD Pelita Hati ini mendapatkan izin operasional. Berkat kerja kerasnya, ia pun mendapatkan izin operasional dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sikka setelah melewati beberapa tahap seperti dari kelurahan dan kecamatan.

"Dua tahun berjalan, sekitar tahun 2016, baru PAUD Pelita Hati mendapatkan nomor pokok sekolah nasional (NPSN) dari Kementerian Pendidikan Nasional," kata Liys bangga.

Sejak angkatan pertama ada 14 murid, dan pada tahun ajaran 2020/2021 telah bertambah menjadi 25 orang. Murid-muridnya selain anak-anak normal, juga ada sebagian anak berkebutuhan khusus. Terkait uang sekolah, ia mengaku tiap bulan anak-anak hanya membayar Rp10.000 per bulan saja.

"Dalam perjalanan, kalau orangtua tidak membayar uang sekolah, kami tidak pernah tagih. Karena misi kami, anak-anak di lingkungan kami bisa belajar dan bermain. Yang kami harap itu, anak-anak kami bisa pintar dan berguna untuk nusa dan bangsa. Sehingga kami yang jadi tenaga pengajar ini tidak pernah menuntut apapun," ungkapnya.

Lyis sudah delapan tahun menjalankan aktivitas PAUD di rumah pribadinya. Dan para alumni PAUD Pelita Hati mampu berkompetisi di sekolah dasar.

"Walaupun sekolah kami masih di rumah, tetapi kalau mau lihat prestasi anak-anak yang tamat dari Paud Pelita Hati ini ketika mereka melanjutkan sekolah dasar itu. Anak-anak bisa juara satu di sekolahnya. Sehingga, pernah guru-guru dari SD mereka datang berkunjung ke PAUD Pelita Hati ini untuk lihat pembelajaran yang kami terapkan," ucap dia.

Liys menginginkan PAUD Pelita Hati bisa berkembang lebih besar dan tidak lagi di ruang tamu. Namun, hingga kini belum ada donatur. Pernah ada donatur yang akan membantu membangun PAUD cuma syaratnya harus ada lahan. "Ini yang menjadi kendala bagi saya dalam mengembangkan PAUD Pelita Hati," ujar ibu tujuh anak ini. 

Sebelumnya Liys pernah mengajukan pinjam pakai lahan ke Bupati Sikka untuk bisa digunakan membangun sekolah PAUD Pelita Hati. Namun, bupati belum memberikan jawaban. Meski begitu, ia berencana akan menemui kembali Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo untuk bisa meminjamkan lahan milik Pemkab Sikka kepadanya sehingga bisa dibangun gedung sekolah PAUD lebih baik lagi.

"Rencananya minggu depan, saya mau bertemu Bupati Sikka. Saya berharap ada jawaban dari Bupati Sikka. Saya punya niat hanya membangun sekolah demi membantu anak-anak dari keluarga tidak mampu yang ada di sini.  Agar mereka juga bisa memperoleh pendidikan dari usia dini seperti anak yang lain," pungkasnya. (N-1)

Baca Juga

ANTARA/Dokumentasi BNPT

Suhardi Alius: Kikis Adu Domba dan Hoaks Demi Demokrasi Santun

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 16 Juni 2021, 20:16 WIB
Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Suhardi Alius, mengatakan, penguatan nasionalisme dan wawasan kebangsaan harus terus dilakukan untuk...
DOK BPPT

Rumah Komposit Tahan Gempa BPPT Akan Jadi Posko Bencana BPBD Tangsel

👤Siswantini Suryandari 🕔Rabu 16 Juni 2021, 19:47 WIB
BPPT meluncurkan inovasi Rumah Komposit Tahan Gempa (RKTG) sebagai solusi mendukung program infrastruktur mitigasi bencana nasional di...
Antara

Kasus Covid-19 Melonjak, Perusahaan Diminta Utamakan Keselamatan Pekerja

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 16 Juni 2021, 19:25 WIB
Menaker menekankan bahwa disiplin prokes bagian dari perlindungan atas keberlangsungan usaha. Sekaligus, melindungi keselamatan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Orang Rimba masih Berjuang untuk Diakui

MATA Mariau tampak berkaca-kaca kala menceritakan perihnya derita kehidupan anggota kelompoknya yang biasa disebut orang rimba.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya