Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG pria muda meninggal dunia usai menerima vaksinasi covid-19 AstraZeneca. Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Hindra Hingky Irawan Satari mengatakan, kejadian ini bermula dari ketika pria berusia 21 tahun itu mendapatkan vaksinasi covid-19 di kawasan sentra vaksin di Gelora Bung Karno (GBK).
Vaksinasi didapatnya pada pukul 13.30 WIB. Selama masa observasi usai vaksinasi yang berjalan 30 menit, Hindra mengatakan, tidak ada gejala apapun yang muncul. Oleh karenanya, pria tersebut diperbolehkan pulang oleh petugas. Ia pun kembali ke kantornya di Pegadaian Cibubur.
Namun demikian, gejala justru mulai muncul saat dirinya bekerja di kantor.
"Di kantor dia merasa nggak enak badan, jadi oleh pimpinannya diberikan izin untuk pulang, sampai pulang dia demam, menggigil, sakit kepala," tutur Hindra, Senin (10/5).
Ia menyayangkan, karena pria tersebut tak langsung melapor ke nomor telepon yang tertera di kartu vaksinasi. Setelah vaksinasi, petugas akan mencantumkan nomor dokter di atas kartu vaksinasi yang dapat dihubungi apabila merasakan gejala. Alih-alih menghubungi nomor telepon dokter yang tertera dalam kartu vaksinasi, pria tersebut justru langsung berinisiatif berobat ke dokter umum.
"Dia tidak melapor ke tempat vaksin. Kan ada nomor telepon kan di belakang kartu. Dia mau berobat ke dokter di dokter langganan dia berobat. Jadi pertanyaan saya, apakah dia punya penyakit sehingga punya dokter langganan dan kebetulan dokter langganannya tidak praktik. Jadi nggak berobat," jelasnya.
Baca juga : MUI dan Le Minerale Dukung Program Gerakan Sedekah Sampah
Gejala yang dirasakan pemuda itu, lanjut Hindra, tak kunjung membaik hingga malam hari. Demamnya semakin tinggi namun ia tetap tak kunjung berobat lantaran dokter langganan pria asal Jakarta ini sedang tak praktik.
"Tengah malam dia demam, tinggi, nggak berobat juga, kemudian paginya dia merasa pegal, jadi dipijit, yang bersangkutan belum menikah jadi tinggal serumah dengan keluarga. Setelah dipijat itu pingsan dia, lalu dibawa ke RS di Rawamangun, namun ternyata sampai di RS death on arrival," tukasnya.
Sesampainya di RS, denyut nadi pria tersebut sudah tidak ada, hingga dinyatakan meninggal jam 12 siang.
Proses investigasi disebutnya masih berlangsung. Komnas KIPI dan Komda KIPI DKI akan melakukan investigasi dengan dokter yang menangani pria tersebut.
Namun, sejauh investigasi berlangsung, tidak ada laporan pembekuan darah pasca vaksinasi AstraZeneca di pria tersebut. Maka dari itu, belum bisa diputuskan apakah penyebab tewasnya pria bersangkutan adalah vaksin AstraZeneca.
"Untuk mencari keterkaitan kalau demam menggigil itu memang gejala vaksin AstraZeneca, namun tidak menyebabkan kematian, kalau kematian kan blood clot," imbuhnya. (OL-2)
Influenza atau yang lebih akrab dikenal sebagai flu sering kali dianggap remeh sebagai gangguan pernapasan biasa.
Daya tular campak cukup tinggi, mirip dengan covid-19. Seseorang yang terinfeksi dapat menularkan virus selama 4 hari sebelum dan sesudah gejala muncul.
Jemaah haji perlu memahami manfaat kesehatan jangka panjang dari vaksinasi, bukan sekadar memenuhinya sebagai syarat administrasi.
Data Kementerian Agama menunjukkan bahwa lebih dari 22% jemaah haji Indonesia pada 2025 merupakan kelompok lansia, dan mayoritas membawa penyakit komorbid.
Orang yang hidup dengan HIV (ODHA) memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi menular seksual (IMS). Selain berdampak langsung pada kesehatan.
Dalam kondisi hujan, tingkat kelembapan tinggi, dan suhu tinggi, melakukan aktivitas fisik di tempat terbuka meningkatkan peluang terserang penyakit.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved