Rabu 05 Mei 2021, 17:07 WIB

Diasingkan, Ditahan, & Terima Stigma karena jadi Mantan Tapol

mediaindonesia.com | Humaniora
Diasingkan, Ditahan, & Terima Stigma karena jadi Mantan Tapol

DOK PRIBADI

 

KONDISI politik 1965 membuat sebagian orang harus menerima nasib yang kurang beruntung. Jutaan orang ditahan tanpa melewati proses peradilan.

Seperti apa kisah mereka yang pernah merasakan pahitnya sejarah kala itu? Berikut 5 kisah dari para mantan tahanan politik masa itu.

Ditahan bersama ayah
Kadmi adalah salah satu saksi yang mengalami ketidakadilan dari kondisi politik 1965. Karena dianggap memiliki kaitan dengan Partai Komunis, ia dan ayahnya sempat ditahan.

Meski akhirnya dibebaskan, tetapi ia mendapat stigma buruk sebagai mantan tahanan politik. Di mana ia merasa tidak ada lagi orang yang peduli dengannya.

Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, seperti yang tertulis di Tirto.id, adik Kadmi harus menunjukkan surat pembebasan sang ayah sebagai syarat sebelum menjalani ikatan dinas menjadi guru.

Diasingkan di Pulau Buru
Kali ini kisah mantan tahanan politik lain berasal dari seseorang bernama Kodri. Di mana ia juga diduga terkait dengan PKI dan akhirnya harus dibuang ke Pulau Buru.

Sama seperti Kadmi, ia pun mendapat stigma kurang baik sebagai eks tahanan politik. Meski akhirnya bebas dan bisa kembali, tetapi stigma buruh terus menghantuinya. Kisah Kodri pun sempat diangkat menjadi sebuah film fiksi pendek berjudul Buru.

Satu unit pengasingan dengan Pramoedya Ananta Toer
Senasib dengan Kodri, Diro juga mengalami hal yang sama, yaitu dibuang ke Pulau Buru. Kisah pahit sebagai buntut pembuangannya itu masih membekas.

Pasalnya istri dan anak yang saat itu masih di kandungan sang istri meninggal dunia. Istri Diro stres karena ia dibuang ke Pulau Buru. Diro adalah satu dari 500 orang lainnya yang diasingkan saat itu. Diro kebetulan tinggal di unit yang sama dengan Pramoedya Ananta Toer.

Dianggap telah meninggal dunia
Karena masa itu tak sedikit orang yang dituduh terlibat dengan PKI, senasib dengan Diro, ada pula pria bernama Yadiono. Tragisnya Yadiono sudah dianggap meninggal oleh keluarganya.

Baru di 1995 lalu, Yadiono kembali ke kampung halaman untuk menemui keluarganya. Walau sang istri pada kenyataannya telah menikah lagi.

Dari tahanan politik hingga persahabatan seumur hidup

Kisah-kisah di atas juga dialami oleh Kusdalini dan Kaminah. Keduanya dianggap terkait dengan PKI dan ditahan. Setelah dibebaskan, dua sahabat ini hidup bersama melawan stigma buruk dari sekitar.

Kusdalini dan Kaminah sama-sama menjalani hidup meski terus dibayangi masa lalu. Hingga akhir hayat, keduanya tetap akan dikenal sebagai dua orang mantan tahanan politik.

Kehidupan Kusdalini dan Kaminah yang menyentuh diangkat menjadi sebuah film dokumenter berjudul You and I, yang bisa kamu saksikan di www.bioskoponline.com. atau atau lewat aplikasi Bioskop Online, yang bisa diunduh di App Store dan Google Play Store. (RO/OL-10)

Baca Juga

DOK BPJAMSOSTEK

BPJAMSOSTEK Rayakan Lebaran Bersama Relawan Covid di Wisma Atlet

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 13 Mei 2021, 19:45 WIB
Menurut Anggoro, jasa para nakes dan relawan dalam menghadapi masa pandemi Covid-19 ini sungguh luar...
ANTARA

Lebaran di Tengah Pandemi, Silaturahmi Virtual tak Mengapa

👤Astri Novaria 🕔Kamis 13 Mei 2021, 18:54 WIB
Meski tidak dapat kembali ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga dirinya tetap dapat bersilaturahmi bersama keluarga dengan...
Ist

Menaker: Tunda Mudik, Demi Akhiri Pandemi Covid-19

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Kamis 13 Mei 2021, 16:35 WIB
Ida Fauziyah mengingatkan bulan Ramadan 1442 H, yang baru saja dilalui telah mengajarkan umatnya akan pentingnya menahan diri, dan menunda...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Toleransi tak Pernah Putus di Adonara

Bencana membuat masyarakat Adonara semakin rukun. Ramadan lebih mempersatukan mereka.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya