Jumat 16 April 2021, 14:03 WIB

Halal Tourism, Peluang bagi Diaspora Santri Kembangkan Bisnis

Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora
Halal Tourism, Peluang bagi Diaspora Santri Kembangkan Bisnis

Antara
Ilustrasi

 

HALAL tourism dan ekonomi syariah yang diusung pemerintah sejak beberapa tahun belakangan ini, menurut praktisi bisnis dan teknologi, Sitta Rosdaniyah perlu disiapkan lebih jauh lagi. Dengan persiapan diaspora santri yang saat ini mengabdi di berbagai negara.

Menurutnya, para diaspora santri dengan pelbagai latar belakang keilmuan, harus siap mengembangkan bisnis dan teknologi untuk kemaslahatan bersama dan untuk kemajuan bangsa.

"Saya keliling dunia sering tanya apakah ada PCINU kah di sana, maka kita bisa ngopi-ngopi. Maka, penting kiranya kita spread out nilai-nilai Islam kita menjadi nilai perdamaian, karena itu memang menjadi dasar nilai perdamaian universal. Kemudian, di sektor ekonomi, marilah kita menjadi duta di bidang ekonomi. Indonesia ini market besar. Maka, mari para diaspora santri, kita juga menjadi duta di bidang ini," ungkap Sitta, Jumat (16/4).

Sita yang mendapatkan PhD dari Australian National University (ANU) bidang economic public policy ini menilai peran diaspora santri sangat penting untuk menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama, serta menyiapkan peta jalan NU pada abad kedua. Sitta juga mengajak agar para diaspora santri, kelompok santri yang saat ini sedang belajar dan bekerja di berbagai negara, dapat memberi kontribusi dan berkolaborasi bersama.

Sitta mengajak para santri dan generasi milenial untuk memajukan industri halal dan menguatkan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. “Mari kita memajukan industri halal dan keuangan Syariah. Teman-teman diaspora bisa menjadi ujung tombak untuk menguatkan kampanye terkait itu, sekaligus juga memberi influence bagi publik yang luas,” jelasnya.

Selain itu, Sitta Rosdaniah juga menyoroti banyaknya generasi santri yang bergerak di bidang sains, ekonomi dan teknologi. “Ini yang sangat menarik, banyak teman-teman PCINU sekarang sudah masuk di arena ekonomi dan teknologi. Kemudian, setelah di Indonesia banyak yang mengelola halal center ataupun teknologi center, ini kemudian nanti bisa berkolaborasi,” terang Sitta, yang saat ini menjadi mengabdi di Kementrian BUMN, khususnya dalam sektor riset ekonomi dan industri.

Di sisi lain, Sitta menegaskan, diaspora santri dapat menginisiasi industri kreatif Indonesia. “Misalnya, kita sering sekali pergi untuk melakukan halal tourism. Nah, terakhir saya mengikuti halal tourism, untuk napak tilas Abdurrahman—saya pengen mengkaji Gus Dur, jadi ingin mempelajari Abdurrahman itu siapa. Jadi, saya mengikuti halal tourism di Andalusia, di Spanyol, sepak terjang Abdurrahman untuk mengibarkan Islam di Eropa. Itu hal yang luar biasa, dikemas dengan sangat bagus. Nah, itu bisa dijual 40 juta rupiah per orang,” ungkapnya.

“Kenapa kita tidak bisa membuat story telling seperti itu, terkait dengan nilai-nilai Islam di Indonesia, misalnya wali songo, kemudian menjadi story yang ingin dipelajari orang-orang di seluruh dunia. Kita perlu berkolaborasi untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan peluang yang ada. Kita sekarang berada di wilayah digital population,” paparnya, dalam diskusi ‘Membangun Narasi Publik, Menguatkan Diplomasi Perdamaian” yang diselenggarakan PCINU Lintas Negara, yang dihadiri Savic Ali (Direktur NUOnline), Erwin Dariyanto (Redaktur Detik), Munawir Aziz (Sekretaris PCINU United Kingdom), Ahmad Saifuddin Zuhri (PCINU Tiongkok) dan beberapa perwakilan santri dari berbagai negara, beberapa waktu lalu.

Untuk menguatkan peran diaspora santri, Sitta menjelaskan pentingnya jaringan dan data yang komprehensif. “Kita membutuhkan digital database dan networking, sehingga dari situ kita bisa berkolaborasi secara lebih rapi. Nah, kalau sekarang kita sebagai professional aktif di LinkedIn, nah ini para santri perlu membuat jaringan yang di situ kita bisa berkomunikasi secara professional maupun secara informal,” ajaknya.

Lebih dari itu, Sitta menjelaskan bahwa saat ini penting melakukan strategi personal branding bagi para ekspert dari diaspora santri. “Hal penting, kita juga penting untuk membranding ekspert di berbagai bidang dengan identitas Indonesia, Islam damai dan ahlussunnah wal jamaah. Jadi, branding di setiap bidang, ada ahli ekonomi, ahli teknologi, ahli medical science, nah itu akan menjadi legacy bagi kita semua,” terang Sitta.

Saat ini, diaspora santri telah menyebar di lebih dari 40 negara, dengan keahlian yang beragam. Dari teknologi, sains, medis, bisnis hingga keuangan internasional. (OL-13)

Baca Juga: Sandiaga: Salah Mengejar Angka Wisatawan, Harus Kualitas

Baca Juga

Antara

Pemerintah Wajbkan Penumpang Dari Luar Negeri Tes PCR di Bandara

👤Despian Nurhidayat 🕔Minggu 19 September 2021, 09:28 WIB
BANDARA Soekarno-Hatta (Soeta), mewajibkan penumpang dari luar negeri jalani tes PCR mulai hari ini, Minggu...
MI/Ardi T H

UGM Luncurkan Beasiswa Dato Dr. Low Tuck Kwong-PYC

👤Ardi T Hardi 🕔Minggu 19 September 2021, 07:20 WIB
 DARI donasi Dato Dr.Low Tuck Kwong Rp50 miliar sebagai dana Abadi untuk dikelola UGM agar dapat memberikan beasiswa bagi mahasiswa...
Antara

Nilai Literasi Digital Indonesia 3,47 Poin, Ini Artinya

👤Cahya Mulyana 🕔Minggu 19 September 2021, 07:00 WIB
Indonesia mencatatkan nilai literasi digital 3,47 dari skala 1-4 atau...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

AS, Inggris, dan Australia Umumkan Pakta Pertahanan Baru

 Aliansi baru dari tiga kekuatan tersebut tampaknya berusaha untuk melawan Tiongkok dan melawan kekuatan militernya di Indo-Pasifik.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya