Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
HALAL tourism dan ekonomi syariah yang diusung pemerintah sejak beberapa tahun belakangan ini, menurut praktisi bisnis dan teknologi, Sitta Rosdaniyah perlu disiapkan lebih jauh lagi. Dengan persiapan diaspora santri yang saat ini mengabdi di berbagai negara.
Menurutnya, para diaspora santri dengan pelbagai latar belakang keilmuan, harus siap mengembangkan bisnis dan teknologi untuk kemaslahatan bersama dan untuk kemajuan bangsa.
"Saya keliling dunia sering tanya apakah ada PCINU kah di sana, maka kita bisa ngopi-ngopi. Maka, penting kiranya kita spread out nilai-nilai Islam kita menjadi nilai perdamaian, karena itu memang menjadi dasar nilai perdamaian universal. Kemudian, di sektor ekonomi, marilah kita menjadi duta di bidang ekonomi. Indonesia ini market besar. Maka, mari para diaspora santri, kita juga menjadi duta di bidang ini," ungkap Sitta, Jumat (16/4).
Sita yang mendapatkan PhD dari Australian National University (ANU) bidang economic public policy ini menilai peran diaspora santri sangat penting untuk menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama, serta menyiapkan peta jalan NU pada abad kedua. Sitta juga mengajak agar para diaspora santri, kelompok santri yang saat ini sedang belajar dan bekerja di berbagai negara, dapat memberi kontribusi dan berkolaborasi bersama.
Sitta mengajak para santri dan generasi milenial untuk memajukan industri halal dan menguatkan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. “Mari kita memajukan industri halal dan keuangan Syariah. Teman-teman diaspora bisa menjadi ujung tombak untuk menguatkan kampanye terkait itu, sekaligus juga memberi influence bagi publik yang luas,” jelasnya.
Selain itu, Sitta Rosdaniah juga menyoroti banyaknya generasi santri yang bergerak di bidang sains, ekonomi dan teknologi. “Ini yang sangat menarik, banyak teman-teman PCINU sekarang sudah masuk di arena ekonomi dan teknologi. Kemudian, setelah di Indonesia banyak yang mengelola halal center ataupun teknologi center, ini kemudian nanti bisa berkolaborasi,” terang Sitta, yang saat ini menjadi mengabdi di Kementrian BUMN, khususnya dalam sektor riset ekonomi dan industri.
Di sisi lain, Sitta menegaskan, diaspora santri dapat menginisiasi industri kreatif Indonesia. “Misalnya, kita sering sekali pergi untuk melakukan halal tourism. Nah, terakhir saya mengikuti halal tourism, untuk napak tilas Abdurrahman—saya pengen mengkaji Gus Dur, jadi ingin mempelajari Abdurrahman itu siapa. Jadi, saya mengikuti halal tourism di Andalusia, di Spanyol, sepak terjang Abdurrahman untuk mengibarkan Islam di Eropa. Itu hal yang luar biasa, dikemas dengan sangat bagus. Nah, itu bisa dijual 40 juta rupiah per orang,” ungkapnya.
“Kenapa kita tidak bisa membuat story telling seperti itu, terkait dengan nilai-nilai Islam di Indonesia, misalnya wali songo, kemudian menjadi story yang ingin dipelajari orang-orang di seluruh dunia. Kita perlu berkolaborasi untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan peluang yang ada. Kita sekarang berada di wilayah digital population,” paparnya, dalam diskusi ‘Membangun Narasi Publik, Menguatkan Diplomasi Perdamaian” yang diselenggarakan PCINU Lintas Negara, yang dihadiri Savic Ali (Direktur NUOnline), Erwin Dariyanto (Redaktur Detik), Munawir Aziz (Sekretaris PCINU United Kingdom), Ahmad Saifuddin Zuhri (PCINU Tiongkok) dan beberapa perwakilan santri dari berbagai negara, beberapa waktu lalu.
Untuk menguatkan peran diaspora santri, Sitta menjelaskan pentingnya jaringan dan data yang komprehensif. “Kita membutuhkan digital database dan networking, sehingga dari situ kita bisa berkolaborasi secara lebih rapi. Nah, kalau sekarang kita sebagai professional aktif di LinkedIn, nah ini para santri perlu membuat jaringan yang di situ kita bisa berkomunikasi secara professional maupun secara informal,” ajaknya.
Lebih dari itu, Sitta menjelaskan bahwa saat ini penting melakukan strategi personal branding bagi para ekspert dari diaspora santri. “Hal penting, kita juga penting untuk membranding ekspert di berbagai bidang dengan identitas Indonesia, Islam damai dan ahlussunnah wal jamaah. Jadi, branding di setiap bidang, ada ahli ekonomi, ahli teknologi, ahli medical science, nah itu akan menjadi legacy bagi kita semua,” terang Sitta.
Saat ini, diaspora santri telah menyebar di lebih dari 40 negara, dengan keahlian yang beragam. Dari teknologi, sains, medis, bisnis hingga keuangan internasional. (OL-13)
Baca Juga: Sandiaga: Salah Mengejar Angka Wisatawan, Harus Kualitas
Menlu RI Sugiono menegaskan komitmen Indonesia-Turki memperkuat kerja sama industri, produk halal, dan pertanian saat bertemu Presiden Erdogan di Istanbul.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mempertegas komitmennya dalam mendukung daya saing pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) sektor perikanan melalui penguatan ekosistem halal.
Tujuan utama dari kesepakatan ini adalah membangun sinergi yang kuat, harmonisasi program, dan kolaborasi yang efektif dalam melaksanakan sosialisasi, edukasi, dan promosi bidang JPH.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk halal, kehalalan kini tak lagi sekadar syarat, melainkan menjadi simbol kualitas, keamanan, dan tanggung jawab moral.
produk-produk halal memiliki potensi besar untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di kancah global.
Ia menjelaskan, secara global, halal sudah menarik bukan di negara muslim saja, tapi sudah menyasar ke negara non muslim seperti Tiongkok, Jepang, Rusia bahkan negara-negara Eropa
Janice Tjen cetak sejarah di Australian Open 2026 usai tumbangkan Leylah Fernandez. Dukungan diaspora Indonesia di ANZ Arena jadi pemicu mental.
Perhatian Presiden terhadap dunia pendidikan menjadi suntikan semangat bagi dirinya dan rekan-rekan sesama mahasiswa.
Ketiga pemain tersebut akan dinilai berdasarkan kemampuan mereka selama sesi latihan.
Warga Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), di Ibu Kota berkumpul di Wisma NTB di Menteng, Jakarta Pusat, menggelar kegiatan untuk melawan ancaman peredaran narkotika.
Terdapat sekitar 30 warga Indonesia di Taiwan yang terdiri dari pekerja migran Indonesia dan mereka yang menempuh pendidikan lanjut yang menikmati layanan ini.
Kemenlu juga berencana meluncurkan platform Satu Data Diaspora.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved