Rabu 07 April 2021, 22:23 WIB

Mitigasi Bencana Selalu Jadi Kelemahan

Thomas Harming Suwarta | Humaniora
Mitigasi Bencana Selalu Jadi Kelemahan

Antara
Banjir di NTT

 

ANGGOTA Komisi VIII DPR RI, Samsu Niang, meminta keseriusan pemerintah dan pihak terkait penanganan bencana untuk mementingkan mitigasi bencana sebagai prioritas utama. 

Bencana yang datang seperti menimpa Nusa Tenggara Timur, sebenarnya sudah masuk dalam peta bencana nasional yang disusun oleh Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB). 

Namun, implementasi kebijakan masing-masing daerah terhadap peta bencana masih sebatas di atas kertas. Peta bencana belum sungguh-sungguh dijadikan arahan untuk menyusun mitigasi bencana.

“Kita sudah punya peta. Bahkan indeks resiko bencana pun sudah disusun. Tapi itu akan menjadi sia-sia dan terulang terus bencana dengan korban banyak, karena tidak diikuti keseriusan dan kecepatan pemerintah daerah untuk melakukan mitigasi dari pencegahan sampai penanggulangan. Padahal akan adanya bencana itu kan sudah bisa diprediksi sebelumnya,” kata Samsu menanggapi banyaknya korban meninggal dunia dalam bencana Nusa Tenggara Timur yang merenggut lebih dari 100 warga di 10 kabupaten kepada wartawan di Jakarta, Rabu (7/4)

Dijelaskan dia, berdasarkan indeks resiko bencana Indonesia yang disusun BNPB dari 10 wilayah yang terkena musibah Topan Tropis Seroja, hanya satu yang beresiko sedang yakni Kabupaten Sumba Barat. Sehingga sembilan wilayah lainnya yang masuk resiko bencana tingkat tinggi seharusnya sudah menjadi prioritas kewaspadaan pemerintah daerah setempat.

Samsu memaparkan mitigasi meliputi dua komponen yaitu bahaya atau hazards yakni fenomena alam atau buatan manusia yang merusak lingkungan hidup dan kerentanan atau vulnerability yakni satu keadaan masyarakat yang mengarah pada ketidakmampuan menghadapi suatu ancaman bahaya. 

"Mitigasi itu harus diperkuat, karena suatu bencana sebenarnya sudah bisa diprediksi walau tidak tahu kapan datangnya. Kita bisa melakukan persiapan mitigasinya. Kelemahan mendasar dari kita selalu pemerintah daerah yang lemah melakukan mitigasi,” ujarnya.

Samsu mengatakan meskipun pandemi Covid-19, bencana alam jangan dilupakan karena akan eksis selalu menjadi ancaman. 

“Peta bencana pada dasarnya sudah dibuka oleh BNPD. Tapi lagi-lagi daerah tidak agresif melakukan komunikasi dengan BNPB dan BPBD karena mereka tidak menjadikan bencana sebagai prioritas daerah masing-masing.” tandasnya.

Ke depan, Samsu meminta supaya mitigasi dan update peta resiko bencana menjadi titik serius yang diprioritaskan dalam penganggaran. (OL-8)

Baca Juga

Thinkstock

Studi: Minyak Kelapa Matikan Virus dan Cegah Covid-19 Memburuk

👤Zubaedah Hanum 🕔Senin 19 April 2021, 09:05 WIB
Dari hasil pilot studi yang dilakukan di empat rumah sakit di Yogyakarta, peneliti menemukan bahwa minyak kelapa murni (VCO) efektif...
Ilustrasi

Pulau Baru Muncul di NTT Pasca-Badai Seroja, LIPI: Perlu Diteliti

👤Faustinus Nua 🕔Senin 19 April 2021, 08:41 WIB
Sangat perlu diteliti. Apakah benar pulau itu terbentuk pascasiklon atau terbentuk bersamaan dengan terjadinya...
Antara

Dua Pekan Badai Seroja, PLN Berhasil Bangun Menara Darurat di NTT

👤Insi Nantika Jelita 🕔Senin 19 April 2021, 08:15 WIB
Dua menara Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) bertegangan 70 kilo Volt (kV) yang patah dan roboh akibat diterjang Badai Siklon Tropis...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Jalan Tol dan PKT untuk Ekonomi yang Lebih Baik

Pembangunan jalan tol sejatinya berpengaruh terhadap roda perekonomian bahkan sejak mulai tahap perencanaan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya