Jumat 22 Januari 2021, 20:04 WIB

Hilirisasi jadi Tantangan Terbesar Pengembangan Vaksin Merah Putih

Atalya Puspa | Humaniora
Hilirisasi jadi Tantangan Terbesar Pengembangan Vaksin Merah Putih

Antara/Dhemas Reviyanto
Penelitian vaksin merah-putih

 

KETUA Tim Pengembang Vaksin Merah Putih Universitas Indonesia Budiman Bela mengungkapkan, salah satu tantangan yang dihadapi dalam pengembangan vaksin nasional yakni masalah hilirisasi. Ia menyebut, perusahaan farmasi di Indonesia belum semua memiliki kapasitas untuk memproduksi vaksin dalam berbagai platform. 

"Tantangannya saat ini industri famasi belum berpengalaman dalam produksi vaksin DNA dan RNA. Pengetahuan dan cara produksi vaksin oleh mamalia sudah dimiliki oleh dua industri vaksin seperti PT Bio Farma dan PT Ethana. Sementara peralatan produksi vaksin belum sepenuhnya tersedia di Indonesia," kata Budi dalam webinar Tantangan dan Kebijakan Pengembangan Vaksin Merah Putih untuk Percepatan Penanganan Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan secara virtual, Jumat (22/1). 

Untuk itu, Budi menyatakan, sejalan dengan penelitian yang masih berproses, pihaknya pun gencar mencari industri farmasi yang berminat untuk melakukan investasi dalam produksi Vaksin Merah Putih. 

"Kita telah dilakukan pertemuan dengan perusahaan yang memiliki peralatan dan bahan yang memiliki peralatan dan bahan produksi vakasin yang akan dikembangkan," imbuhnya. 

Pada kesempatan yang sama, Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, pihaknya mendorong perusahaan yang bergerak di bidang industri farmasi untuk turut andil dalam percepatan penelitian Vaksin Merah Putih. 

Baca juga : Pengusaha Berharap Suplai Vaksin Mandiri juga dari Pemerintah

"Kalau hanya mengandalkan PT Bio Farma, akhir tahun ini kita hanya bisa produksi 250 juta dosis. Padahal kita minimal butuh 360 juta dosis. Sehingga kita harus impor," ujar Bambang 

"Ke depan, kita tidak boleh bergantung pada impor. Kita dorong peran perusahaan lain selain PT BiO Fama. Saya sudah minta kepada BUMN untuk mengajak perusahaan farmasi untuk bersama-sama memenuhi kebutuhan vaksin di Indonesia. Itu tantangan yang kita upayakan bisa kita selesaikan tahun ini," pungkasnya. 

Seperti diketahui Universitas Indonesia menjadi salah satu perguruan tinggi yang turut mengembangkan baksin merah putih. Adapun, UI sendiri mengembangkan vaksin covid-19 dari empat platform, yakni DNA, RNA, protein rekombinan subunit dan virus like particles. 

Dari keempat platform tersebut, vaksin yang berbasis platform DNA saat ini sudah masuh tahap uji imunitas pada hewan. Sementara itu, tiga platform lainnya masih berada pada tahap perancangan dan konstruksi DNA rekombinan. (OL-7)

Baca Juga

elgalabwater.com

Antisipasi Varian Varu Beberapa Perusahaan Modifikasi Vaksin

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 05 Maret 2021, 20:00 WIB
Mutasi merupakan upaya virus agar mampu bertahan hidup di lingkungannya, dan proses mutasi bersifat...
(ANTARA/HO)

Tokoh Muda NU Ajak Para Tokoh Moderat Buat Konten Anti-Radikalisme

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 05 Maret 2021, 19:54 WIB
Dr.Adnan Anwar mengharapkan para tokoh Islam moderat tampil di media sosial memberikan pemahaman dan mengikis propaganda kelompok...
dw.com

Virus Korona B117 Menularkan Dua Kali Lebih Cepat

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 05 Maret 2021, 18:45 WIB
Varian B117 memperlihatkan karakteristik hilangnya gen 69 dan 70 yang membuat virus baru itu mempunyai kemampuan replikasi dan penularan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya