Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida menyebut, karakter erupsi Gunung Merapi memiliki kemiripan dengan Gunung Semeru.
Namun, perbedaannya, kubah lava sudah terbentuk di Gunung Semeru sebelum erupsi, sedangkan kubah lava Gunung Merapi sampai saat ini belum muncul.
"Sebenarnya, ada kemiripan juga antara Semeru dengan Merapi. Sampai saat ini, kita melihat, satu lagi potensi Merapi yang belum muncul adalah kubah lava," terang Hanik, Jumat (4/12) sore, saat konferensi pers lewat daring.
Baca juga: IDI: 192 Dokter Meninggal Akibat Covid-19
Ia menyebut, salah satu ciri akan munculnya awan panas kalau sudah munculnya kubah lava. Namun, awan panas juga bisa muncul saat terjadi erupsi eksplosif dan apabila sudah ada magma di permukaan.
Hanik menyebut, kemungkinan erupsi sewaktu-waktu juga bisa terjadi terjadi di Gunung Merapi. Untuk itu, ia pun telah mengeluarkan rekomendasi, jarak aman maksimun adalah 5 kilometer dari puncak Merapi.
Hanik menyampaikan, data morfologi Gunung Merapi saat ini dari sisi Barat terjadi perubahan, terutama di kawah 48 dan 88. Perubahan morfologi tersebut disebabkan runtuhan dan guguran yang terjadi.
"Dari data morfologi dari satelit, terjadi pengangkatan permukaan kawah dan banyak rekahan-rekahan di kawah dan ada beberapa di tebing. Dari minggu kemarin, sifatnya melebar," terang dia. Namun, sampai saat ini, belum teramati material baru atau kubah lava baru yang ada di puncak kawah.
Ia menyebut, guguran-guguran yang terjadi banyak yang mengarah ke Kali Senowo, Lamat, dan Gendol. Guguran maksimum sampai saat ini berjarak 3 kilometer ke Kali Lamat.
Baca juga: 33 Pelaku Terima Anugerah Kebudayaan Kemendikbud
"Kesimpulannya, aktivitas vulkanis saat ini, baik seismitas maupun deformasinya masih tinggi, aktivitas guguran meningkat, serta berkembangnya rekahan-rekahan yang ada di puncak, dan gas CO2 juga mengalami peningkatan," terang dia.
Indikasi tersebut menunjukkan, proses desakan magma menuju menuju permukaan terjadi secara intens. Wilayah Barat-Barat Laut berpotensi terancam bahaya erupsi.
Ia mengingatkan kembali kepada seluruh pihak, aktivitas Merapi saat ini masih tinggi. Penambangan pasir di Gunung Merapi pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) III sementara waktu direkomendasikan untuk dihentikan. Selain itu, pelaku wisata diminta tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III.
"Masyarakat di KRB III supaya mengamankan surat-surat penting dan juga mengamanjan harta bergerak," pesan dia. (H-3)
Peralatan pemantau aktivitas Gunung Merapi mencatat lonjakan kegempaan selama periode Jumat (9/1) hingga Kamis (15/1), dengan total 1.277 kejadian gempa.
Jarak luncur ke-8 kali awan panas guguran itu maksimum 1.500 meter dari puncak dan mengarah ke barat daya atau mengarah ke hulu Kali Krasak, Bebeng dan Sat/Putih.
BPPTKG Yogyakarta melihat adanya sedikit perubahan morfologi pada kubah barat daya Gunung Merapi, akibat perubahan volume kubah dan aktivitas guguran lava.
BPPTKG Yogyakarta menyatakan luncuran awan panas guguran maupun lava Gunung Merapi, masih dalam jarak aman dari permukiman maupun destinasi wisata di lereng gunung itu.
BADAN Geologi ESDM menyebut dari sekitar 500 gunung api di Indonesia, pertengahan Desember ini sebanyak 3 gunung berstatus siaga, 24 waspada, dan total 127 gunung api berstatus aktif.
"Jadi memang wajar (terjadi guguran) ketika musim hujan di bulan November, Desember (2025), kemudian puncaknya nanti Januari, Februari (2026) itu intensitas guguran akan sedikit meningkat,"
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mengungkap runtuhnya sebagian volume kubah lava Barat Daya di puncak Gunung Merapi.
Senin (22/7) pukul 04.04 WIB, BPPTKG Yogyakarta melaporkan terjadinya awan panas guguran dari Gunung Merapi.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi mencatat terjadinya 176 kali guguran lava Gunung Merapi dalam periode 3-9 Mei.
BPPTPG Yogyakarta selama sepekan ini mencatat terjadi 160 kali luncuran lava pijar dari Gunung Merapi ke arah barat daya.
BPPTKG Yogyakarta mencatat sejak Kamis (16/3) pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB terjadi 11 kali guguran lava pijar dari Gunung Merapi dengan jarak luncur 1.200 meter ke arah barat daya.
Pada pengamatan Jumat (18/11) pukul 00.00-24.00 WIB, Gunung Merapi juga mengalami 29 kali gempa guguran dan dua kali gempa fase banyak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved