Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
HASIL pengamatan selama seminggu dari hari Jumat (31/10) hingga Kamis (6/11), Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mengungkap runtuhnya sebagian volume kubah lava Barat Daya di puncak Gunung Merapi.
Kepala BPPTKG Yogyakarta Agus Budi Santosa dalam keterangan tertulisnya, Jumat malam menyebutkan analisis foto udara menggunakan drone pada 30 Oktober, volume Kubah Barat Daya berkurang sekitar 106.200 meter kubik menjadi sebesar 4.308.700 meter kubik.
Sedangkan untuk Kubah Tengah, volume tidak dapat diukur karena sebagian areanya tertutup asap. Catatan survei drone pada periode sebelumnya, volume Kubah Tengah terukur sebesar 2.368.800 meter kubik.
Ia juga mengatakan, terjadi sedikitkenaikan suhu pada kedua kubah lava Merapi tersebut. "Hasil analisis foto termal menunjukkan sedikit kenaikan suhu pada Kubah Barat Daya dan Kubah Tengah. Bila dibandingkan dengan hasil pengukuran sebelumnya, suhu Kubah Barat Daya terukur naik 1,7 derajat Celsius menjadi 249,3 derajat Celsius, sedangkan suhu Kubah Tengah naik 1,2 derajat Celsius menjadi 219,8 derajat Celsius," jelasnya.
Aktivitas vulkanik lainnya, katanya tercatat adanya 9 kali gempa Awan Panas Guguran (APG), 6 gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 435 gempa Fase Banyak (MP), 1 gempa Low Frequency (LF), 747 gempa Guguran (RF) dan 9 gempa Tektonik (TT) yang terekam oleh jaringan seismik yang terpasang di Gunung Merapi dan sekitarnya.
"Intensitas kegempaan pada periode pengamatan ini lebih rendah dibandingkan dengan intensitas kegempaan pada minggu sebelumnya," ujarnya.
Sementara jarak tunjam EDM (Electronic Distance Measurement) di sektor barat laut dari titik tetap BAB0 ke reflektor RB2 terukur pada kisaran 3.840,464 meter hingga 3.840,470 meter. Sementara, data baseline GPS Labuhan – Jrakah terukur pada kisaran 7.108,13 meter hingga 7.108,14 meter. Deformasi Gunung Merapi yang dipantau dengan menggunakan EDM dan GPS pada periode pengamatan ini tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan.
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, katanya maka disimpulkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif dan status aktivitas ditetapkan dalam tingkat Siaga.
"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," katanya.
Agus menyebutkan teramati pula guguran lava sebanyak 2 kali ke arah hulu Sungai Boyong sejauh maksimum 1.900 meter, 51 kali ke arah hulu Sungai Krasak sejauh maksimum 2.000 meter, 12 kali ke arah hulu Sungai Bebeng sejauh maksimum 1.900 meter dan 38 kali ke arah hulu Kali Sat/Putih sejauh maksimum 2.000 meter.
"Secara umum dalam seminggu tersebut cuaca di sekitar Gunung Merapi cerah pada pagi dan malam hari, sedangkan siang hingga sore hari berkabut," jelasnya.
Pada minggu ini, katanya terjadi hujan di sekitar Pos Pengamatan Gunung Merapi dengan intensitas curah hujan tertinggi terjadi pada tanggal 31 Oktober 2025, tercatat di Pos Kaliurang sebesar 31,25 milimeter/jam selama 95 menit. Namun tidak dilaporkan adanya penambahan aliran maupun lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Sepanjang periode pengamatan, lanjutnya Gunung Merapi mengeluarkan asap berwarna putih, ketebalan tipis hingga tebal, bertekanan lemah, dan dengan tinggi asap bervariasi dari 15 meter hingga 300 meter.
Dikatakan potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol 5 kilometer. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
BPPTKG Yogyakarta mengimbau masyarakat agar melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya dan mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi. (H-3)
Senin (22/7) pukul 04.04 WIB, BPPTKG Yogyakarta melaporkan terjadinya awan panas guguran dari Gunung Merapi.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi mencatat terjadinya 176 kali guguran lava Gunung Merapi dalam periode 3-9 Mei.
BPPTPG Yogyakarta selama sepekan ini mencatat terjadi 160 kali luncuran lava pijar dari Gunung Merapi ke arah barat daya.
BPPTKG Yogyakarta mencatat sejak Kamis (16/3) pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB terjadi 11 kali guguran lava pijar dari Gunung Merapi dengan jarak luncur 1.200 meter ke arah barat daya.
Pada pengamatan Jumat (18/11) pukul 00.00-24.00 WIB, Gunung Merapi juga mengalami 29 kali gempa guguran dan dua kali gempa fase banyak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved