Kamis 03 Desember 2020, 10:00 WIB

Ini 6 Rekomendasi IDAI bagi Orang Tua untuk Sekolah Tatap Muka

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Ini 6 Rekomendasi IDAI bagi Orang Tua untuk Sekolah Tatap Muka

ANTARA/AMPELSA
Guru mengajar pada hari pertama masuk sekolah di SDN Garot, Desa Ketapang, Kecamatan Darui Imarah, Kabapaten Aceh Besar, Rabu (23/9).

 

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Aman B Pulungan mengatakan pelaksanaan kegiatan belajar dari rumah merupakan hal yang sulit namun sangat perlu diterapkan, mengingat saat ini jumlah kasus konfirmasi covid-19 di Indonesia masih terus meningkat. Bahkan, satu dari sembilan kasus konfirmasi covid-19 di Indonesia adalah anak usia 0-18 tahun.

Per 29 November 2020, proporsi kematian anak akibat covid-19 dibanding seluruh kasus kematian di Indonesia sebesar 3,2%. Ini adalah angka tertinggi di Asia Pasifik. Selain itu, anak yang tidak bergejala atau bergejala ringan dapat menjadi sumber penularan kepada orang di sekitarnya.

"Bukti-bukti menunjukkan bahwa anak juga dapat mengalami gejala covid-19 yang berat dan mengalami suatu penyakit peradangan hebat yang diakibatkan infeksi covid-19 yang ringan yang dialami sebelumnya," kata dokter Aman dalam keterangan resmi, beberapa waktu lalu.

Bagi orang tua yang mempertimbangkan persetujuan kegiatan pembelajaran tatap muka dalam masa pandemi, IDAI memberikan pertimbangan sebagai berikut:

  1. Sebaiknya tetap mendukung kegiatan belajar dari rumah, baik sebagian maupun sepenuhnya.
  2. Pertimbangkan apakah partisipasi anak dalam kegiatan tatap muka lebih bermanfaat atau justru meningkatkan risiko penularan dari hal-hal berikut:

    • Apakah anak sudah mampu melaksanakan kebiasaan cuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak dengan memadai?

    • Apakah anak masih sangat memerlukan pendampingan orangtua saat sekolah? Bila masih, maka sebaiknya anak masih di rumah dulu saja?

    • Apakah anak memiliki kondisi komorbid yang dapat meningkatkan risiko sakit parah apabila tertular covid- 19? Bila ada, sebaiknya anak belajar dari rumah.

    • Adakah kelompok lanjut usia dan risiko tinggi di rumah yang mungkin tertular apabila banyak anggota keluarga yang beraktivitas di luar rumah?

  3. Periksa apakah sekolah sudah memenuhi standar protokol kesehatan yang berlaku.
  4. Apabila akan menyetujui partisipasi anak dalam kegiatan belajar tatap muka, persiapkan pula kebutuhan penunjangnya, seperti rencana transportasi, bekal makanan dan air minum, masker, pembersih tangan, serta persiapan tindak lanjut apabila mendapat kabar dari sekolah bahwa anak sakit (di antaranya fasilitas kesehatan yang akan dituju untuk perawatan selanjutnya, asuransi kesehatan, dll).
  5. Ajarkan anak untuk mengenali tanda dan gejala awal sakit, serta untuk melapor kepada guru apabila diri sendiri atau teman sepertinya ada tanda dan gejala sakit.
  6. Ajarkan anak untuk berganti baju, mandi, dan membersihkan perlengkapannya setiap pulang dari sekolah, sebagaimana orang dewasa yang beraktivitas di luar rumah.(H-3)

Baca Juga

Ilustrasi

Waspada, Saat ini Sudah Ada 556 Klaster Keluarga di DKI

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Senin 25 Januari 2021, 13:50 WIB
Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan klaster perkantoran yang mencapai 312 klaster. Sejumlah klaster ini terjadi sebagai dampak dari...
Dok.MI/Seno

Intoleransi oleh Sekolah di Sumbar, PGRI: Tanamkan Pancasila

👤Syarief Oebaidillah 🕔Senin 25 Januari 2021, 13:41 WIB
PGRI juga menghimbau guru-guru di seluruh Indonesia mengembangkan praktik-praktik pendidikan yang sesuai nilai-nilai...
Ilustrasi

Presiden Pasang Target Ambisius Terkait Penanganan Stunting

👤Andhika Prasetyo 🕔Senin 25 Januari 2021, 13:40 WIB
Menko PMK Muhadji Effendy mengaku bersama seluruh kementerian/lembaga terkait telah menyiapkan langkah-langkah luar biasa untuk mewujudkan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya