Selasa 01 Desember 2020, 07:10 WIB

Tekan Angka AIDS, Pendidikan Seksual Sejak Dini Diperlukan

Suryani Wandari | Humaniora
Tekan Angka AIDS, Pendidikan Seksual Sejak Dini Diperlukan

AFP/PRAKASH MATHEMA
Seorang relawan menyalakan lilin pita merah selama acara peringatan Hari AIDS Internasional di Kathmandu, Nepal Senin (30/11).

 

HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan penyakit yang disebabkan oleh melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia akibat diserang oleh virus.

Infeksi menular seksual (IMS) merupakan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual tidak aman juga dengan bergonta-ganti pasangan. IMS dinilai menjadi pemicu HIV atau AIDS paling umum saat ini.

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin RS Universitas Indonesia (RSUI) dr Hanny Nilasari SpKK, dalam peringatan Hari AIDS Sedunia yang diperingati tanggal 1 Desember, World Health Organization (WHO) memiliki tiga visi di tahun 2030.

Baca juga:Sekolah Tatap Muka Berisiko

"Visi WHO di tahun 2030 yaki tidak ada infeksi baru, tak ada kematian disebabkan penyakit menular secara seksual dan tidak ada diskriminasi di seluruh dunia," kata Hanny dalam puncak acara Hari AIDS yang disiarkan dalam webinar, Senin (30/11).

Ia menambahkan, IMS seperti herpes, sifilis, kutil kelamin atau jenis IMS lainnya membuat virus HIV lebih mudah masuk. Target global kini menurunkan 90% kasus T.Pallidum, 90% penurunan kasus N.Gonorrhoeae secara global, kurang dari 50 kasuus sifilis congenitalpe 100 ribu kelahiran di 80% negara di seluruh dunia.

Sementara di Indonesia mempertahankan 90% cakupan nasional dan setidaknya 80% di semua distrik dengan vaksin HPV di dalam program imunisasi nasional.

Hanny melanjutkan, dalam data Laporan TW III 2020 Kaskade PIMS pada Januari hingga September 2020, terdapat pasien yang berkunjung ke layananan IMS ada 949.963 orang,  53.208 pasien IMS ditemukan sementara 47.132 pasien IMS diobati.

Sementara itu Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Prof. dr. Sjaiful Fahmi Daili, Sp.KK-K, mengatakan agar target penurunan AIDS tercapai, perlu adanya pendidikan seksual dengan cara memberi bimbingan yang berhubungan dengan jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan dengan saling engasihi dan rasa tanggung jawab.

"Pendidikan seksual ini bisa dilakukan sejak masa kanak-kanak hingga dewasa," kata Sjaiful. Hal itu mengingat masa remaja berlangsung perubahan biologi dan psikologi yang mana juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosial enonomi yang ditandai dengan perubajam tingkah laku.

Menurutnya, pendidikan seksual menjadi usaha preventif pada remaja agar melakukan hubungan seks pada waktu yang tepat dengan rasa tanggung jawab. Pendidikan seksual ini pun bukan hanya berisi pengenalan organ genital saja. Bukan juga cara berhubungan seksual atau segi kuratif IMS melainkan dengan memperhatikan faktor sosial, budaya dan agama.

Sjaiful pun menyarankan orang tua menanganinya dengan bijak sebagaimana anak-anak sering memberi pertanyaan. "Pahami arti pertanyaan si anak, beri jawaban yang mudah dicerna," kata Sjaiful. Ia pun menjelaskan orangtua harus memikirkan arti pertanyaan. Tetapi harus beriinformasu yang jelas dan jangan setengah-setengah. (H-3)

Baca Juga

MI/ Abdillah m Marzuqi

YAICI dan PP Aisyiyah Edukasi Pangan Bergizi di Bantargebang

👤Abdillah M Marzuqi 🕔Minggu 23 Januari 2022, 23:35 WIB
Selain edukasi, juga ada demo pengolahan pangan bergizi dan...
MI/ Depi Gunawan

Bima Arya: Lonjakan Kasus Covid-19 di Bogor Sudah Dipredikai

👤Ant 🕔Minggu 23 Januari 2022, 23:17 WIB
Bima menyatakan pihaknya sudah melakukan semua hal yang bisa dilakukan sebagai langkah...
Dok Setwapres

Wapres Borong Hasil Laut di Pulau Cangkir

👤Ant 🕔Minggu 23 Januari 2022, 22:50 WIB
Beberapa hasil laut yang dibeli Wapres antara lain bandeng, kakap merah, cumi-cumi dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya