Kamis 26 November 2020, 06:15 WIB

Menanamkan Kepedulian Siswa saat Pandemi

Gana Buana | Humaniora
Menanamkan Kepedulian Siswa saat Pandemi

ANTARA FOTO/FAUZAN
Sejumlah siswa mengikuti lomba membuat mural sosialisasi pentingnya memutus mata rantai penyebaran virus covid-19 di Tangerang, Banten.

 

Di masa pandemi covid-19 sekarang ini, keseharian siswa ikut berubah. Mereka tidak lagi sesering biasanya berinteraksi bersama dengan teman sebayanya. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat mereka berhenti peduli antar sesama.

Pengamat sosial Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati menyampaikan berbicara soal siswa tentunya tidak terlepas dari rentang usia sekolah. Tentunya, di masa rentang usia seperti itu mereka cenderung melakukan fotokopi perilaku orang tua.

“Pandangan orang tua, perilaku orang tua tentu punya peran yang cukup besar bagi para siswa. Apabila mereka menunjukkan rasa empati pada korban covid-19, mengajarkan protokol kesehatan di era new normal tentu mereka akan mencontoh,” jelas Devie kepada Media Indonesia, akhir pekan lalu.

Adapun bila usia pelajar masuk ke dalam usia remaja, mereka akan lebih jauh mendengarkan temannya atau siapa pun yang layak mereka kagumi. Misalnya influencer. Sehingga yang berperan menanamkan sikap empati atau kepedulian di masa pandemi bagi para remaja lebih banyak dilakukan oleh para influencer.

“Kalau dibilang generasi millenial atau gen Z enggak peduli, itu salah besar. Bahkan mereka itu jauh lebih di depan, lebih peduli dan lebih sensitif terhadap fenomena sosial, kepedulian mereka bahkan lebih luas,” jelas Devie.

Guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan menerangkan bentuk kepedulian siswa selama masa pandemi tentu tidak harus peduli terhadap teman satu kelas. Namun, kepedulian di masa pandemi saat ini dicerminkan dari kepedulian pada lingkungan sekitar.

“Tentu kepedulian saat ini yang dimaksud bukan harus satu kelas, tapi kepedulian pada lingkungan sekitar, bagaimana mereka berperan mengedukasi masyarakat dengan membagikan masker, agar masyarakat sadar akan pentingnya memakai masker di masa seperti saat ini,” ungkap Cecep kepada Media Indonesia.

Cecep mengatakan, edukasi kepada masyarakat saat ini amat beragam. Mulai dari menyebarkan poster terkait 3M (Mencuci tangan, Memakai Masker, dan Menjaga Jarak), hingga mengumpulkan donasi untuk disalurkan kepada mereka yang terkena dampak pandemi.

Selain itu, lanjut dia, kolaborasi pembinaan siswa antara guru dan orang tua harus ideal. Sehingga bagaimana cara menanamkan pendidikan karakter kepada siswa bisa terus berlanjut meski di masa pandemi.

“Bisa dengan dibuatkan catatan harian dari orang tua apa saja yang dikerjakan siswa di rumah hari ini dan dilaporkan pada guru sehingga tetap ada penilaian dari pihak sekolah,” jelas dia.

Menurut Cecep, memang butuh kreatifitas pembelajaran dari para guru agar di masa pandemi seperti saat ini belajar tidak membuat peserta didik jenuh.


Dukungan moral

Arumi, salah satu orang tua murid di wilayah Bekasi, Jawa Barat, mengaku memiliki beberapa cara agar anaknya tetap peduli sesama di masa pandemi saat ini, terutama bagi mereka yang terdampak pandemi covid-19.

Bahkan, dirinya selalu menanamkan kepada anak-anaknya agar tidak menjauhi penderita covid-19, tetapi sebaliknya ikut mendukung pasien dengan dukungan moril tetapi tetap menjalankan protokoler kesehatan covid-19 secara ketat.

“Kan ada masa ketika kita tuh justru takut dan khawatir tertular penderita covid-19, padahal mereka yang statusnya OTG (orang tanpa gejala) atau lainnya itu sangat membutuhkan bantuan kita, terutama dalam memberikan dukungan moral,” jelas dia.

Ia lantas membagikan cara bagaimana agar mengajarkan anak tetap peduli kepada sesama dimasa pandemi covid-19. Pertama, menyediakan waktu luang bersama untuk mendoakan pihak-pihak yang kesulitan. Kedua, mengajak anak-anak untuk menyiapkan sembako bagi mereka yang kurang mampu.

“Sebab di masa sekarang banyak warga yang kesulitan mendapatkan bahan pokok untuk kehidupan sehari-hari akibat akses yang sulit ke pasar atau supermarket, bahanbahan pokok yang sudah habis, atau kekurangan biaya. Engga harus mewah tetapi yang penting adalah niat dan keikhlasannya,” jelas dia.

Ketiga, memberikan pemahaman soal pentingnya rasa bersyukur terhadap kondisi sekarang. Keempat, mengajarkan anak-anak agar lebih sabar menjalani aktifitas menjaga jarak selama pandemi.

Menurut Rumi, penerapan pembatasan jarak dengan orang lain atau social distancing menyebabkan setiap orang melakukan lebih banyak kegiatan di rumah saja. Seperti bekerja, bersekolah, dan beribadah dari rumah.

“Rutinitas baru ini terkadang membuat anak menjadi lebih mudah bosan karena anak lebih sering menghabiskan waktu di sekolah dan bermain di luar rumah. Namun dengan kondisi seperti ini, ajarkan anak untuk lebih sabar di rumah,” tandas dia.

Di sisi lain, tambah Rumi, ketidakpedulian menjadi salah satu alasan mengapa jumlah penderita covid-19 terus bertambah. Pandemi covid-19 itu memaksa kita sebagai manusia untuk menemukan cara baru dalam menyeimbangkan kondisi pembatasan sosial dan memunculkan kepedulian kepada sesama manusia lainnya.

Saat ini adalah masa ketika bentuk kepedulian itu dapat dilakukan dengan sederhana. Bahkan hal ini adalah yang pertama dalam kehidupan untuk tetap tinggal di rumah sebagai suatu bentuk kepedulian.

Dengan kata lain, kontribusi perubahan perilaku individu terhadap pandemi itu dapat dilakukan secara praktis. “Isolasi dan karantina mandiri pada saat ini dapat diartikan sebagai bentuk kepedulian,” kata Rumi.


Nilai Pancasila

Rumi mengaku menanamkan rasa kepedulian pada siswa memang harus berlandaskan dengan nilai-nilai karakter Pancasila. Nilai-nilai itu yakni menanamkan rasa keimanan, bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong-royong, mandiri, bernalar kritis, kreatif, dan inovatif.

“Nilai-nilai karakter Pancasila itu tercermin dari bentuk-bentuk kepedulian mereka antara lain bergotongroyong untuk pencegahan penularan covid-19,” jelas Rumi.

Menurut dia, karakter-karakter inilah yang akan menentukan kesuksesan menghadapi abad ke-21.

Karakter yang melekat pada guru juga diharapkan dapat ditransfer dan diduplikasi peserta didik. Selain melalui guru, transfer suri teladan seperti itu perlu diupayakan sedemikian rupa.

Salah satu murid Sekolah Dasar Alam Jingga Bekasi, Ziza Hamzah mengatakan, di awal pandemi dirinya sempat membagikan ratusan masker dan hand sanitizer ke lingkungan sekitar. Saat itu, siswa yang kini duduk di kelas 2 SD ini mengaku membagikannya kepada para driver ojek online dan kurir.

“Waktu itu memang ada tugas dari sekolah untuk membagi-bagikan masker di awal pandemi, mamah juga ikut bantu,” kata Ziza.

Ziza mengaku dirinya senang melakukan aksi tersebut. Selain bentuk nyata aksi peduli sesama, hingga saat ini, Ziza pun tetap menjaga kesehatan selama masa pandemi sebagai bentuk kepedulian menjaga kesehatan diri sendiri untuk lingkungan sekitar.

“Agar lingkungan sehat dimulai dari sendiri dulu, kalau kita sehat pasti lingkungan juga ikut sehat. Ini juga tugas dari sekolah seperti cara membentuk kehidupan bersih sehat. Misalnya olahraga, mandi 2 kali sehari, gosok gigi, buang sampah, dan beres-beres tempat tidur,” tutup dia. (Gan/S3-25)

Baca Juga

DOK MI

Kolaborasi BKM-PII dengan Perguruan Tinggi akan Hasilkan Inovasi

👤Syarief Oebaidillah 🕔Senin 25 Januari 2021, 23:45 WIB
Kolaborasi dengan perguruan tinggi diharapkan bisa menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi...
ANTARA

Pendidikan Vokasi akan Mengembangkan Bakat Spesifik Siswa

👤Syarief Oebaidillah 🕔Senin 25 Januari 2021, 22:59 WIB
Perkembangan pesat teknologi telah menghilangkan banyak profesi sekaligus melahirkan profesi-profesi baru yang membutuhkan bakat spesifik....
Ist

Awas, Hidden Hunger Ganggu Tumbuh Kembang Anak

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 25 Januari 2021, 22:00 WIB
Orangtua perlu memperkaya pengetahuan dan kreativitas dalam memenuhi nutrisi seluruh keluarga dengan menyertakan bahan-bahan bergizi di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya