Senin 02 November 2020, 21:25 WIB

Sebulan Terakhir, DBD di Indonesia Meningkat 4.859 Kasus

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Sebulan Terakhir, DBD di Indonesia Meningkat 4.859 Kasus

Ilustrasi
Nyamuk DBD

 

MEMASUKI musim penghujan, peningkatan jumlah kasus demam berdarah (DBD) terus terjadi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga 27 Oktober 2020 total kasus DBD di Indonesia mencapai 93.178 kasus.

Jumlah ini meningkat sebanyak 4.859 kasus jika dibandingkan total kasus DBD pada 25 September yang mencapai 88.319 kasus. Jumlah kematian akibat DBD pun meningkat sebesar 33 kasus dari 612 kasus pada 25 September menjadi 645 kasus pada 27 Oktober.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Didik Budijanto mengatakan, diperlukan peran serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya kasus DBD.

“Sebetulnya peran serta masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah kasus DBD,” kata Didik kepada mediaindonesia.com, kemarin.

Lebih lanjut Didik menjelaskan, Kemenkes memiliki tiga program utama untuk mencegah timbulnya kasus DBD yaitu pengendalian vektor, peningkatan sistem surveilans, dan peningkatan kapasitas terhadap deteksi dini dan tatalaksana kasus.

“Pengendalian vektor itu bagaimana supaya tidak digigit nyamuk dengan mengendalikan siklus hidup nyamuk. Itu bisa dikendalikan dengan program di masyarakat adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSM) dengan 3M Plus (Menguras, Menutup dan Mengubur, Plus menghindari gigitan nyamuk). 3M ini perlu digalakkan terus,” jelasnya.

Baca juga : Satu Bulan Terakhir Kesembuhan Covid-19 Naik Signifikan

Lebih lanjut Didik menjelaskan, pada peningkatan sistem surveilans, petugas tetap melakukan kegiatan di lapangan dengan dibantu aplikasi Sistem Informasi Pengendalian Vektor (Silantor). Saat ini Kemenkes tengah menggelar pelatihan dan sosialisasi Silantor di 4 provinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten.

Sedangkan pada upaya peningkatan kapasitas, Kemenkes juga menggelar pelatihan cara deteksi dini serta tatalaksana DBD. Menurut Didik, hal ini perlu ditingkatkan karena gejala infeksi covid-19 dan DBD memiliki ciri yang mirip, sehingga para petugas kesehatan harus benar-benar bisa membedakan antara gejala covid-19 dan DBD.

“Penyakit covid-19 ini diagnosanya agak beti-beti (beda tipis), seperti panas panas tinggi. Ini harus kita tekankan kepada teman-teman di Puskesmas atau di pelayanan di Rumah Sakit, harus betul-betul bisa bedakan apakah ini covid-19 atau justru DBD,” tandasnya.

Berdasarkan update terakhir, terdapat 470 kabupaten/kota yang telah terjangkit DBD. Lima kabupaten/kota dengan kasus DBD tertinggi yaitu Kabupaten Buleleng sebanyak 3.312 kasus, Kabupaten Badung 2.547 kasus, Kota Bandung 2.363 kasus, Kabupaten Sikka 1.775 kasus, dan Kabupaten Gianyar 1.717 kasus. (OL-2)

 

Baca Juga

AFP/Denis Charlet

Berinteraksi di Ruang Digital Perlu Etika

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 30 Juni 2022, 17:13 WIB
Dengan keragaman karakter, budaya, negara, serta unsur lain tentu bermedia digital memerlukan...
DOK Pribadi.

Sejarah Tiongkok dengan Malaka Inspirasi Menu Gaya Peranakan

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 30 Juni 2022, 16:35 WIB
Hidangan-hidangan baru tersebut termasuk makanan ringan, seperti Salted Egg Spring Roll dan Crispy Combo Platter, Sup Penang...
MI/Ramdani

Literasi Digital Indonesia Perlu Masuk Kurikulum Pendidikan

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 30 Juni 2022, 16:11 WIB
Indeks literasi digital Indonesia berada di angka...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya