Selasa 27 Oktober 2020, 14:25 WIB

Kemensos Gandeng Instansi dan Daerah Antisipasi Bencana

Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora
Kemensos Gandeng Instansi dan Daerah Antisipasi Bencana

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI
Air merendam pemukiman warga di kawasan di RT 07 RW 01, Kampung Duri Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, Senin (6/1)

 

Kementerian Sosial memastikan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi datangnya bencana sejalan dengan musim penghujan yang sudah tiba. Dari sejumlah kawasan rawan, Provinsi DKI Jakarta dinilai perlu mendapat perhatian paling serius.

Menurut Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA) Kemensos Syafii Nasution, ada sejumlah alasan DKI Jakarta ditempatkan sebagai daerah yang mendapat perhatian tinggi di fase kesiapsiagaan bencana. “Selain ancaman banjir kiriman dari kawasan Puncak, Bogor, DKI Jakarta juga rentan dengan ancaman rob. Banjir di DKI juga kerap dikaitkan dengan banjir 5 tahunan, 10 tahunan, dan sebagainya yang tidak terduga,” kata Syafii, (25/10).

Pertimbangan lain, kata Syafii, yakni tingginya populasi di DKI Jakarta dengan berbagai fasilitas vital yang juga berdiri di ibu kota negara. Hal ini menimbulkan resiko lebih tinggi timbulnya korban jiwa dan juga harta benda.

Baca juga: Dua Warga Menjadi Korban Banjir dan Longsor di Pangandaran

Meski demikian, Kemensos bersama intansi terkait juga tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah daerah rawan bencana banjir dan longsor. Di antara kawasan itu adalah sepanjang daerah aliran sungai-sungai besar di Jawa, seperti Sungai Ciliwung, Sungai Cisadane, Sungai Citarum, Sungai Begawan Solo, termasuk Sungai Kapuas di Kalimantan, dan sejumlah kawasan lain, di seluruh pelosok tanah air.

Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, Kemensos telah menjalin koordinasi dengan instansi terkait. Seperti dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dengan TNI AD, khususnya Korps Komando Pasukan Khusus (Kopassus), dan sebagainya.

“Jadi penanganan bencana ini sifatnya memang sinergi antar-lembaga. Kami telah menggelar rapat-rapat koordinasi, terutama dengan dinas sosial termasuk Dinas Sosial DKI Jakarta,” katanya. Rapat koordinasi makin intensif dilakukan didasari alasan untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana dan longsor sejalan dengan makin tingginya curah hujan pada bulan-bulan mendatang yang didorong oleh fenomena La Nina.

Mengutip prakiraan cuaca BMKG, Syafii mengatakan, saat ini telah terjadi fenomena La Nina. “Fenomena La Nina meningkatkan curah hujan sebesar 20% - 40% lebih tinggi. Ini tentu berpotensi menimbulkan banjir dan longsor di sejumlah daerah rawan,” kata dia.

BKMG menyatakan, puncak La Nina diprediksi akan terjadi pada November-Desembera 2020, namun dampaknya bisa sampai awal tahun 2021. “Kami mengimbau kepada masyarakat di sepanjang kawasan tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan. Karena bencana bisa datang sewaktu-waktu,” kata Syafii. (H-3)

Baca Juga

Antara

Menag: ASN Kemenag Tak Boleh Berbeda Sikap dengan Pemerintah

👤Faustinus Nua 🕔Senin 30 November 2020, 15:56 WIB
"Saya ingatkan selalu, Kemenag bagian dari pemerintah. Jadi jangan sampai ada individu (ASN) di Kemenag yang memiliki sikap berbeda...
MI/Firqon

Media Group Serahkan Ribuan APD kepada Jaringan Gusdurian

👤Faustinus Nua 🕔Senin 30 November 2020, 14:55 WIB
Media Group melalui Dompet Kemanusiaan Media Group (DKMG) menyerahkan bantuan alat pelindung diri (APD) kepada Jaringan Gusdurian, pada...
DOK SWISS-BELHOTEL

Swiss-Belhotel Mangga Besar Raih Sertifikasi CHSE

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 30 November 2020, 14:05 WIB
Program Sertifikasi CHSE adalah proses pemberian sertifikat kepada usaha pariwisata, usaha/fasilitas lain terkait, lingkungan masyarakat,...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya