Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KANKER payudara masih menjadi momok bagi kaum perempuan di Indonesia. Berdasarkan data Global Cancer Observatory 2018 dari World Health Organization (WHO), kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara sebesar 58.256 kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker.
Menurut Ketua Bidang Penyuluhan Kanker Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Bob Andinata pada 90% kasus kanker payudara, benjolan muncul tanpa disertai dengan rasa nyeri. Sehingga penderita sering tidak menyadari bahwa dia sedang mengidap kanker payudara.
Pada webinar 'MetroTV Berbagi Love Yourself: Pahami dan Kenali Deteksi Dini kanker Payudara', kemarin, Bob menuturkan untuk deteksi dini kanker payudara, kaum perempuan dapat melakukan 'sadari' (pemeriksaan payudara oleh diri sendiri) dan 'sadanis' (pemeriksaan payudara klinis). Sadari dapat dilakukan setiap bulan, yaitu di hari ke 7-10 sejak menstruasi pertama, bagi perempuan yang masih aktif menstruasi.
Adapun pada perempuan yang sudah menopause bisa menggunakan tanggal lahir, atau tanggal tertentu yang mudah diingat setiap bulan. Sadari bertujuan agar perempuan bisa mengetahui dan membandingkan kondisi payudaranya dari bulan ke bulan.
"Jika terdapat benjolan atau kelainan yang bertahan selama tiga bulan, diwajibkan untuk memeriksakan diri ke dokter atau 'sadanis' untuk memastikan apakah kelainan tersebut normal atau abnormal.
Narasumber lain, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat yang juga penyitas mengaku lalai karena tidak pernah melakukan pemeriksaan diri. Padahal saat itu usianya telah memasuki 50 tahun, dan memiliki riwayat keturunan kanker payudara dari sang ibunda. "Biasa karena sibuk segala macam, kadang-kadang takut mamografi itu sakit, sampai tiba-tiba ada suatu peristiwa. Mungkin diingatkan oleh Yang Maha Kuasa, saya ketabrak pintu tahu-tahu dada biru. Akhirnya harus check-up, hingga dokter memastikan (kanker). Yang namanya manusia pasti kaget," kisah Rerie, sapaan akrab Lestari.
Seusai dinyatakan menderita kanker payudara, Rerie kemudian memutuskan untuk menjalani serangkaian pengobatan. Dia mengaku, selama proses pengobatan, dukungan dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan teman yang terus berdatangan, menjadi semangat tersendiri baginya. Selain itu, berdamai dengan diri sendiri menjadi salah satu cara Rerie untuk melewati situasi sulit itu.(Aiw/H-1)
MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau seluruh perempuan Indonesia berusia di atas 30 tahun untuk memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk cegah kanker payudara.
Insinyur Katie Weimer kembangkan teknologi biotissue cetak 3D untuk rekonstruksi payudara. Solusi alami tanpa risiko implan industri bagi penyintas kanker.
Ketika diuji di laboratorium pada sel kanker payudara, senyawa ini banyak masuk dan terakumulasi di sel kanker payudara yang memiliki reseptor estrogen positif.
Kenali jenis mastektomi, lama pemulihan, serta cara merawat tubuh dan kesehatan mental setelah operasi kanker payudara.
Menurut data World Health Organization (WHO), pada tahun 2012 terdapat sekitar 40 dari 100.000 perempuan di Indonesia yang didiagnosis dengan kanker payudara.
Jika dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara maka Indonesia termasuk salah satu negara dengan bertahan hidup pasien kanker payudara yang rendah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved