Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Senyawa Kulit Manggis Dipakai untuk Terapi Kanker Payudara? Ini Penjelasan BRIN

Despian Nurhidayat
26/1/2026 10:14
Senyawa Kulit Manggis Dipakai untuk Terapi Kanker Payudara? Ini Penjelasan BRIN
Ilustrasi(Dok Istimewa)

BERDASARKAN data The Global Cancer Observatory (GCO) yang diakses pada 15 Januari 2026, pada 2022 kanker payudara menempati urutan pertama sebagai kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia, yakni 66.271 kasus, serta menjadi penyumbang kematian ketiga akibat kanker.

Menyoroti hal tersebut, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri (PRTRRB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Isti Daruwati, mengembangkan senyawa turunan alfa mangostin, yakni senyawa yang berasal dari kulit buah manggis, yang disebut dengan AMB10, untuk terapi kanker payudara.

Isti menjelaskan riset ini dikembangkan bersama Universitas Perjuangan Tasikmalaya dan Departemen Analisis Farmasi dan Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi - Universitas Padjadjaran.

“Sekitar 75 persen penderita kanker payudara memiliki jenis kanker yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh hormon estrogen. Pada kanker jenis ini, sel kanker memiliki reseptor estrogen (ER+) yang merupakan tempat hormon estrogen menempel dan merangsang pertumbuhan sel kanker,” ungkapnya dilansir dari laman resmi BRIN. 

Oleh karena itu, lanjutnya, dibutuhkan terapi seperti tamoksifen yang termasuk golongan selective estrogen receptor modulators (SERMs), yang dapat menghalangi estrogen menempel pada reseptor di jaringan payudara, sehingga pertumbuhan sel kanker dapat ditekan dan diperlambat.

Ia melihat adanya kemiripan struktur kimia antara AMB10 dan tamoksifen melalui pengujian secara in silico dan in vitro. Berdasarkan hasil pengujian tersebut, AMB10 telah disintesis di Universitas Perjuangan Tasikmalaya dan dipilih untuk diteliti lebih lanjut sebagai kandidat radiofarmaka baru untuk teranostik kanker payudara. 

“Senyawa yang merupakan turunan alfa-mangostin ini diberi label radioaktif menggunakan iodin-131 (I-131) yang diperoleh dari Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy, kemudian diiodinasi melalui oksidasi kloramin-T, sehingga menghasilkan kemurnian radiokimia yang tinggi,” jelas Isti.

Ketika diuji di laboratorium pada sel kanker payudara, senyawa ini banyak masuk dan terakumulasi di sel kanker payudara yang memiliki reseptor estrogen positif.

“Setelah melalui berbagai pengujian dan karakterisasi sifat fisikokimia serta studi komputasi, hasilnya menunjukkan bahwa senyawa tersebut cenderung mengenali dan berikatan secara khusus dengan sel kanker yang memiliki reseptor estrogen. Kami melihat bahwa [¹³¹I]I-AMB10 memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai radiofarmaka teranostik, yaitu senyawa yang dapat digunakan sekaligus untuk mendeteksi dan mengobati kanker payudara yang bergantung pada reseptor estrogen (ER?-positif),” terang Isti.

Ia berharap riset yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia ini dapat berkontribusi dalam pengobatan kanker payudara di Indonesia. “Melalui riset ini, kami, tim periset, berharap agar senyawa alami berbasis alfa mangostin ini dapat dikembangkan menjadi obat radioaktif untuk terapi kanker payudara,” harapnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya