Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI dari Harry Perkins Institute of Medical Research baru-baru ini sedang meneliti potensi racun lebah madu sebagai senjata baru dalam melawan kanker payudara agresif. Penelitian yang dimulai sejak 2020 itu dikatakan sudah menunjukkan kemajuan.
Adapun racun lebah diketahui mampu membunuh sel kanker secara selektif tanpa merusak sel sehat di sekitarnya. Dilansir Newsweek, efek pembunuh sel kanker ditemukan lebih kuat ketika menggunakan racun lebah utuh dibandingkan hanya salah satu komponennya, yakni melittin.
Menurut pemimpin penelitian, Ciara D. Wang, racun lebah utuh tampak bekerja lebih efektif karena kemungkinan adanya senyawa lain yang membantu melittin menargetkan sel kanker secara lebih spesifik. Hal ini membuka peluang untuk menciptakan terapi yang lebih presisi dengan efek samping minimal.
Meski begitu, para peneliti menekankan bahwa potensi ini masih harus diuji lebih lanjut di lingkungan klinis. Tantangan utamanya adalah memastikan racun dapat dikirim ke tubuh pasien dengan aman dan efisien.
Temuan ini menjadi harapan baru di tengah tingginya angka kanker payudara, yang merupakan jenis kanker paling umum pada wanita di Amerika Serikat. Berdasarkan data American Cancer Society, diperkirakan akan ada lebih dari 316 ribu kasus baru dan 42 ribu kematian akibat kanker ini pada 2025.
Konteks inilah yang membuat penelitian racun lebah semakin relevan, terutama untuk menangani subtipe kanker yang lebih agresif dan sulit diobati. Jika berhasil dikembangkan, terapi ini bisa menjadi alternatif dari pengobatan konvensional yang kerap menimbulkan efek samping berat.
Lebih dari sekadar inovasi ilmiah, studi ini menyoroti potensi besar yang masih tersembunyi dalam alam, termasuk dari makhluk kecil seperti lebah. Dunia medis kini menanti kelanjutan penelitian ini untuk menjawab apakah racun lebah bisa benar-benar menjadi bagian dari protokol pengobatan kanker masa depan. (H-2)
Peneliti MIT dan Stanford kembangkan molekul AbLecs untuk menghancurkan sel kanker dengan menargetkan molekul gula (glikan) yang selama ini menghambat sistem imun.
"Pendekatan ini tidak hanya menyerang sel kanker, tetapi juga mengaktifkan mekanisme alami tubuh,”
Pare atau paria sudah tidak asing di lidah masyarakat Indonesia. Sayuran ini kerap hadir dalam semangkuk siomay atau batagor sebagai lalapan tambahan.
Kanker payudara masih menjadi ancaman serius bagi perempuan, termasuk di Indonesia. Setiap tahun, jumlah kasus terus meningkat.
TIM peneliti asal Korea Selatan berhasil menciptakan inovasi baru pengalihan molekuler yang bisa membalikkan transisi sel kanker menjadi tidak ganas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved