Headline
Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Pelayanan Kesehatan Tradisional Kementerian Kesehatan Ina Rosalina mengakui angka stunting di Indonesia masih tinggi. Percepatan penanganan stunting tahun 2020 diperluas ke 260 kabupaten/kota dari yang sebelumnya 160 kabupaten/kota pada 2019.
Menurutnya, ada beberapa cara untuk mengatasi stunting, antara lain dengan cara konvensional, memperbaiki kesehatan masyarakat lewat program pemerintah, dan cara tradisional dengan menggunakan ramuan yang berasal dari alam (daun kelor, temulawak, dan gabus) serta pemijatan atau urut.
Baca juga: Angka Stunting di Indonesia Masih Lebih Tinggi dari Toleransi WHO
"Tapi ramuan-ramuan tersebut bukan untuk mengobati stunting, tetapi membantu mencegah terjadinya stunting, karena ramuan tersebut merangsang orang untuk nafsu makan,” jelas Ina dalam keterangan yang diterima Media Indonesia di Jakarta, Selasa (14/7/2020).
Ia menambahkan, Kemenkes mendukung hadirnya produk suplemen untuk mencegah stunting yang dibuat dari bahan-bahan alami dan diproduksi oleh perusahaan Indonesia. “Para dokter bisa meresepkan suplemen-suplemen tersebut untuk mencegah stunting pada anak-anak,” tuturnya.
Mengenai penyaluran donasi dari Nucleus Farma, pihaknya akan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat karena mereka yang paling tahu puskesmas mana di wilayahnya yang banyak menangani stunting.
CEO Nucleus Edward Basilianus mengatakan, Nucleus Farma, produsen INAmed (Indonesia Natural Medicine) memiliki beberapa hak paten untuk mengatasi stunting.
Salah satunya ialah metode ekstraksi ikan gabus (channa striata) sebagai sediaan bahan baku farmasi dalam bentuk serbuk, kapsul, sachet dan cairan untuk mencegah stunting anak dan menjaga ibu hamil dengan nomor paten P0020198169.
Baca juga: Konsumsi Protein Hewani Didorong untuk Turunkan Stunting
Kemudian nomor paten P00202002076 terkait suplemen kesehatan dari ekstrak moringa oleifera, ekstrak phylantus niruri, ekstrak nigella sativa, dan propolis untuk meningkatkan sistem imun, memelihara kesehatan ibu hamil, dan mengatasi gejala stunting anak di usia dini. Adapula nomor paten P0020198169 dan nomor paten P00202002432.
Berangkat dari paten yang telah dimiliki dan terdorong untuk membantu mengatasi stunting di Indonesia, Nucleus Farma meluncurkan Onoiwa dan Onoake. Keduanya merupakan suplemen untuk mencegah stunting pada anak-anak.
Onoiwa dibuat dari ekstrak ikan gabus (channa striata), ekstrak temulawak (curcuma xanthorrizha), dan ekstrak daun kelor (moringa oleifera). Sementara Onoake dibuat dari ekstrak daun kelor, phylanthus niruri (Meniran), dan nigela sativa (jinten hitam).
“Masyarakat tidak perlu repot mencari daun kelor untuk menambah nafsu makan, karena kedua produk tersebut mengandung daun kelor yang bisa menambah nafsu makan pada anak-anak, sehingga bisa mencegah stunting,” kata Edward Basilianus.
Guru Besar Tetap Farmokologi Fakultas Farmasi Universitas Pancasila Syamsudin mengatakan, masalah stunting yang menghambat tumbuh kembang anak dapat diatasi dengan penggunaan obat atau ramuan tradisional.
Baca juga: Penanganan Stunting Terus Berlanjut di Tengah Pandemi Covid-19
”Ada ramuan yang dapat mengatasi stunting, salah satunya ekstrak ikan gabus (channa striata) karena memiliki albumin cukup tinggi, sehingga dapat memenuhi masalah kecukupan gizi,” tutur Syamsudin.
Ia menambahkan, ramuan lain yang bisa mengatasi stunting yakni ekstrak Temulawak (curcuma xanthorrizha ) yang mengandung curcuminoid untuk merangsang nafsu makan, sehingga sangat baik diberikan kepada balita. (RO/A-3)
Vaksinolog dan internis sekaligus Chief Medical Advisor Imuni, dr. Dirga Sakti Rambe, mengatakan bahwa vaksin tidak melulu hanya diberikan untuk anak-anak.
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya pengendalian polusi udara yang dilakukan secara terukur, berbasis data, serta didukung kolaborasi antar daerah.
Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan tubuh terus dilakukan berbagai pihak.
Berdasarkan laporan Global Gender Gap 2025, posisi Indonesia naik tiga peringkat ke urutan 97 dunia dengan skor kesetaraan yang meningkat menjadi 69,2%.
Laporan Halodoc Q1 2026 mencatat lonjakan gangguan kecemasan dan masalah pencernaan selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Jika ditemukan pasien dengan indikasi klinis yang mengarah pada gejala campak, petugas medis akan segera melakukan tindakan lanjutan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved