Jumat 20 September 2019, 16:22 WIB

Konsumsi Protein Hewani Didorong untuk Turunkan Stunting

Eni Kartinah | Humaniora
Konsumsi Protein Hewani Didorong untuk Turunkan Stunting

MI/Eni Kartinah
Seminar Gizii Untuk Bangsa berlangsung selama 2 hari dari tanggal 20-21 September 2019 di Universitas Indonesia

 

Stunting atau perawakan pendek pada anak akibat malnutrisi kronis masih menjadi tantangan di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Rsiskesdas) menunjukkan, prevalensi balita stunting pada 2018 mencapai 30,8% dan berarti satu dari tiga balita mengalami stunting.

Terlebih, Indonesia juga merupakan negara dengan beban anak stunting tertinggi kedua di Kawasan Asia Tenggara dan kelima di dunia.

Berlatarbelakang kondisi stunting di Indonesia yang masih tinggi, Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI) kembali melaksananan rangkaian seminar Gizi Untuk Bangsa (GUB) selama dua hari pada 20-21 September 2019, sebagai upaya edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya peran gizi dalam penanganan stunting.

Seminar GUB telah dilaksanakan dari tahun 2012, dan tahun ini mengangkat tema Kontribusi dan Keterlibatan Stakeholders dalam Penurunan Stunting” untuk mendorong terciptanya kerjasama lintas sektor dalam upaya percepatan penurunan prevalensi stunting melalui intervensi gizi spesifik.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang diwakili oleh Dr. Entos Zainal dalam pidato pembukaannya menguraikan bahwa fokus Rencana Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 akan menitikberatkan pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) termasuk di bidang kesehatan.

Stunting mengakibatkan kerugian negara setara 4 Triliyun per tahun atau sebesar 3% dari PDB, sehingga percepatan penangangan stunting tetap menjadi salah agenda besar pemerintah ke depan," kata Entos.

"Untuk mencapai target capaian prevalensi stunting sebesar 19% di tahun 2024 tentunya bukan tugas yang mudah. Untuk itu dibutuhkan terobosan, inovasi dan kerjasama lintas sektor termasuk kerjasama dengan akademisi dan pihak swasta untuk segera menangani hal ini secara konkrit,” jelas Entos di Gedung Universitas Indonesia, Jakarta, Jumat (20/9).

Kondisi stunting akan berdampak serius bagi kesehatan anak baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.  Dampak jangka pendek meliputi perkembangan tubuh anak yang terhambat, performa anak yang menurun di sekolah, peningkatan angka kesakitan dan risiko kematian.

Sedangkan untuk dampak jangka panjang dari stunting yaitu obesitas, peningkatan risiko penyakit tidak menular, bentuk tubuh pendek saat dewasa, serta penurunan produktivitas dan kualitas hidup anak di masa mendatang3.

Prof. Dr. dr. Damayanti R Sjarif, Sp.A(K), Dokter Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak RSCM dalam paparannya menyampaikan, Stunting hanya bisa teratasi selama periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun dan masa dimana otak anak berkembang pesat." 

"ASI Eksklusif penting diberikan selama 6 bulan pertama dan dapat diteruskan hingga anak berusia dua tahun. Pada tahap pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI), orang tua harus memperhatikan pola asupan gizi yang seimbang, terutama untuk memberikan asupan karbohidrat, lemak tinggi dan protein hewani,” kata Profesor Damayanti.

Prof. Damayanti Bersama Kementerian Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi  mengembangkan pilot project Aksi Cegah Stunting di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Hasil inisiatif tersebut menunjukkan penurunan prevalensi stunting sebesar 8,4% dalam enam bulan dari 41,5% menjadi 33,1% atau mencapai 4,3 kali lipat dari target tahunan WHO.

Dalam pilot project ini, pendekatan intervensi gizi spesifik dilakukan dalam beberapa fokus termasuk; melakukan training kepada tenaga kesehatan dan kader posyandu, mengembangkan sistem rujukan berjenjang untuk balita stunting dan beresiko stunting, dan implementasi tata laksana stunting oleh dokter spesialis Anak dengan pengawasan yang dibantu oleh dokter Puskesmas, tenaga gizi Puskesmas dan bidan desa.

Dalam pencegahan stunting, pemantauan status gizi dan antopometri anak perlu dilakukan secara berkala. Deteksi dini status gizi balita dilakukan secara berjenjang mulai dari Posyandu, Puskesmas hingga rumah sakit umum daerah (RSUD).  Jika di Posyandu ditemukan anak dengan berat badan atau tinggi badan pada usia kurang dua tahun, perlu dirujuk ke Puskesmas.

“Jika di Puskesmas didapati penyakit penyerta lain atau growth faltering maupun gizi buruk, maka anak akan di rujuk ke RSUD untuk mendapatkan diagnosis medis dari Dokter Spesialis Anak," tutur Prof Damayanti.

Bahkan pada beberapa kondisi medis tertentu, apabila diperlukan, pasien akan disertai dengan preskripsi PKMK (Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus) untuk membantu mengejar ketertinggalan berat badan dan tinggi badan mereka,” jelas Prof. Damayanti.

Asupan paling baik protein hewani

Pada kesempatan yang sama, Dr. Marudut Sitompul dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) menyampaikan, “Asupan protein paling baik dapat diperoleh dari sumber protein hewani yaitu telur dan susu karena memiliki nilai cerna dan bioavailabilitas paling tinggi dan asam amino esensial lebih lengkap untuk mendukung pertumbuhan linear anak-anak.”

Bertolak belakang dari fakta para ahli tentang pentingnya asupan protein hewani, pada kenyataannya asupan protein hewani pada anak-anak di Indonesia tergolong rendah. Dalam salah satu studi ditemukan bahwa asupan protein hewani yang rendah ini berkontribusi terhadap tingginya prevalensi stunting.

Anak yang tidak mengkonsumsi jenis protein hewani apapun memiliki risiko lebih besar untuk mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang mengonsumsi tiga jenis protein hewani yaitu telur, daging, dan susu.

Dibandingkan makanan sumber protein hewani lainnya, susu adalah yang paling erat hubungannya dengan angka stunting yang rendah karena konsentrasi plasma insulin-like growth factor (IGF-I) dan IGF-I/IGFBP-3 pada anak usia dua tahun secara positif berkaitan dengan panjang badan dan asupan susunya.

Sayangnya, di Indonesia usia pemberian susu tergolong terlambat karena banyak setelah anak berusia lebih dari 1 tahun. Kondisi ini meningkatkan risiko stunting sebanyak 4 kali pada anak usia 2 tahun7.

Ahmad Syafiq, PhD, Kepala Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan FKMUI menyatakan, “Diperlukan analisis dan pendekatan gizi kesehatan masyarakat untuk dapat secara efektif merancang program yang berbasis evidens dan berfokus pada pencegahan. "

"Terobosan pencegahan stunting juga perlu melibatkan seluruh stakeholders (pemangku kepentingan) dan memberdayakan masyarakat agar semua pihak mampu terlibat secara aktif dalam upaya penurunan stunting,” jelas Syafiq

“Dari kegiatan edukasi ini kami berharap akan semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya asupan protein hewani dalam upaya pencegahan stunting. Dengan pola asupan gizi yang baik, diharapkan akan tercipta generasi yang sehat, berkualitas dan berdaya saing sebagai bangsa yang unggul di masa depan,” tutup Syafiq.(OL-09)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More