Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah banyaknya pihak yang meragukan kemampuan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim dalam memimpin Kemendikbud, pengamat pendidikan Arief Rachman memilih untuk tidak menilai terlebih dahulu sebelum melihat kinerja mantan CEO Gojek tersebut. Arief mengaku, hanya sempat bertemu dengan Nadiem dalam acara pisah sambut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beberapa hari yang lalu.
"Kan belum kerja, masa diragukan," kata Arief kepada Media Indonesia, Minggu (27/10).
Arief menjelaskan, yang perlu dilakukan Nadiem untuk menjawab keraguan pihak-pihak tersebut yakni dengan melaksanakan pendidikan sesuai dengan Undang-Undang Pendidikan.
"Bahwa pendidikan adalah proses usaha untuk mengembangkan lima potensi. Potensi spiritual, potensi emosional, potensi intelektual, potensi jasmani, dan potensi sosial," tuturnya.
Selain itu, Nadiem juga perlu mengoordinasi seluruh pihak dalam sektor pendidikan agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
"Indonesia ini punya 51 juta murid, punya 3 juta guru. Jadi oleh Pak Muhadjir itu semua disuruh taat pada azaz, taat pada peraturan," tandasnya.
Seperti diketahui, sejumlah pihak ragu Nadiem mampu mengelola sektor pendidikan di Tanah Air. Sebut saja Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aboebakar Alhabsyi yang menilai kemampuan Nadiem ada pada sektor bisnis.
baca juga: Festival Ratoh Jaroe, Diplomasi Budaya ala Aceh
"Ini akan dilihat seperti ada gambling pada dunia pendidikan kita. Padahal ini adalah sektor yang sangat menentukan masa depan bangsa," ujar Aboebakar dalam keterangan tertulis, Rabu (23/10). (OL-3)
Abidin juga meminta Kemenag segera membenahi validitas data guru madrasah, baik melalui mekanisme PPPK, ASN, maupun inpassing.
Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan khusus dengan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/1).
Provinsi-provinsi di kawasan timur Indonesia masih mendominasi angka pernikahan dini tertinggi secara nasional, meski secara umum prevalensi pernikahan anak di Indonesia terus menurun.
Mereka kehilangan rasa aman, rutinitas harian, akses belajar, serta dukungan emosional yang esensial bagi perkembangan mereka.
LEDAKAN teknologi digital telah menyusup ke setiap sudut kehidupan anak-anak Indonesia, membawa kemudahan sekaligus ancaman diam-diam: krisis gaya hidup pasif.
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, mengatakan peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam upaya membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved