Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
Gempa bumi yang mengguncang wilayah Banten dan sekitarnya pada Jumat (2/8) pukul 19.03.21 WIB membuat masyarakat panik. Dengan goncangan yang mendadak, gempa membuat anak-anak merasa takut, trauma, dan bisa mengganggu aktivitas mereka.
Saat gempa terjadi, orangtua harus bisa mengupayakan untuk mengurangi ketakutan pada anak-anak. Konselor dan pemerhati anak, Muhammad Agus Syafii menyarankan yang terbaik bagi orangtua lakukan adalah membantu anak mengatasi rasa takutnya untuk membuatnya merasa aman dan terlindungi.
"Caranya pertama kali, saat mereka ketakutan, orangtua bisa memeluknya. Setelah itu, jelaskan bahwa gempa bumi yang terjadi ini bukanlah hal yang perlu ditakutkan, karena ini merupakan anugerah untik mendekatkan diri kepada Tuhan," ujar lelaki yang juga pendiri Rumah Amalia sebagai rumah belajar bagi anak yatim dan duafa di Jakarta, Selasa (6/8).
"Anak kan bergantung sama orangtua, penjelasan ini akan mengurangi kondisi tekanan yang sifatnya traumatik," kata Agus.
Selain itu, lanjut lelaki yang akrab disapa Kak Agus tesrebut, sebaiknya diajarkan anak dengan konsep visual terapi dengan cara menggambar, mengenali lingkungan tempatnya tinggal, mengenali identitas dirinya sendiri, hingga mendorong mereka memiliki konsep hidup.
Dengan konsep visula tersebut, anak-anak bisa mengerti akar permasalahan yang sedang mereka hadapi. Jadi, lanjut dia, saat mengalami satu masalah yang tiba-tiba, anak akan siap dan bisa mengontrol perasaan takut atau khawatirnya termasuk jika ada kejadian gempa bumi tersebut.
"Anak-anak selama mereka diajak mengenali lingkungan dan diri mereka sendiri, mereka tidak menganggap itu sesuatu yang harus dicemaskan. Mereka akan lebih siap menghadapi itu. Apapun yang rerjadi, mereka jadi lebih bisa mensyukuri hidup," tutup dia.(OL-09)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved