Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
KETERTARIKAN mendalam Generasi Alpha terhadap media sosial bukan sekadar tren teknologi, melainkan manifestasi dari kebutuhan perkembangan psikologis mereka.
Sebagai generasi pertama yang lahir di lingkungan digital sepenuhnya, platform seperti TikTok hingga YouTube telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka.
Teresa Indira, Psikolog Klinis Dewasa lulusan Magister Profesi Klinis Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa pada 2026 ini, kelompok awal Generasi Alpha (kelahiran 2010-2025) telah memasuki fase pra-remaja hingga remaja awal.
Dari sudut pandang teori perkembangan psikososial Erik Erikson, remaja berada pada tahap Identity versus Role Confusion. Di fase ini, mereka sedang berupaya memahami posisi dirinya di lingkungan sosial.
“Remaja sedang bertanya, saya ini siapa, saya cocok di kelompok mana, dan orang lain melihat saya seperti apa,” kata psikolog yang akrab disapa Tesya tersebut, dikutip Kamis (26/3).
Media sosial hadir menyediakan ruang yang sangat sesuai dengan kebutuhan tersebut. Melalui foto, video, maupun opini, remaja dapat mengekspresikan diri sekaligus mendapatkan umpan balik instan.
“Di media sosial, mereka bisa mendapat pengakuan melalui likes, komentar, dan followers. Itu memberi rasa diterima dan diakui,” ujarnya.
Selain faktor identitas, terdapat aspek biologis yang membuat media sosial begitu adiktif. Tesya menjelaskan bahwa notifikasi dan interaksi di platform digital memicu pelepasan dopamin di otak. Hormon ini menimbulkan rasa senang yang mendorong keinginan untuk mengulang perilaku tersebut secara terus-menerus.
Kombinasi antara pencarian identitas, kebutuhan koneksi, dan respons biologis inilah yang membuat media sosial sangat relevan bagi remaja saat ini.
“Jadi ketertarikan pada media sosial bukan hanya soal teknologi. Platform tersebut selaras dengan kebutuhan perkembangan remaja untuk eksplorasi identitas dan membangun koneksi sosial,” tuturnya.
Pemahaman mengenai aspek perkembangan ini diharapkan dapat membantu orangtua dalam mendampingi anak secara lebih proporsional. Dengan memahami akar kebutuhan anak, orang tua dapat menjadi navigator yang bijak dalam proses pencarian jati diri anak di era digital. (Ant/Z-1)
Bagi Gen Z dan Gen Alpha, hasil yang cepat dan nyata menjadi nilai penting, sejalan dengan ritme hidup mereka yang dinamis.
PB PGRI menyebut profesi guru semakin tidak diminati generasi muda. Salah satunya karena profesi ini semakin tidak menjanjikan.
Minimnya komunikasi dalam keluarga membuat sebagian anak muda lebih nyaman berbagi keluhan kepada chatbot dibanding orang terdekat.
Penelitian menunjukkan remaja kini jauh lebih sedikit mengonsumsi alkohol dan rokok dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, para ahli memperingatkan risiko dari dunia digital.
Generasi alpha adalah anak-anak yang lahir dan tumbuh sudah dengan teknologi yang luar biasa. Apalagi generasi beta ke depan.
Identitas jasad seorang pria yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan di tol Jagorawi akhirnya terungkap. Pria yang diketahui bernama Ujang Adiwijaya, seorang driver taksi online asal Depok.
Bagi pasangan selebriti Chicco Jerikho dan Putri Marino, parfum bukan sekadar wewangian yang menyenangkan indera penciuman. Keduanya memandang aroma sebagai bahasa lai.
Deepfake tidak akan pernah hilang. Tetapi perusahaan bisa lebih pintar menghadapi ancaman ini dengan mengadopsi teknologi.
Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan Channel State Information (CSI), yaitu data tentang perubahan sinyal Wi-Fi ketika melewati tubuh dan gerakan seseorang.
“Kebaya bukan hanya warisan kain dan jahitan, melainkan cerita tentang perjalanan budaya, identitas, dan jati diri perempuan Indonesia,"
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved