Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Memahami Dahaga Gen Alpha pada Media Sosial: Identitas, Dopamin, dan Pengakuan

Basuki Eka Purnama
26/3/2026 21:37
Memahami Dahaga Gen Alpha pada Media Sosial: Identitas, Dopamin, dan Pengakuan
Ilustrasi(Freepik)

KETERTARIKAN mendalam Generasi Alpha terhadap media sosial bukan sekadar tren teknologi, melainkan manifestasi dari kebutuhan perkembangan psikologis mereka. 

Sebagai generasi pertama yang lahir di lingkungan digital sepenuhnya, platform seperti TikTok hingga YouTube telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka.

Teresa Indira, Psikolog Klinis Dewasa lulusan Magister Profesi Klinis Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa pada 2026 ini, kelompok awal Generasi Alpha (kelahiran 2010-2025) telah memasuki fase pra-remaja hingga remaja awal. 

Pencarian Jati Diri di Ruang Digital

Dari sudut pandang teori perkembangan psikososial Erik Erikson, remaja berada pada tahap Identity versus Role Confusion. Di fase ini, mereka sedang berupaya memahami posisi dirinya di lingkungan sosial.

“Remaja sedang bertanya, saya ini siapa, saya cocok di kelompok mana, dan orang lain melihat saya seperti apa,” kata psikolog yang akrab disapa Tesya tersebut, dikutip Kamis (26/3).

Media sosial hadir menyediakan ruang yang sangat sesuai dengan kebutuhan tersebut. Melalui foto, video, maupun opini, remaja dapat mengekspresikan diri sekaligus mendapatkan umpan balik instan.

“Di media sosial, mereka bisa mendapat pengakuan melalui likes, komentar, dan followers. Itu memberi rasa diterima dan diakui,” ujarnya.

Dorongan Biologis dan Peran Orangtua

Selain faktor identitas, terdapat aspek biologis yang membuat media sosial begitu adiktif. Tesya menjelaskan bahwa notifikasi dan interaksi di platform digital memicu pelepasan dopamin di otak. Hormon ini menimbulkan rasa senang yang mendorong keinginan untuk mengulang perilaku tersebut secara terus-menerus.

Kombinasi antara pencarian identitas, kebutuhan koneksi, dan respons biologis inilah yang membuat media sosial sangat relevan bagi remaja saat ini.

“Jadi ketertarikan pada media sosial bukan hanya soal teknologi. Platform tersebut selaras dengan kebutuhan perkembangan remaja untuk eksplorasi identitas dan membangun koneksi sosial,” tuturnya.

Pemahaman mengenai aspek perkembangan ini diharapkan dapat membantu orangtua dalam mendampingi anak secara lebih proporsional. Dengan memahami akar kebutuhan anak, orang tua dapat menjadi navigator yang bijak dalam proses pencarian jati diri anak di era digital. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya