Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Ciri-Ciri Child Grooming Berdasarkan Buku Broken Strings Karya Aurelie Moeremans

Putri Rosmalia Octaviyani
13/1/2026 19:50
Ciri-Ciri Child Grooming Berdasarkan Buku Broken Strings Karya Aurelie Moeremans
Ilustrasi child grooming.(Dok. Freepik)

BUKU Aurelie Moeremans yang berjudul Broken Strings mendadak viral karena keberaniannya mengungkap sisi gelap industri hiburan dan pengalaman pribadinya sebagai korban child grooming. Aurelie Moeremans menceritakan bagaimana seorang pria dewasa, yang disamarkan dengan nama Bobby, masuk ke kehidupannya saat ia masih berusia 15 tahun dan melakukan manipulasi sistematis.

Melalui tulisannya, Aurelie berharap masyarakat bisa lebih waspada terhadap pola pendekatan orang dewasa yang mencurigakan. Berikut adalah lima ciri child grooming yang diidentifikasi dari pengalaman Aurelie Moeremans yang ia bagikan dalam Broken Strings ebook:

1. Pemberian Perhatian dan Hadiah Berlebihan

Pelaku biasanya membangun kepercayaan dengan memberikan perhatian yang sangat intens, pujian, hingga hadiah atau uang. Tujuannya adalah membuat anak merasa "istimewa" dan menciptakan rasa utang budi secara emosional kepada pelaku.

2. Isolasi dari Lingkungan Sosial

Dalam Broken Strings, Aurelie mengungkap bagaimana pelaku secara perlahan memisahkan dirinya dari realitas, termasuk menjauhkan hubungan dengan orang tua dan teman sebaya. Hal ini dilakukan agar korban hanya bergantung sepenuhnya pada pelaku.

3. Kontrol terhadap Privasi dan Penampilan

Tanda bahaya lainnya adalah mulai adanya kontrol terhadap hal-hal pribadi. Aurelie menceritakan bagaimana pelaku mendikte cara berpakaiannya hingga membatasi akses komunikasinya dengan dunia luar, yang merupakan bentuk penguasaan penuh atas diri korban.

4. Eksploitasi Ketimpangan Kuasa

Pelaku menggunakan statusnya sebagai orang dewasa atau figur otoritas untuk mendominasi keputusan anak. Ketimpangan usia yang jauh (dalam kasus Aurelie, pelaku berusia hampir dua kali lipat darinya) memudahkan predator untuk memanipulasi pemikiran anak yang belum matang.

5. Doktrin "Rahasia Spesial"

Predator sering menanamkan pemikiran bahwa hubungan mereka adalah rahasia yang tidak boleh diketahui siapapun. Hal ini menciptakan beban psikologis bagi anak dan membuat mereka takut untuk melapor atau mencari bantuan karena merasa terikat janji.

"Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku di-grooming waktu umur 15 tahun... ditulis tanpa romantisasi, dari sudut pandang korban," tulis Aurelie dalam unggahan media sosialnya terkait buku tersebut.

Kisah Aurelie menjadi pengingat bagi para pendidik dan orang tua bahwa child grooming tidak selalu dimulai dengan kekerasan fisik, melainkan sering kali diawali dengan kenyamanan semu yang mematikan. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya