Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
Film The Great Flood menjadi salah satu tontonan Netflix yang cukup banyak dibicarakan, belakangan bukan hanya karena skala bencana dan efek visualnya yang besar, tetapi juga karena sensasi kebingungan yang dirasakan sebagian penonton setelah film berakhir. Alih-alih meninggalkan kesan cerita yang utuh, film ini justru memunculkan banyak pertanyaan tentang arah narasi dan maksud sebenarnya dari kisah yang disampaikan.
Pada paruh awal, The Great Flood masih mudah diikuti. Penonton disuguhkan situasi bencana banjir besar, kepanikan warga di gedung tinggi, serta perjuangan tokoh utama untuk bertahan hidup. Konflik bersifat fisik dan jelas, mulai dari naik ke dataran lebih tinggi, menyelamatkan diri, dan menghindari maut. Namun, setelah itu, film mulai bergeser ke arah cerita fiksi ilmiah yang jauh lebih kompleks.
Kebingungan penonton mulai muncul ketika film memperkenalkan konsep pengulangan peristiwa, simulasi realitas, serta time travel tanpa penjelasan. Cerita tidak lagi berjalan linear, melainkan berputar-putar dengan alur mundur, maju, hingga versi kejadian yang terus berubah. Akibatnya, penonton kesulitan memahami mana peristiwa yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya simulasi.
Masalah lain terletak pada terlalu banyaknya ide yang dimasukkan dalam durasi film yang terbatas. The Great Flood tidak hanya membahas bencana alam, tetapi juga kehancuran umat manusia, eksperimen ilmiah, hingga kelanjutan hidup manusia dalam bentuk baru. Ide-ide tersebut hadir hampir bersamaan, tanpa cukup waktu untuk dikembangkan secara mendalam.
Alih-alih memperjelas cerita, film justru mencoba menyeimbangkan kerumitan tersebut dengan drama emosional hubungan ibu dan anak. Sayangnya, pendekatan ini terasa berulang dan terlalu ditekan, sehingga tidak sepenuhnya membantu penonton memahami inti konflik. Emosi yang seharusnya memperkuat cerita malah terasa dipaksakan di tengah alur yang sudah rumit.
Secara visual, The Great Flood tetap memikat. Adegan banjir, sampai kehancuran kota ditampilkan dengan rapi dan intens. Namun, kekuatan visual tersebut tidak selalu diimbangi dengan struktur cerita yang jelas. Alhasil, film ini lebih terasa seperti rangkaian adegan spektakuler ketimbang satu cerita utuh.
Bagi sebagian penonton, The Great Flood tetap menghibur sebagai film bencana penuh efek visual, namun bagi yang mengharapkan alur cerita yang rapi dan mudah dipahami, film ini justru seperti menggantung. Sumber: Variety.
Lisa kini dipastikan akan membintangi film komedi romantis terbaru Netflix yang disebut terinspirasi dari film klasik Notting Hill (1999).
Setelah hampir empat tahun vakum dari konser besar, boy group asal Korea Selatan BTS akhirnya siap menyapa ARMY di seluruh dunia lewat konser comeback yang akan digelar pada 21 Maret 2026
Lagu "Golden" dari film Netflix "KPop Demon Hunters" mencetak sejarah sebagai lagu K-pop pertama yang meraih Grammy.
Ramai Bridgerton Season 4 di Netflix, orang tua perlu waspada terhadap konten eksplisit. Simak saran psikolog dan tips mendampingi remaja saat menonton.
Surat Untuk Masa Mudaku menyoroti perjalanan hidup karakter bernama Kefas, yang diperankan oleh Millo Taslim pada masa muda dan Fendy Chow saat beranjak dewasa.
Kawasan Kota Tua mendadak viral setelah aktor Korea Selatan Ryeoun tertangkap “memberi kode keras” lewat media sosial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved