Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Helsi Herlinda tak Sangka Peran Protagonis di Film Nia Tuai Pujian

Abdillah M Marzuqi
07/12/2025 08:38
Helsi Herlinda tak Sangka Peran Protagonis di Film Nia Tuai Pujian
Helsi Herlinda dalam film Nia(Dok.HO)

AKTRIS Helsi Herlinda dikenal dengan peran antagonis selama dua dekade. Kali ini, Helsi bertransformasi total menjadi karakter protagonis yang menderita dalam film Nia. Film itu menceritakan Ibu Eli, seorang single parent yang harus kehilangan putri kesayangannya karena tragedi kekerasan seksual dan pembunuhan. Film Nia diangkat dari kisah nyata tragis seorang gadis penjual gorengan di Padang.

Helsi menceritakan tawaran untuk berperan itu datang dari sutradara Aditya Gumay. Setelah 20 tahun berperan antagonis, karakter protagonis yang kompleks menjadi tantangan besar yang langsung menarik perhatiannya.

"Seru banget ya. 20 tahunan kan dari Bawang Merah Bawang Putih itu booming tahun 2004, sampai kemarin ini syuting stripping buat SCTV itu antagonis juga. Jadi 20 tahunan jadi antagonis," ujar Helsi.

Transformasi akting ini menuai pujian luar biasa. Bahkan, seorang produser film menyebut kemampuan akting Helsi dalam peran barunya ini bisa disetarakan dengan aktris legendaris Indonesia, Christine Hakim. Bagi Helsi, Christine Hakim adalah idola, panutan, dan level tertinggi dalam urusan akting.

"Aku dapat apresiasi yang enggak aku sangka-sangka, karena ekspektasi aku waktu pas lagi syuting, ya aku syuting aja, aku coba menjadi Bu Eli," tambahnya.

Ia mengaku tertantang untuk membawakan karakter Ibu Eli, yang merupakan seorang ibu Minang yang berjuang, diceraikan suami, dan mengalami kehilangan tragis. "Aku merasa ini ada tantangan baru nih, yang kalau misalnya bisa aku lakuin, ini bisa jadi prestasi sendiri. Karena kesulitannya pasti akan luar biasa banget, dari yang 20 tahun antagonis terus tiba-tiba berubah jadi yang protagonis," tuturnya.

Helsi mengaku melalui proses casting untuk meyakinkan sutradara dan produser. Ia menunjukkan totalitasnya bahkan dari tahap awal.

"Aku cuma kirim video aja sih casting-nya, kirim video ke Kak Adit (Aditya Gumay). Terus aku enggak make-up, aku warna kulit aku bikin gelap. Terus aku berusaha untuk semirip mungkin gayanya seperti Ibu Eli. Terus sedih, lebih ke acting sedih sih waktu itu," kenangnya.

Perbedaan mendasar antara berakting di sinetron dan layar lebar menuntut Helsi untuk menurunkan intensitas aktingnya menjadi lebih natural dan mendalam (inward). Ia mengaku mendalami peran dengan mendengarkan lagu-lagu sedih, terutama lagu Minang. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik