Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Revolusi Spiritualitas Modern: Padre Guilherme Peixoto Mengubah Persepsi Agama Melalui Musik Techno

Despian Nurhidayat
25/11/2025 19:34
Revolusi Spiritualitas Modern: Padre Guilherme Peixoto  Mengubah Persepsi Agama Melalui Musik Techno
Ilustrasi(Dok ist)

FENOMENA unik muncul dari Portugal dan menarik perhatian dunia: Padre Guilherme Peixoto, seorang imam Katolik yang tampil sebagai DJ musik techno. Penampilannya di gereja, festival internasional, hingga di bawah patung Cristo Redentor membuat publik meninjau ulang 
hubungan antara iman, budaya pop, dan spiritualitas generasi muda. 

Kehadirannya menandai pergeseran penting tentang bagaimana musik dapat menjadi medium universal untuk menyentuh batin manusia. 
Padre Guilherme lahir pada 1974 dan ditahbiskan sebagai imam pada 1999. Ia melayani di Keuskupan Agung Braga dan pernah menjadi kapelan militer. 

Popularitasnya meningkat ketika ia menyiarkan set DJ dari dalam gereja selama pandemi. Awalnya hanya bentuk dukungan emosional bagi jemaat, siaran itu justru viral dan membuatnya diundang tampil di berbagai panggung internasional. Ia memanfaatkan musik sebagai bahasa yang mampu menjangkau generasi muda yang merasa jauh dari institusi keagamaan. 

Menurut Fiter Bagus Cahyono, Founder Ruang Lagu, daya tarik fenomena ini tidak hanya muncul dari keberanian seorang pastor tampil sebagai DJ, tetapi juga dari bagaimana musik techno bekerja pada otak manusia. Techno memiliki ritme repetitif, bass rendah yang stabil, dan pola minimalis. 

"Penelitian neuromusikologi menunjukkan bahwa elemen-elemen ini menyinkronkan gelombang otak, menciptakan resonansi tubuh, memicu kondisi flow, menurunkan kecemasan, dan meningkatkan rasa keterhubungan. Yang menarik, efek euforia ini dapat terjadi secara optimal tanpa alkohol," kata dia.

Banyak pendengar mengalami trance ringan yang alami karena tubuh memang responsif terhadap pola ritmis. Efek inilah yang kemudian mendorong tren global sober rave dan conscious clubbing, di mana musik menjadi sumber ekstase sehat tanpa zat tambahan. Fenomena ini bersinggungan dengan apa yang dilakukan Padre Guilherme: menghadirkan energi musik elektronik tanpa kehilangan esensi spiritualnya. 

Penggunaan musik ritmis dalam konteks spiritual sebenarnya bukan hal baru dan hadir di banyak agama. Dalam Islam, tradisi Sufi menggunakan zikir repetitif untuk mencapai kedalaman batin, sementara hadrah modern menggabungkan instrumen kontemporer untuk 
menarik generasi muda. 

Dalam Buddhisme, beberapa komunitas urban memanfaatkan musik ambient elektronik untuk sesi meditasi. Dalam tradisi Hindu, kirtan kontemporer memadukan mantra repetitif dengan instrumen modern untuk menciptakan trance spiritual yang lebih mudah diterima generasi muda. Fenomena lintas agama ini menunjukkan bahwa ritme dan repetisi adalah bahasa universal yang menghubungkan tubuh, emosi, dan spiritualitas. 

Fenomena Padre Guilherme memperlihatkan bahwa spiritualitas modern bergerak menuju bentuk yang lebih inklusif dan relevan. Generasi muda mencari pengalaman yang autentik, bukan sekadar bentuk ritual. Musik techno memberikan ruang itu: ruang untuk merasakan, menyatu, dan hadir secara penuh. Di tangan seorang imam, musik ini menjadi medium yang mempertemukan tradisi dengan budaya kontemporer. 

Menariknya, elemen-elemen psikologis techno juga menciptakan peluang besar dalam dunia bisnis melalui sonic branding. Ritme repetitif memudahkan ingatan, frekuensi tertentu membentuk mood, dan struktur musik dapat membangun persepsi kualitas terhadap brand. Di tengah kejenuhan visual, audio menjadi pembeda strategis. 

"Sebagai pendiri Ruang Lagu, saya melihat bahwa audio branding adalah salah satu alat komunikasi paling kuat saat ini. Musik yang dirancang dengan pemahaman psikologi ritme dapat membentuk rasa aman, keakraban, hingga kepercayaan. Identitas suara yang baik tidak 
hanya terdengar—tetapi dirasakan dan membekas dalam memori jangka panjang. Cara techno menciptakan euforia alami tanpa alkohol menjadi gambaran bagaimana audio branding bekerja: halus, emosional, dan efektif," jelas Fiter Bagus Cahyono.
 
“Ritme repetitif techno memengaruhi otak secara alami, menciptakan fokus dan euforia tanpa alkohol. Ini relevan bukan hanya untuk spiritualitas, tetapi juga untuk sonic branding. Musik dapat menjadi identitas emosional sebuah brand ketika dirancang dengan pemahaman 
psikologis yang tepat," pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya