Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Musik Techno Harus Jadi Jembatan Manusia dan Mesin, bukan sekadar Algoritma ‎

Rifaldi Putra Irianto
10/11/2025 20:37
Musik Techno Harus Jadi Jembatan Manusia dan Mesin, bukan sekadar Algoritma ‎
Ilustrasi musik techno.(Dok. Freepik)

SETELAH sempat tenggelam di awal 2010-an oleh gelombang EDM komersial, musik techno kini bangkit kembali. Bukan sekadar sebagai genre klub, tapi sebagai bentuk ekspresi budaya baru. Di beberapa negara, festival seperti Awakenings di Belanda hingga Time Warp di Jerman, kembali menarik ribuan penonton. Artis seperti Charlotte de Witte, Amelie Lens, Reinier Zonneveld hingga Anyma menjadi simbol generasi baru musik techno.

Di Indonesia, kebangkitan ini terasa di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bali hingga Yogyakarta. Cukup banyak pesta musik yang menampilkan lebih banyak set melodic techno dan progressive house dibanding EDM. Musik techno disini merupakan musik dengan tempo konstan 120–140 BPM dan struktur ritmis yang berulang.

Di tengah era otomatisasi dan kembalinya musik techno, muncul pertanyaan apakah emosi manusia masih punya tempat dalam dunia yang semakin digital. Founder Ruang Lagu, Fiter Bagus Cahyono, menyatakan pandangannya.

“Musik techno itu seperti denyut jantung buatan manusia. Ia bisa menenangkan atau membangkitkan, tergantung seberapa sadar kita mendengarnya. Tapi yang paling penting, musik harus tetap punya jiwa manusia, bukan sekadar algoritma," kata Fiter dalam keterangan pers yang diterima Senin (10/11).

Bila merujuk pada studi klasik dari PubMed (1998), menunjukkan bahwa mendengarkan musik techno selama 30 menit dapat meningkatkan kadar adrenalin, beta-endorfin, dan dopamin. Hormon-hormon inilah yang membuat pendengarnya merasa bersemangat, fokus, dan terhubung secara emosional dengan alunan beat. Tubuh ikut menari bukan karena perintah, tapi karena dorongan biologis.

Namun musik techno yang terlalu keras dan monoton, bila didengarkan terlalu lama, dapat menimbulkan kelelahan neurologis (neural fatigue). Penelitian di PubMed (2019) menemukan bahwa otak yang terpapar pola ritmis berulang menunjukkan penurunan sensitivitas terhadap perubahan nada dan struktur musik lainnya. Dalam jangka panjang, ini dapat membuat seseorang hanya tertarik pada musik dengan intensitas tinggi dan kehilangan kepekaan terhadap nuansa lembut.

Fiter pun menyatakan, Music Techno semestinya bukan hanya musik elektronik melainkan jembatan antara manusia dan mesin, antara sains dan spiritualitas. Dia pun menegaskan bahwa efek hipnotik musik bukan hanya ‎berasal dari pola beat, melainkan juga dari niat penciptaannya.

"Kami di Ruang Lagu percaya bahwa resonansi terdalam musik muncul dari empati. Ketika manusia mencipta dari perasaan, bukan dari mesin, pendengarnya ikut terhubung, bukan sekadar terprogram," jelasnya.

Melalui riset dan praktik kreatifnya, Ruang Lagu pun mencoba mengembalikan makna musik ke titik asalnya, bukan sekadar hiburan, tapi pengalaman manusia yang menyatukan tubuh, pikiran, dan emosi. Menghadirkan startup musik yang merayakan sisi manusiawi dalam setiap nada. menciptakan lagu, jingle, dan karya audio yang lahir dari empati, bukan algoritma.

“Musik bukan tentang frekuensi suara, tapi frekuensi hati. Techno, dalam bentuk terbaiknya, adalah meditasi modern bagi manusia yang hidup di tengah mesin," tukasnya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya