Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
SUTRADARA Joko Anwar memaparkan dua syarat yang harus dipenuhi sebuah narasi agar layak diangkat menjadi film oleh rumah produksinya, Come and See Pictures.
Kedua syarat ini penting dipenuhi untuk memastikan bahwa setiap karya tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki kedalaman dan inovasi.
"Semua film itu harus ada dua yang pertama harus social-relevant, jadi ngomongin hal-hal yang sedang kita alami sebagai orang Indonesia," kata Joko saat perkenalan film komedi horor Ghost in The Cell, dikutip Senin (28/7).
Ia menjelaskan bahwa Ghost in The Cell pun memiliki komentar sosial yang kuat, sebab film ini membicarakan tentang miniatur Indonesia di dalam penjara.
"Mungkin kenapa kita set-nya penjara, mungkin sebagian kita merasa terpenjara dan kita harus bersatu untuk mengalahkan suatu kekuatan yang
mungkin akan membuat kita berbahaya dalam hidup kita-kita," ungkap Joko, tanpa mengungkapkan terlalu banyak detail.
Syarat kedua adalah narasi harus bisa dieksplorasi dengan pendekatan treatment yang berbeda sehingga penceritaan menjadi inovatif.
"Dan film ini juga kalau nanti teman-teman lihat filmnya, berbeda treatment-nya dari treatment yang pernah ada atau pernah kita bikin sebelumnya," jelasnya, menjanjikan pengalaman sinematik yang segar bagi penonton.
Ghost in The Cell bukan ikutan tren horor komedi yang sedang populer. Joko mengungkapkan bahwa ide cerita ini sudah ada sejak satu dekade
lalu, jauh sebelum maraknya film horor komedi saat ini.
Ia menambahkan bahwa ide tersebut bahkan sudah resmi diluncurkan pada 2018. Kemudian melewati tahap praproduksi selama enam tahun dari 2018 hingga 2024 dan baru mulai diproduksi pada 2025.
Meskipun ide dasarnya sudah lama, Joko Anwar dan timnya terus melakukan penyesuaian agar Ghost in The Cell tetap relevan dengan isu-isu terkini di Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, juga diumumkan bahwa Ghost in The Cell merupakan kolaborasi kedua Come and See Pictures dengan Barunson E&A.
Sebelumnya, Barunson E&A telah berperan sebagai sales agent" untuk film drama misteri Legenda Kelam Malin Kundang.
Kini, di Ghost in The Cell, rumah produksi asal Korea Selatan itu tidak hanya kembali sebagai sales agent, tetapi juga terlibat sebagai produser eksekutif. Kerja sama ini turut melibatkan Rapi Films.
Ghost in The Cell yang merupakan film horor komedi, dijadwalkan akan dirilis di bioskop pada 2026. Saat ini masih tahap penyuntingan, menurut Joko. (Ant/Z-1)
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Joko Anwar menjelaskan bahwa pemilihan latar penjara di film Ghost in the Cell bukan sekadar untuk membangun suasana seram, melainkan sebagai metafora kondisi masyarakat.
Produser dan sutradara kompak menyebut telah menyiapkan universe untuk Pelangi di Mars, baik itu berupa sekuel, prekuel ataupun spin-off.
Surat Untuk Masa Mudaku menyoroti perjalanan hidup karakter bernama Kefas, yang diperankan oleh Millo Taslim pada masa muda dan Fendy Chow saat beranjak dewasa.
Gina S Noer memaparkan bahwa film Esok Tanpa Ibu bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan sebuah eksplorasi mengenai relasi kompleks antara AI, sosok ibu, dan lingkungan hidup.
Sejak kemunculannya, Nussa telah menjadi ikon animasi yang lekat dengan nilai-nilai positif bagi anak-anak.
Christine Hakim tidak kuasa menahan air mata saat membagikan pengalamannya menghidupkan sosok Ibu Wibisana dalam film adaptasi novel karya Leila S Chudori, Laut Bercerita.
Menurut Dian Sastrowardoyo, sosok Kinan dalam film Laut Bercerita adalah representasi perempuan yang sangat inspiratif.
Reza Rahadian mengungkapkan bahwa dalam mendalami karakter Biru Laut, ia memilih untuk tetap setia pada pondasi awal yang telah dibangun penulis.
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved