Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
BEGITU lampu teater dipadamkan, adegan pertama film The Point Men langsung dibuka dengan ketegangan saat 23 misionaris Korea Selatan (Korsel) melintasi jalan dengan menaiki bus di tengah gurun.
Mereka kemudian dicegat oleh pasukan Taliban. Adegan tembakan diluncurkan dan dengan segera 23 misionaris dipindahkan ke kendaraan lain, hendak ditahan entah ke mana, sementara bus yang mereka tumpangi ludes dibakar.
Singkat cerita, adegan beralih pada kepanikan orang-orang di pemerintahan Korsel, termasuk Jung Jae Ho (Hwang Jung Min), yang merupakan diplomat ulung dari kementerian luar negeri.
Baca juga : Hyun-bin dan Son Ye-jin Rayakan Ulang Tahun Pertama Buah Hati
Dia pun ditugaskan pemerintah Korsel untuk menjadi negosiator ke pemerintah Afghanistan untuk menyelamatkan 23 tawanan tersebut. Tetapi, usaha pertama gagal. Kesepakatan tidak menemui titik terang.
Di sisi lain, intelijen dari Badan Intelijen Nasional (NIS) Park Dae Sik (Hyun Bin) pun ditugaskan.
Dae Sik dikenal ahli dalam masalah Timur Tengah dan Asia Tengah. Dia punya cara sendiri dan lebih suka menjalankan caranya sendiri dalam mengupayakan pembebasan tawanan Korea Selatan.
Baca juga : Promosikan Film Barbie di Korsel, Margot Robbie Tuai Reaksi Beragam Netizen
Jae Ho dan Dae Sik bertemu namun prinsip mereka berbeda sehingga sulit bekerja sama.
Jae Ho sangat memedulikan negosiasi dengan tetap memperhatikan citra Korsel di dunia sehingga langkah yang diambil cenderung hati-hari. Sementara Dae Sik sebaliknya. Hingga di satu titik keduanya mulai percaya dan terbuka satu sama lain. Masing-masing mulai memahami jalan berbeda yang ditempuh.
Negosiasi pertama sudah gagal. Kesempatan kedua dengan cara lain juga gagal. Upaya ketiga juga gagal. Sementara mereka berkejaran dengan tenggat waktu yang diberikan pihak Taliban yang semakin mepet.
Baca juga : Hyun Bin Hadirkan Sentuhan Baru di Confidential Assignment 2
Pihak Taliban ingin Korsel membebaskan tawanan Taliban dari Kabul, tetapi hal itu mustahil untuk dilakukan menimbang kepentingan negara Korsel.
Film ini penuh dengan intrik politik di mana penonton bisa menyimak bagaimana alotnya negosiasi yang dilakukan. Apalagi peristiwa ini didasarkan pada kisah nyata yang terjadi pada 2007, walau unsur fiksi ditambahkan sebagai daya tarik cerita.
Diceritakan dalam film tersebut, pemerintah Korsel notabene menjadi sekutu Amerika Serikat (AS) dan Taliban juga tidak menyukai misionaris sebab keyakinan agama yang menurut mereka tak bisa ditoleransi.
Baca juga : The Beekeeper Puncaki Box Office
Upaya membebaskan 23 misionaris oleh Korsel di satu sisi jadi tugas kemanusiaan, tapi di sisi lain kepentingan politik bermain di antaranya.
Karena jalan negosiasi yang ditempuh Jae Ho gagal berkali-kali, dia pun diperintahkan untuk kembali ke Korsel sementara menteri luar negeri yang pada akhirnya turun tangan.
Namun, di detik-detik terakhir, Jae Ho tetap bersikeras menyelamatkan tawanan Korsel yang tersisa dengan jalan terakhir, yaitu negosiasi langsung dan tatap muka dengan pemimpin Taliban.
Baca juga : Tom Hollander Dapat Bonus Besar, Ternyata Punya Tom Holland
Ini menjadi cara terakhir yang paling nekat karena mempertaruhkan antara hidup dan mati, terutama bagi Jae Ho, yang berhadapan langsung dengan pemimpin Taliban. Dia harus mampu bersiasat dan meyakinkan Taliban untuk membebaskan tawanan Korsel yang tersisa.
Plot yang dihadirkan The Point Men sebetulnya sederhana, bisa dibilang mudah untuk ditebak ke mana cerita akan bermuara. Patut disayangkan plot film ini kurang gereget sehingga penonton tidak mendapat kesempatan untuk menyelami dinamika yang lebih dalam. Demikian pula dengan konflik demi konflik yang dihadapi para karakternya.
Terlepas dari hal tersebut, The Point Men tetap menjadi tontonan yang asyik dan menghibur. Boleh dibilang, justru karakter Qasim atau Lee Bong Han yang langsung memikat perhatian penonton. Siapa yang menyangka karakter penuh jenaka dan terkadang konyol itu diperankan oleh Kang Ki Young.
Baca juga : Bene Dion Tertantang Saat Syuting Agak Laen
Aktor ini sebelumnya juga dikenal membintangi Extraordinary Attorney Woo sebagai pengacara senior yang punya sisi serius.
Dalam The Point Men, Kang Ki Young dengan fasih berbicara bahasa Afghanistan dan dia merupakan seorang kunci penerjemah di antara Korsel dan Afghanistan.
Sementara itu, peran Hwang Jung Min dan Hyun Bin memang tidak diragukan lagi dalam film-film sejenis. Dalam proyek The Point Men, kedua aktor papan atas ini untuk pertama kalinya berduet sebagai bromance.
Baca juga : Indra Jegel Sempat Sakit Saat Syuting Agak Laen
Walaupun keduanya sama-sama memiliki daya tarik, namun entah kenapa chemistry yang terjalin kurang membekas di benak penonton. Justru chemistry yang terbangun lebih kuat di antara karakter yang dimainkan Hyun Bin dan Kang Ki Young.
Peran Hyun Bin dalam adegan aksi bisa dikatakan jadi kelebihan bagi The Point Men, tetapi itu pun tak ditampilkan secara maksimal dan kurang memuaskan bagi penonton.
Meski begitu, adegan aksi yang patut menjadi sorotan misalnya adegan Dae Sik yang mencoba mengejar pasukan Taliban dan berkelahi di dalam mobil.
Baca juga : Hadir di Pemutaran Teaser Film Glen, Mutia Ayu Mengaku Rindu
Walau terdapat kekurangan di sana-sini, film garapan sutradara Yim Soon Rye tersebut tetap menarik minat penonton terutama di Korsel, apalagi menawarkan wajah aktor papan atas.
Visual yang ditampilkan juga cukup menjanjikan. Meski pengambilan gambar dikerjakan di Yordania, The Point Men mampu menyuguhkan latar tempat yang merepresentasikan Afghanistan dengan segala ketegangannya di masyarakat.
The Point Men menempati posisi kedua di box office Korsel pada pekan ini, mengalahkan Avatar: The Way of Water, yang menduduki posisi ketiga. Sementara posisi pertama ditempati animasi Jepang The First Slam Dunk.
Baca juga : Jesse McCartney Rilis Single Faux Fur
Per Rabu (1/2) waktu setempat, The Point Men telah meraup pendapatan kotor sekitar US$12,6 juta, menurut data dari Korean Film Council (KOFIC).
Film The Point Men pertama kali diputar di bioskop Korsel pada 18 Januari lalu. Kini film tersebut sudah dapat dinikmati di beberapa negara lain, termasuk di Indonesia yang tayang di jaringan bioskop CGV sejak Rabu (1/2). (Ant/OL-1)
Baca juga : Zee JKT48 Mengaku Sakit Lambung Saat Syuting Ancika Dia yang Bersamaku 1995
Mengingat usia buah hatinya yang masih sangat kecil, Nikita Willy lebih fokus pada pengenalan suasana dan nilai-nilai spiritual ketimbang praktik fisik berpuasa.
Bagi Atta Halilintar, keterlibatannya dalam Lamak Rasa adalah bentuk komitmen untuk mengangkat cita rasa lokal ke level yang lebih kompetitif.
Meski memiliki latar belakang profesi yang berbeda, Syifa Hadju dan El Rumi ternyata memiliki satu kesamaan prinsip: pantang menyantap makanan berat sesaat setelah azan Maghrib berkumandang.
Pandji mengatakan, sejak awal hingga akhir pemeriksaan, suasana yang terbangun cukup bersahabat. Ia menilai proses klarifikasi berjalan jelas dan runut, tanpa tekanan.
Tepat pada 27 Januari 2026, Maia Estianty genap berusia 50 tahun dan ia mengaku kini jauh lebih sadar akan pentingnya menjaga kebugaran tulang dan sendi.
Berkaca dari kasus Boiyen, simak aturan hukum Cerai Gugat di Pengadilan Agama. Apa bedanya dengan talak, syarat pengajuan, dan prosedur mediasinya?
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyatakan siap menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat jika status nuklir negaranya diakui, namun ia menutup pintu bagi Korea Selatan.
Kolaborasi CBI-KCB hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui kerangka kerja yang aman dan patuh terhadap regulasi perlindungan data pribadi di kedua negara.
Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol divonis penjara seumur hidup. Ia terbukti mendalangi pemberontakan melalui upaya darurat militer pada Desember 2024 lalu.
Bank Woori Saudara hadirkan WBK Pre-Registration Service untuk mempermudah WNI membuka rekening dan mengakses layanan perbankan di Korea Selatan.
BANDUNG International Food & HoReCa Expo (BIFHEX) yang memasuki tahun ke-11 penyelenggaraannya, yang merupakan ajang B2B terbesar di Jawa Barat.
Dua atlet ski lintas alam Korea Selatan didiskualifikasi dari Olimpiade Milan-Cortina setelah peralatan mereka terdeteksi mengandung zat fluor terlarang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved