Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
MUSISI kelahiran California yang kini sedang ramai dibicarakan, Sophia Alexa, baru saja merilis EP keduanya, Before I Go. EP itu dirilis setahun setelah single debutnya House Of Cards dan EP debutnya Groundwork yang telah mengumpulkan lebih dari 3 juta streaming di seluruh dunia sejak dirilis.
EP Before I Go juga dirilis bersamaan dengan single World's Heaviest Shoes, yang hadir sebagai kelanjutan dari single-single sebelumnya, The Way You See Me dan Going To California.
Tentang beberapa lagu di EP ini, Sophia bercerita, "Aku menulis World's Heaviest Shoes berdasarkan ide tentang berpisah dengan seseorang yang telah benar-benar move on, sedangkan kita masih berada di tempat yang sama, mengenang semua kenangan dan belum bisa move on. Saat proses penulisan, penulis yang saat itu bersamaku menyebutkan istilah world's heaviest shoes (sepatu terberat di dunia) untuk menggambarkan perasaan terjebak dan tidak bisa beranjak pergi. Chorus lagu ini seolah merupakan teriakan minta tolong seraya bertanya mengapa tidak ada orang lain yang memperhatikan kita di situasi terjebak tersebut. Aku juga suka bagaimana lagu ini berakhir dengan situasi putus asa dan penuh amarah, karena kita seolah ditinggalkan sendiri tanpa jawaban."
Baca juga: Sophia Alexa Rilis Single dan Video Klip Going To California
"To A Fault adalah lagu yang ingin sudah lama ingin aku tulis. Aku ingin menggunakan konsep tentang perasaan ketika kita terlalu setia pada suatu hal, sampai itu menjadi hal yang buruk. Ketika sifat dan kepribadian baik kita malah merugikan diri sendiri. Lagu ini aku buat untuk orang-orang yang merasa seperti kebaikan mereka malah dimanfaatkan orang lain," ujar Sophia.
"EP Before I Go adalah karya tentang aku yang menavigasi hidupku melalui hubunganku dengan diri sendiri maupun dengan dunia. Dimulai dengan To A Fault yang menggambarkan kesetiaanku yang malah dimanfaatkan dan menjadi buruk untuk diri sendiri, diikuti lagu-lagu lain yang menyentuh tentang berbagai ketakutanku seputar hubungan, seperti diam dan menetap di satu tempat, berubah terlalu cepat maupun terjebak di masa lalu. Aku rasa EP ini adalah caraku membagikan pengalaman dan pelajaranku dalam hidup untuk mudah-mudahan bisa menjadi semakin terhubung dengan para pendengarku."
Sophia Alexa adalah seorang penyanyi dan penulis lagu dengan latar belakang yang menarik; lahir dari orangtua Jerman dan Amerika Serikat di California, ia dibesarkan di Amsterdam dan telah tinggal di London selama lebih dari 10 tahun.
Karena sering berpindah sekolah dan kota, ia sering mendapati dirinya merasa seperti orang luar dan musik adalah satu-satunya hal yang ia dapat andalkan.
Seraya ia tumbuh, Sophia mengembangkan cinta abadi untuk berbagai musisi klasik seperti Joni Mitchell, Carole King, Stevie Nicks dan Neil Young, yang semuanya telah memengaruhi gayanya, memadukan musik pop yang terinspirasi folk dengan suaranya yang penuh perasaan sebagai fokus.
Sebagai seorang musisi yang menguasai inspirasi dari berbagai ikon masa lalu, Sophia Alexa terus membangun basis penggemarnya di Asia — Indonesia, India, Malaysia, Filipina, dan Taiwan saat ini berada di Top 20 Streaming Markets-nya. (RO/OL-1)
Sebelum memutuskan untuk berkonsultasi dengan ahli, Audy Item sempat mencoba berbagai metode diet dan olahraga berdasarkan informasi dari internet maupun rekomendasi teman.
Mengingat usia buah hatinya yang masih sangat kecil, Nikita Willy lebih fokus pada pengenalan suasana dan nilai-nilai spiritual ketimbang praktik fisik berpuasa.
Bagi Atta Halilintar, keterlibatannya dalam Lamak Rasa adalah bentuk komitmen untuk mengangkat cita rasa lokal ke level yang lebih kompetitif.
Meski memiliki latar belakang profesi yang berbeda, Syifa Hadju dan El Rumi ternyata memiliki satu kesamaan prinsip: pantang menyantap makanan berat sesaat setelah azan Maghrib berkumandang.
Pandji mengatakan, sejak awal hingga akhir pemeriksaan, suasana yang terbangun cukup bersahabat. Ia menilai proses klarifikasi berjalan jelas dan runut, tanpa tekanan.
Tepat pada 27 Januari 2026, Maia Estianty genap berusia 50 tahun dan ia mengaku kini jauh lebih sadar akan pentingnya menjaga kebugaran tulang dan sendi.
"Aku menulis Going To California ketika aku merasa terjebak di London, dan aku membayangkan untuk pergi sesaat ke suatu tempat yang berbeda."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved