Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DILIP Kumar, salah satu bintang film Bollywood yang paling berprestasi dan dihormati, meninggal pada Rabu (7/7) dalam usia 98 tahun. Kepergiannya memicu ucapan dukacita dari seluruh sinema dan politik India.
Bersama Dev Anand dan Raj Kapoor, Kumar ialah salah satu dari tiga nama besar yang mendominasi masa keemasan perfilman India dari 1940-an hingga 1960-an. Ia menikmati karier selama lebih dari 50 tahun dengan hampir 60 film.
Dijuluki Raja Tragedi karena ketampanannya, rambut acak-acakan, dan suaranya yang dalam, ia memainkan peran utama dalam beberapa film industri film India yang paling sukses secara komersial pada masa itu. Tapi dia kehilangan ketenaran internasional setelah menolak kesempatan untuk bermain sebagai Sherif Ali dalam film klasik David Lean pada 1962 berjudul Lawrence of Arabia. Bagian itu jatuh ke tangan aktor Mesir yang kurang dikenal, Omar Sharif.
Kumar lahir sebagai Mohammed Yusuf Khan pada 11 Desember 1922 di Peshawar, Pakistan. Saat itu, kawasan tersebut merupakan bagian dari India yang dikuasai Inggris. Ayahnya ialah seorang pedagang buah yang membawa keluarganya ke ibu kota hiburan India pada 1930-an.
Namun sang putra menolak kesempatan untuk mengambil alih bisnis ketika aktris Devika Rani melihatnya di kios buah ayahnya di Bombay saat itu. Pertemuan ini membawanya ke film pertamanya, Jwar Bhata, pada 1944.
Rani lantas membujuknya untuk mengganti nama. Dia pun memilih Dilip Kumar. Ia menyembunyikan perbuatan itu dari ayahnya yang tidak menyetujui keputusannya.
Meskipun Jwar Bhata gagal dan majalah film terkemuka mengkritik penampilannya, Kumar tidak terpengaruh dan akhirnya berhasil menembus film Milan pada 1946. Salah satu perannya yang paling diingat yakni roman sejarah mewah berjudul Mughal-e-Azam. Film ini berdasarkan kehidupan salah satu pangeran Mughal besar India.
Film tersebut, yang dirilis pada 1960, dibuat selama delapan tahun dan menelan biaya yang luar biasa sebesar 15 juta rupee. Untungnya, film itu menjadi salah satu yang terlaris di Bollywood sepanjang masa.
Kumar, yang suka mengutip tokoh Hollywood Marlon Brando, Gary Cooper, dan Spencer Tracy sebagai inspirasinya, kemudian mendapat pujian pada 1964 untuk film nasionalistik Leader. Film ini berlatar belakang perang melawan Tiongkok dan Pakistan saat itu.
Pada 1970-an ia memperoleh lebih sedikit peran. Maklum, saat itu aktor muda seperti Amitabh Bachchan menjadi pusat perhatian.
Dia bahkan mengambil istirahat lima tahun setelah serangkaian kegagalan filmnya. Ia kembali bermain film pada 1981 dengan hit Kranti (Revolusi) dan bersama Bachchan di Shakti (Kekuatan) pada tahun berikutnya. Dan ditambah serangkaian peran karakter.
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
Meski secara teknis lapangan tidak jauh berbeda dengan turnamen lain, ia berharap kondisi lingkungan pertandingan lebih optimal saat laga dimulai.
Kamera utama Oppo seri ini memiliki resolusi 200MP, yang diyakini dapat menghasilkan foto dengan detail tinggi dalam berbagai kondisi pencahayaan.
KELOMPOK ekstremis Hindu dilaporkan berupaya menghalangi perayaan Natal di India. Para pakar dan pemantau hak asasi manusia memperingatkan lonjakan tajam serangan.
TIONGKOK memulai pembangunan bendungan raksasa di Sungai Yarlung Zangbo, Tibet, hingga membuat khawatir sejumlah negara seperti Bangladesh dan India.
Tim dokter spesialis gajah dari India telah melakukan diagnosis awal, mempelajari kondisi kesehatan serta kesejahteraan gajah.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Aktor pemenang Piala Emmy, Timothy Busfield, 68, telah menjalani persidangan perdana setelah menyerahkan diri kepada pihak berwenang di Albuquerque, New Mexico.
Nopek Novian mengaku melakukan riset mendalam dengan mengamati berbagai referensi aktor yang pernah memerankan tokoh serupa, salah satunya adalah budayawan senior Sujiwo Tejo.
Menurut Oki Rengga, keberanian untuk mencoba genre yang berbeda merupakan upayanya untuk terus meningkatkan kualitas dan kapasitas akting di industri film tanah air.
Keberhasilan Oki Rengga dalam membawakan dialek Jawa tanpa jejak dialek Sumatra di film Sebelum Dijemput Nenek mengundang rasa penasaran mengenai proses pendalaman karakternya.
Melampaui sekadar akting di depan kamera, para aktor seperti Sri Isworowati, Dodit Mulyanto, hingga Oki Rengga harus menghadapi tantangan fisik dan emosional yang cukup berat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved