Sabtu 05 Desember 2020, 05:40 WIB

Cegah Kejahatan dengan Jaring Pengaman Sosial

Rahmatul Fajri | Fokus
Cegah Kejahatan dengan Jaring Pengaman Sosial

Antara/Sigid Kurniawan
RILIS KASUS BEGAL PESEPEDA: Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana (tengah) didampingi Kabid Humas Kombes Yusri Yunus (kiri)

DATA Badan Pusat Statistik menyebut pengangguran di Ibu Kota kini sebesar 10,95% atau setara 572.780 orang. Bila dibandingkan dengan keadaan pada Agustus 2019, pengangguran di DKI Jakarta naik 4,41% atau bertambah 233.378 orang.

Penyebab kenaikan tingkat pengangguran itu bermacam-macam, di antaranya berhenti bekerja karena perusahaan terdampak pandemi covid-19 atau bisa pula karena adanya pemberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Bertambahnya jumlah pengangguran ini dikhawatirkan dapat memicu meningkatnya potensi kriminalitas. Pasalnya, dengan kesulitan dan impitan ekonomi justru akan memaksa orang menempuh jalan pintas, bahkan kriminal guna mendapatkan sesuap nasi.

Kriminolog dari Universitas Indonesia Ferdinand Andi Lolo menilai ada sedikit korelasi antara pengangguran dan tingkat kriminalitas. Ia merujuk pada penelitian di Amerika Serikat, yakni setiap kenaikan 1% pengangguran, ada kenaikan 2,22% tingkat kriminalitas.

Menurutnya, pengangguran tidak bisa berdiri sendiri. Ada faktor lain yang memicu seseorang melakukan kejahatan. "Apakah pengangguran berpotensi meningkatkan kriminalitas? Bisa dikatakan begitu. Karena pengangguran adalah faktor yang apakah pengangguran mendorong kriminalitas, tapi bukan satu-satunya faktor," kata Ferdinand, Rabu (2/12).

Ferdinand mengatakan seseorang bisa melakukan tindakan kriminal juga dipicu hal lain. Ia mengatakan pelaku kejahatan ialah aktor rasional. Seorang penjahat, sambung dia, akan menimbang apa keuntungan yang didapat ketimbang risiko yang dihadapi.

Pelaku melihat juga kondisi korban dan faktor lingkungan yang mendukung untuk memuluskan aksi jahatnya itu. "Misalnya, kalau targetnya mudah, kemudian juga bisa terhindar penegak hukum, dia akan melakukannya seperti itu," ujar Ferdinand.

Ferdinand menyoroti fenomena kejahatan yang ramai terjadi dalam beberapa waktu terakhir, seperti begal sepeda. Kondisi ini diakuinya bisa terjadi karena pelaku melihat peluang dan kesempatan yang ada.

Ia mengatakan pelaku bukannya tidak punya rasa takut ketika melancarkan aksinya di jalan-jalan utama Ibu Kota. Pelaku kemungkinan melihat peluang nyata untuk beraksi dan kabur lebih mudah serta mendapatkan barang yang gampang untuk dijual kembali. "Artinya, jalan yang lebar memudahkan mereka kabur. Lalu, mengambil barang-barang seperti ponsel yang mudah dijual kembali dan mendapatkan uang dari situ," katanya.

Faktor-faktor pendorong untuk melakukan kejahatan itu sedianya bisa diredam dengan memperkuat jaring pengaman sosial. Salah satu cara dengan memberi bantuan langsung kepada pihak yang kehilangan pekerjaan atau yang selama ini menjadi pengangguran. Bantuan bisa berupa uang dan sembako. Upaya itu setidaknya bisa mencegah seseorang melakukan kejahatan. "Jaring pengaman sosial itu bisa mengurangi motivasi kejahatan," kata dia.

Ia juga mengingatkan pihak kepolisian agar lebih giat melakukan patroli dan mengimbau masyarakat lebih waspada. Tujuannya mencegah dan menutup kesempatan bagi para penjahat beraksi.

Namun, pencegahan tindakan kejahatan tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada polisi. Menurut dia, dengan SDM polisi yang berbanding jauh dari jumlah penduduk dan luasnya wilayah di Ibu Kota, warga pun harus berhati-hati dan awas agar tak menjadi target kejahatan.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga harus berupaya menciptakan rasa aman bagi warga. Salah satu upaya yang bisa dilakukan ialah dengan memperbanyak kamera pengawas atau CCTV.

 

Pelibatan semua pihak

Senada dikatakan kriminolog dari Universitas Indonesia Arthur Josias Simon Runturambi. Ia mengatakan kepolisian juga harus melibatkan semua pihak untuk menciptakan keamanan wilayah guna menekan angka kriminalitas.

Arthur Josias memandang polisi bisa menggandeng akademisi dan tokoh masyarakat untuk mengidentifikasi potensi kriminalitas di wilayahnya. Maklum, tiap-tiap wilayah memiliki karakteristik potensi masalah yang berbeda. Setelah diidentifikasi barulah diramu kebijakan yang mampu menekan potensi kriminalitas itu.

"Jadi, setelah itu implementasinya. Setelah diidentifikasi di wilayah itu potensinya apa, polisi dan stakeholder setempat bisa saling berkolaborasi dan berkomitmen menciptakan rasa aman," kata Arthur.

Pada prinsipnya, imbuh dia, yang terpenting ialah kebijakan yang dikeluarkan harus berkesinambungan. Bukan hanya sebagai program dari satu pimpinan kepolisian. Setelah adanya mutasi jabatan, program itu tak dilanjutkan.

Kapolda Metro Jaya Irjen M Fadil Imran menegaskan Korps Bhayangkara terus berupaya menciptakan rasa aman bagi warga. Dalam hal ini Fadil membawa konsep Kampung Tangguh yang merupakan kolaborasi pemerintah daerah, Forkopimda, dan segenap elemen masyarakat. Kolaborasi tersebut, sambung dia, nantinya dipusatkan di RW dan diharapkan wilayah itu bisa mengelola secara langsung dampak sosial imbas pandemi covid-19.

Mantan Kapolda Jawa Timur ini mengatakan dengan terlibatnya semua pihak, akan tercipta rasa tanggung jawab dan sama-sama menjaga keamanan sehingga mampu meredam potensi kriminalitas. "Bebas narkoba. Bebas hoaks. Bebas radikalisme, intoleransi, dan sebagainya. Insya Allah, saya yakin bisa berjalan dengan baik," kata Fadil.

Kepala Bidang Humas PMJ Kombes Yusri Yunus, menambahkan, kejahatan yang muncul beberapa waktu terakhir mayoritas dipicu faktor ekonomi. Sejumlah kasus perampokan dengan senjata tajam yang ramai di media sosial berhasil diungkap jajaran reserse Polda Metro Jaya dan polres jajaran. Para begundal yang ditangkap mengaku melancarkan aksinya untuk mendapatkan uang. Bahkan, mereka juga tak segan melukai korban jika melawan.

Yusri menuturkan tindakan preemtif dan pencegahan telah dilakukan. Namun, tindakan tegas juga harus diberikan kepada penjahat untuk memberikan efek jera. "Setiap kejahatan yang terjadi pasti akan ditindak tegas," tukas Yusri.

Secara terpisah, Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Audie S Latuheru mengatakan tidak adanya mata pencarian memang menjadi salah satu yang memicu seseorang melakukan tindakan kriminal, seperti merampok. (J-2)

Baca Juga

ANTARA/FAUZAN

Tuntaskan Dahulu Penderitaan Rakyat

👤Agus Mulyawan 🕔Sabtu 12 Juni 2021, 00:30 WIB
Sayangnya, ada sejumlah pihak yang sudah tidak sabar dan bernafsu untuk meraih jabatan dan kekuasaan dengan intrik-intrik politik yang...
Sumber: Satgas Penanganan Covid-19/SMRC/PandemicTalks/Litbang MI

Menyambut Tahun Politik di Tengah Pandemi

👤Media Indonesia 🕔Sabtu 12 Juni 2021, 00:20 WIB
DI tengah penanganan pandemi covid-19 yang belum juga usai, pemberitaan di media massa sudah ramai dengan isu terkait dengan utak-atik...
MI/ADI KRISTIADI

Atasi Covid-19 Lebih Krusial ketimbang Copras-capres

👤Andhika Prasetyo 🕔Sabtu 12 Juni 2021, 00:10 WIB
Para politisi sudah seharusnya punya tanggung jawab untuk membereskan pandemi covid-19 dulu. Apalagi hingga hari ini terjadi kenaikan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kereta Api Makassar-Parepare Membangun Ekonomi dan Peradaban

Belanda pernah membuat jalur kereta api Makassar-Takalar, namun sejak Jepang berkuasa jalur itu dibongkar. Dan baru era sekarang, Sulawesi Selatan kembali memiliki jalur  kereta api

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya