Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
MOODY'S Ratings kembali menjadi sorotan setelah memangkas outlook atau prospek kredit sejumlah emiten besar Indonesia. Dalam revisi terbaru, Moody’s menurunkan outlook tujuh emiten non-keuangan RI menjadi negatif, mengikuti perubahan outlook sovereign Indonesia.
Langkah ini memicu perhatian investor karena emiten yang terdampak merupakan perusahaan strategis, baik BUMN maupun swasta, dengan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
Moody’s Ratings sebelumnya merevisi outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat utama tetap dipertahankan di level Baa2.
Menurut Moody’s, keputusan ini terutama mencerminkan meningkatnya risiko kredibilitas kebijakan di Indonesia, yang terlihat dari:
Namun demikian, Moody’s menilai ketahanan ekonomi domestik masih cukup kuat, didukung faktor struktural seperti sumber daya alam.
Dalam laporan tersebut, tujuh emiten yang outlook-nya direvisi menjadi negatif terdiri dari lima perusahaan yang terkait pemerintah (government-related issuers) serta dua emiten swasta.
Berikut daftar lengkapnya:
Perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia melalui Telkomsel.
Anak usaha Telkom Indonesia yang menjadi operator seluler utama di Tanah Air.
BUMN energi strategis yang berperan besar dalam sektor migas nasional.
Subholding upstream Pertamina yang fokus pada eksplorasi dan produksi migas.
Holding BUMN pertambangan yang membawahi perusahaan tambang besar nasional.
Produsen makanan dan minuman terbesar di Indonesia, terutama produk mi instan.
Emiten alat berat dan tambang yang merupakan bagian dari grup Astra.
Berikut daftar lengkapnya:
| No | Emiten / Perusahaan | Kode Saham | Kategori | Outlook Moody’s |
|---|---|---|---|---|
| 1 | PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk | TLKM | BUMN Telekomunikasi | Negatif |
| 2 | Telkomsel | TLKM | Anak Usaha Telkom | Negatif |
| 3 | PT Pertamina (Persero) | PGAS, ELSA | BUMN Energi | Negatif |
| 4 | Pertamina Hulu Energi (PHE) | PGEO | Subholding Upstream | Negatif |
| 5 | MIND ID (Mining Industry Indonesia) | ANTM, PTBA, INCO, TINS | Holding BUMN Tambang | Negatif |
| 6 | PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk | ICBP | Swasta Konsumer | Negatif |
| 7 | PT United Tractors Tbk | UNTR | Swasta Alat Berat & Tambang | Negati |
Outlook emiten, terutama BUMN atau perusahaan strategis, sangat terkait dengan outlook pemerintah karena:
Moody’s menilai bahwa meningkatnya risiko kebijakan Indonesia turut memengaruhi persepsi risiko kredit emiten-emiten tersebut.
Walaupun outlook diturunkan, Moody’s menegaskan bahwa peringkat kredit ketujuh emiten tersebut masih dipertahankan.
Namun, outlook negatif dapat memberi sinyal:
Menariknya, beberapa emiten yang masuk daftar merupakan saham unggulan di Bursa Efek Indonesia, seperti:
Karena itu, revisi outlook ini menjadi perhatian besar di pasar modal.
Moody’s Ratings menurunkan outlook tujuh emiten Indonesia menjadi negatif, mengikuti revisi outlook sovereign RI. Meski peringkat kredit tetap dipertahankan, prospek negatif menandakan adanya risiko kebijakan dan ketidakpastian yang perlu dicermati investor. (Ajaib/Z-10)
Ekonom LPPI Ryan Kiryanto memperkirakan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate 4,75% di tengah inflasi di atas 3% dan pelemahan rupiah ke Rp16.884 per dolar AS.
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Projo mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai sinyal bahaya menyusul keputusan lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan bahwa rating Moody's tidak berdampak terhadap kinerja kredit bank yang dipimpin oleh Hendra Lembong tersebut.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini pasar modal Indonesia secara jangka menengah-panjang masih sangat prospektif dan menarik bagi investor.
Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons pengumuman Moody’s yang menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif sambil mempertahankan peringkat Baa2.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved