Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

IHSG Rabu 3 Februari 2026 Ditutup Naik 2,52%, Hendra Wardana Ingatkan Investor Hati-Hati

Ihfa Firdausya
03/2/2026 19:36
IHSG Rabu 3 Februari 2026 Ditutup Naik 2,52%, Hendra Wardana Ingatkan Investor Hati-Hati
IHSG.(MI/Usman Iskandar)

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan 3 Februari 2026 ditutup menguat menguat 199,87 poin atau 2,52% ke posisi 8.122,60. Namun menurut pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana, penguatan ini perlu dibaca secara lebih hati-hati. Pasalnya pada hari yang sama, katanya, investor asing masih mencatatkan aksi net sell sekitar Rp760 miliar.

"Kondisi ini menegaskan bahwa reli pasar belum sepenuhnya didorong oleh kembalinya kepercayaan asing, melainkan lebih banyak ditopang oleh technical rebound, short covering, serta peran investor domestik dan institusi lokal. Artinya, sentimen memang mulai membaik, namun fondasi penguatannya masih bersifat awal dan belum sepenuhnya kokoh," ungkapnya kepada Media Indonesia, Selasa (3/2).

Dalam konteks tersebut, kata Hendra, pemilihan saham menjadi sangat krusial. Menurutnya, saham yang menarik untuk dicermati saat ini umumnya adalah emiten yang relatif tidak bergantung pada arus dana asing jangka pendek, memiliki likuiditas yang memadai, serta sudah mengalami koreksi cukup dalam sehingga valuasinya menjadi lebih rasional.

Ia menyebut strategi yang paling relevan bukan mengejar kenaikan, melainkan memanfaatkan fase pemulihan ini untuk masuk secara terukur pada saham yang memiliki kombinasi fundamental dan momentum teknikal.

Hendra mencontohkan, JSMR layak dicermati sebagai saham trading buy dengan target 4.000. Di tengah volatilitas pasar, karakter bisnis jalan tol yang berbasis pendapatan berulang membuat JSMR relatif defensif.

"Koreksi harga sebelumnya telah membuat valuasinya lebih menarik, sementara pemulihan lalu lintas dan stabilitas arus kas memberi ruang bagi rebound jangka pendek hingga menengah, meski tetap sensitif terhadap pergerakan indeks," jelasnya.

Sementara MBMA masuk kategori speculative buy dengan target 705. Saham ini lebih cocok bagi investor yang siap dengan risiko lebih tinggi, karena pergerakannya sangat dipengaruhi sentimen dan ekspektasi pemulihan sektor.

"Setelah tekanan yang cukup dalam, ruang technical rebound mulai terbuka, namun akumulasi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan disiplin, mengingat volatilitasnya masih tinggi," katanya.

Kemudian TUGU disebut menarik sebagai trading buy dengan target 1.270. Di tengah kondisi asing yang masih net sell, saham asuransi seperti TUGU cenderung lebih stabil karena didukung fundamental yang relatif solid dan eksposur risiko yang terkelola.

Valuasi yang sudah berada di level menarik serta karakter bisnis yang defensif menjadikan TUGU sebagai pilihan yang relatif aman untuk memanfaatkan fase pemulihan pasar.

SCMA, lanjut Hendra, juga dapat dicermati sebagai trading buy dengan target 300. Tekanan panjang yang dialami sektor media telah membuat valuasi SCMA terdiskon cukup dalam. Pada saat pasar mulai pulih, saham-saham yang sebelumnya tertinggal berpotensi mengalami technical rebound, meski secara fundamental pemulihannya bersifat bertahap.

Oleh karena itu, SCMA lebih tepat diposisikan sebagai peluang trading, bukan akumulasi agresif jangka panjang.

Secara keseluruhan, kata Hendra, meskipun pasar menunjukkan tanda pemulihan, fakta bahwa asing masih net sell menjadi pengingat bahwa risiko belum sepenuhnya hilang.

"Investor disarankan tetap selektif, tidak terburu-buru, dan memprioritaskan saham yang sudah murah secara valuasi, likuid, serta memiliki peluang rebound yang realistis. Pendekatan bertahap dan disiplin menjadi kunci agar investor dapat memanfaatkan peluang tanpa terjebak volatilitas pasar yang masih tinggi," pungkasnya. (Ifa/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya