Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan 3 Februari 2026 ditutup menguat menguat 199,87 poin atau 2,52% ke posisi 8.122,60. Namun menurut pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana, penguatan ini perlu dibaca secara lebih hati-hati. Pasalnya pada hari yang sama, katanya, investor asing masih mencatatkan aksi net sell sekitar Rp760 miliar.
"Kondisi ini menegaskan bahwa reli pasar belum sepenuhnya didorong oleh kembalinya kepercayaan asing, melainkan lebih banyak ditopang oleh technical rebound, short covering, serta peran investor domestik dan institusi lokal. Artinya, sentimen memang mulai membaik, namun fondasi penguatannya masih bersifat awal dan belum sepenuhnya kokoh," ungkapnya kepada Media Indonesia, Selasa (3/2).
Dalam konteks tersebut, kata Hendra, pemilihan saham menjadi sangat krusial. Menurutnya, saham yang menarik untuk dicermati saat ini umumnya adalah emiten yang relatif tidak bergantung pada arus dana asing jangka pendek, memiliki likuiditas yang memadai, serta sudah mengalami koreksi cukup dalam sehingga valuasinya menjadi lebih rasional.
Ia menyebut strategi yang paling relevan bukan mengejar kenaikan, melainkan memanfaatkan fase pemulihan ini untuk masuk secara terukur pada saham yang memiliki kombinasi fundamental dan momentum teknikal.
Hendra mencontohkan, JSMR layak dicermati sebagai saham trading buy dengan target 4.000. Di tengah volatilitas pasar, karakter bisnis jalan tol yang berbasis pendapatan berulang membuat JSMR relatif defensif.
"Koreksi harga sebelumnya telah membuat valuasinya lebih menarik, sementara pemulihan lalu lintas dan stabilitas arus kas memberi ruang bagi rebound jangka pendek hingga menengah, meski tetap sensitif terhadap pergerakan indeks," jelasnya.
Sementara MBMA masuk kategori speculative buy dengan target 705. Saham ini lebih cocok bagi investor yang siap dengan risiko lebih tinggi, karena pergerakannya sangat dipengaruhi sentimen dan ekspektasi pemulihan sektor.
"Setelah tekanan yang cukup dalam, ruang technical rebound mulai terbuka, namun akumulasi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan disiplin, mengingat volatilitasnya masih tinggi," katanya.
Kemudian TUGU disebut menarik sebagai trading buy dengan target 1.270. Di tengah kondisi asing yang masih net sell, saham asuransi seperti TUGU cenderung lebih stabil karena didukung fundamental yang relatif solid dan eksposur risiko yang terkelola.
Valuasi yang sudah berada di level menarik serta karakter bisnis yang defensif menjadikan TUGU sebagai pilihan yang relatif aman untuk memanfaatkan fase pemulihan pasar.
SCMA, lanjut Hendra, juga dapat dicermati sebagai trading buy dengan target 300. Tekanan panjang yang dialami sektor media telah membuat valuasi SCMA terdiskon cukup dalam. Pada saat pasar mulai pulih, saham-saham yang sebelumnya tertinggal berpotensi mengalami technical rebound, meski secara fundamental pemulihannya bersifat bertahap.
Oleh karena itu, SCMA lebih tepat diposisikan sebagai peluang trading, bukan akumulasi agresif jangka panjang.
Secara keseluruhan, kata Hendra, meskipun pasar menunjukkan tanda pemulihan, fakta bahwa asing masih net sell menjadi pengingat bahwa risiko belum sepenuhnya hilang.
"Investor disarankan tetap selektif, tidak terburu-buru, dan memprioritaskan saham yang sudah murah secara valuasi, likuid, serta memiliki peluang rebound yang realistis. Pendekatan bertahap dan disiplin menjadi kunci agar investor dapat memanfaatkan peluang tanpa terjebak volatilitas pasar yang masih tinggi," pungkasnya. (Ifa/P-3)
Isu “goreng saham” yang selama ini beredar setengah berbisik kini terbuka lebar ke ruang publik. Sorotan tajam MSCI terhadap transparansi dan validitas free float pasar saham Indonesia menjadi pemicu, memperlihatkan rapuhnya likuiditas riil di balik angka-angka yang tampak sehat. Namun di saat kepercayaan pasar terguncang dan modal asing keluar deras, yang terjadi justru sebaliknya: para pengawas utama pasar modal memilih pergi, meninggalkan pertanyaan besar tentang akuntabilitas di tengah krisis.
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pihaknya tidak akan memelas demi menarik investor asing masuk ke Indonesia.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa investor asing memiliki peluang untuk menjadi pemegang saham PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
DI tengah tekanan pasar global dan sentimen risk-off yang membuat banyak grup konglomerasi tertekan, Adaro Group justru tampil berbeda.
Saham BBCA tertekan aksi net sell asing 79,7 juta saham. Harga turun 3,75% ke level Rp7.700. Simak analisis teknikal dan proyeksinya.
Kepala Pusat Makroekonomi Indef, M Rizal Taufikurahman, menjelaskan faktor global dan domestik yang memicu masuknya dana asing ke sektor nikel dan tambang logam Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved