Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Analis: Pengunduran Dirut BEI Tepat di Tengah Gejolak Pasar

Insi Nantika Jelita
30/1/2026 10:49
Analis: Pengunduran Dirut BEI Tepat di Tengah Gejolak Pasar
Ilustrasi(MI/SUSANTO)

ANALIS pasar modal Hendra Wardana menilai keputusan pengunduran diri Direktur Utama (Dirut) Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman sebagai langkah yang tepat di tengah kondisi pasar yang tengah bergejolak.

Menurutnya, pasar modal Indonesia saat ini berada dalam fase yang sangat krusial. Dalam dua hari terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat hingga mencatatkan penurunan signifikan dan memicu mekanisme trading halt atau pembekuan perdagangan saham selama dua hari berturut-turut. 

Kondisi tersebut mencerminkan tingkat kepanikan pasar yang cukup tinggi, dipicu oleh kombinasi sentimen global serta kekhawatiran investor terhadap transparansi dan tata kelola pasar domestik.

“Sudah tepat. Pengunduran diri pimpinan tertinggi BEI ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar yang sedang bergejolak,” ujar Hendra kepada Media Indonesia, Jumat (30/1).

Ia menilai koreksi tajam IHSG dalam waktu singkat menunjukkan rapuhnya kepercayaan investor, terutama investor asing, terhadap stabilitas dan mekanisme pasar. Trading halt yang terjadi dua kali berturut-turut menjadi sinyal kuat volatilitas telah berada pada level ekstrem dan membutuhkan respons kelembagaan yang serius.

Dalam konteks tersebut, lanjut Hendra, mundurnya Direktur Utama BEI dipandang sebagai bentuk tanggung jawab institusional, sekaligus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan pasar modal Indonesia.

Pada perdagangan hari ini, IHSG sempat menunjukkan tanda pemulihan terbatas. Hingga pukul 09.28 WIB, indeks tercatat menguat 0,91 persen ke level 8.307. Namun, penguatan tersebut dinilai masih bersifat teknikal dan belum sepenuhnya mencerminkan pulihnya kepercayaan pasar. 

"Investor cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu kejelasan arah kebijakan BEI ke depan, khususnya terkait penunjukan direktur utama yang baru," kata Hendra.

Pasar, ungkapnya, membutuhkan figur pemimpin yang mampu memperkuat transparansi, memperbaiki tata kelola, serta menjawab ekspektasi lembaga indeks global seperti MSCI, yang selama ini menyoroti isu free float dan kualitas likuiditas pasar Indonesia.

"Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan cenderung fluktuatif dengan bias melemah," imbuhnya.

Dalam jangka pendek, indeks diproyeksikan bergerak di kisaran 8.150 hingga 8.350, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan internal BEI serta respons regulator. Stabilitas pasar, menurutnya, tidak hanya ditentukan oleh faktor teknikal, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan terhadap kepemimpinan bursa. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya