Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Ekonomi Global Tangguh di 2026, Investor Diminta Waspadai Volatilitas Pasar

Andhika Prasetyo
29/1/2026 10:22
Ekonomi Global Tangguh di 2026, Investor Diminta Waspadai Volatilitas Pasar
Ilustrasi(Antara)

Allianz Global Investors (AllianzGI) menilai perekonomian global memasuki 2026 dalam kondisi yang masih tertekan, namun menunjukkan ketahanan yang relatif solid. Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan tetap berada di jalurnya, ditopang oleh kebijakan pemerintah yang cenderung kondusif, neraca keuangan korporasi yang sehat, serta perkembangan berkelanjutan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Tim Chief Investment Officer (CIO) AllianzGI dalam laporan House View Q1 2026 menyebutkan bahwa kombinasi faktor tersebut menciptakan latar belakang yang cukup mendukung bagi aset berisiko. Meski ketidakpastian fundamental dan politik global masih tinggi, AllianzGI menilai fase terburuk telah terlewati. Kendati demikian, investor tetap diminta mencermati potensi volatilitas pasar, terutama menjelang pemilu paruh waktu di Amerika Serikat serta masa transisi kepemimpinan di Federal Reserve.

"AI tetap dipandang sebagai tema investasi utama pada 2026, meski memerlukan pendekatan yang disiplin dan terdiversifikasi. AI belum berada dalam fase gelembung, sehingga menghindari peluang kenaikan lanjutan justru berisiko bagi investor. Seiring meluasnya adopsi AI, peluang investasi juga mulai terlihat di ekosistem pendukung, termasuk sektor energi dan infrastruktur," tulis laporan AllianzGI.

Namun demikian, AllianzGI mengingatkan investor untuk tetap mewaspadai risiko konsentrasi di sektor AI. Pergerakan credit default swap (CDS) pada perusahaan-perusahaan AI berskala besar dinilai perlu dipantau, karena dapat menjadi indikator awal munculnya tekanan risiko kredit.

Dari sisi ekuitas global, AllianzGI melihat peluang masih terbuka di berbagai kawasan. Di Amerika Serikat, meskipun valuasi saham berkapitalisasi besar relatif tinggi, prospek pasar tetap ditopang oleh pemulihan belanja modal, khususnya di sektor manufaktur. Di Eropa, sektor-sektor strategis yang terdampak dorongan menuju kemandirian regional dinilai berpotensi memberikan stimulus signifikan. Sementara itu, Tiongkok dipandang memiliki potensi investasi yang menarik pada 2026 seiring meluasnya adopsi AI di berbagai sektor.

Pada pasar pendapatan tetap, AllianzGI melihat peluang pada obligasi pemerintah Amerika Serikat berdurasi pendek, sejalan dengan ekspektasi kurva imbal hasil yang menanjak. Di negara yang mendekati akhir siklus pelonggaran moneter seperti Kanada, strategi yield curve flattener dinilai semakin menarik.

"Untuk eksposur jangka panjang, obligasi pemerintah negara berkembang dinilai menawarkan daya tarik tersendiri. Negara-negara seperti Brasil, Peru, dan Afrika Selatan dinilai memiliki tingkat suku bunga riil yang kompetitif, dengan bank sentral yang masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga," sambung laporan tersebut.

Dalam strategi multi-aset, AllianzGI tetap bersikap optimistis terhadap aset berisiko, meskipun volatilitas pasar dan ketidakpastian terkait data ekonomi Amerika Serikat serta arah kebijakan suku bunga The Fed masih berlanjut. Ekuitas tetap menjadi kelas aset utama, dengan penyesuaian eksposur secara bertahap dari pasar AS ke Asia.

AllianzGI juga mempertahankan pandangan positif terhadap emas dalam jangka panjang, yang didukung oleh permintaan bank sentral serta arus masuk ke produk exchange-traded fund (ETF). Selain itu, pandangan terhadap tembaga turut ditingkatkan seiring pasokan yang cenderung stagnan dan meningkatnya kebutuhan logam tersebut untuk mendukung infrastruktur transisi hijau serta ekspansi teknologi AI.

Secara keseluruhan, AllianzGI mengambil sikap yang relatif pro-risiko pada 2026, dengan penekanan kuat pada diversifikasi lintas kelas aset dan wilayah. Mengombinasikan eksposur pada pendorong pertumbuhan struktural seperti AI dengan alokasi di pasar negara berkembang, logam mulia, dan mata uang yang masih undervalued dinilai dapat membantu menyeimbangkan risiko dan imbal hasil. Dalam kondisi global yang tetap tangguh namun kompleks, AllianzGI menegaskan bahwa strategi manajemen investasi aktif akan menjadi kunci keberhasilan. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya