Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
TAHUN depan merupakan tahun penuh tekanan bagi perekonomian global dan pasar keuangan karena berbagai indokator yang menunjukkan risiko koreksi tajam di berbagai jenis aset investasi yang disebabkan perubahan kebijakan moneter global, ketegangan geopolitik, dan likuiditas melemah.
Hal itu diungkapkan oleh Reiner Rahardja, mentor sekaligus pengusaha muda yang bergerak dalam berbagai lini bisnis seperti GeneralTrade, Mining, Agribisnis, Marine & Fishery, Importer, Farmery, Technology, Investor, dan Blockchain ini pada acara seminar “Navigating 2026 Economic Horizon: Strategic Preview for Entrepreneurs”.
Reiner menyampaikan bahwa kondisi makro global yang memburuk akan berdampak langsung ke perekonomian nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah, tekanan terhadap daya beli, serta semakin ketatnya arus kas menjadi tantangan utama bagi dunia pengusaha, terutama sektor UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Di dunia, ada beberapa faktor utama yang dapat mengguncang pasar dalam kurun 10 sampai 12 bulan ke depan dan membuat instrumen investasi seperti emas, bitcoin, dan pasar finansial juga akan bergejolak.
“Faktor-faktor tersebut meliputi mid-term election Amerika Serikat, Piala Dunia 2026, arah kebijakan kabinet baru The FED, dan resiko kenaikan suku bunga Jepang yang dapat mengakhiri era Yen Carry Trade. Reiner memperkirakan Japan Rate Hike ini akan menarik kembali aliran likuiditas global ke negara asalnya,” kata Reiner dikutip dari siaran pers yang diterima, Rabu (17/12).
TEKAN ASET BERISIKO
Menurunnya arus likuiditas tersebut, lanjut Reiner, akan menekan aset berisiko seperti saham, kripto, dan komoditas spekulatif. Ia juga menyampaikan bahwa Tiongkok kembali menegaskan larangan pada aktivitas kripto, khususnya stablecoin karena Tiongkok menilai stablecoin berisiko bagi stabilitas ekonomi dan arus keuangan Tiongkok.
Di sisi lain, terdapat kekhawatiran tentang AI bubble di mana isu ini muncul karena bisnis model kecerdasan buatan ini belum terbukti mendukung untuk menghasilkan arus kas berkelanjutan secara berkesinambungan, penggunaan AI masih sangat primitif di masyarakat maupun institusi namun biaya pengembangan AI sudah diluar akal sehat.
“Dampaknya, banyak aset investasi yang akan masuk fase koreksi besar. Emas akan mengalami fase koreksi yang cukup signifikan diikuti oleh bentuk asset logam lainnya yang lebih volatile, indeks saham global pun akan turun yang tentu memicu penurunan lebih drastis pada asset spekulatif seperti Bitcoin yang tidak memiliki routine earning, tapi berbasis feeling,” bebernya.
HINDARI INVESTASI
Dalam situasi ini, Reiner menilai pendekatan spekulatif akan semakin berisiko dan menyarankan agar menghindari posisi investasi pada berbagai aset dan menunggu hingga harga koreksi tercapai atau biasa disebut buy bottom.
“Meskipun tekanan ekonomi meningkat, peluang tetap ada pada sektor bisnis. Beberapa sektor yang dinilai masih berpotensi menguntungkan pada 2026 di antara lain adalah industri kecantikan dan kebugaran, layanan kesehatan usia lanjut (anti-aging), pendidikan anak dan remaja, serta sektor berbasis perilaku konsumsi masyarakat,” sebutnya.
Reiner menegaskan bahwa 2026 bukan sekadar tahun sulit, melainkan periode seleksi alam. Pelaku usaha dan investor yang mampu beradaptasi dan membangun fundamental pendapatan, dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan tumbuh ditengah siklus ekonomi yang menantang. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved