Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

BBCA Ditinggal Investor Asing, Tertekan hingga Sentuh Level Rp7.025

 Gana Buana
28/1/2026 21:32
BBCA Ditinggal Investor Asing, Tertekan hingga Sentuh Level Rp7.025
BBCA turun hingga level Rp7.050(Antara)

SAHAM PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi sorotan utama pasar setelah mengalami tekanan jual besar-besaran dari investor asing. Kondisi ini membuat saham bank berkapitalisasi terbesar di Indonesia tersebut melemah tajam dan menjadi salah satu pemberat utama pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada perdagangan Rabu (28/1), harga saham BBCA sempat turun hingga menyentuh level Rp7.025 per saham (harga penutupan), atau melemah hampir 5% dibandingkan level pembukaan di sekitar Rp7.500. Pelemahan ini terjadi di tengah volatilitas tinggi, dengan nilai transaksi harian Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai sekitar Rp15,11 triliun, mencerminkan derasnya tekanan jual di pasar.

Net Sell Asing Tembus Triliunan Rupiah

Tekanan terhadap BBCA terutama dipicu oleh aksi jual investor asing yang terus berlanjut sepanjang Januari 2026. Data perdagangan menunjukkan bahwa sepanjang pekan lalu, asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham BBCA hingga Rp3,85 triliun, menjadikannya emiten yang paling banyak dilepas investor luar negeri.

Dalam rentang perdagangan pertengahan Januari, total aksi jual asing bahkan diperkirakan mencapai Rp4,7 triliun, dengan penjualan harian sempat menyentuh angka Rp883 miliar dalam satu sesi perdagangan. Kondisi ini menempatkan BBCA sebagai saham utama yang terkena dampak keluarnya dana asing dari pasar modal Indonesia.

Praktisi pasar modal dan Founder Emtrade, Ellen May, menilai tekanan pada BBCA tidak dapat dilepaskan dari faktor struktural terkait indeks global, khususnya MSCI Indonesia.

Dalam IG live-nya, Rabu (28/1) malam, Ellen mengatakan, BBCA merupakan saham dengan bobot terbesar dalam indeks MSCI. Oleh karena itu, setiap perubahan arus dana asing terhadap Indonesia akan sangat cepat tercermin pada pergerakan BBCA.

Namun, rebalancing MSCI terbaru dinilai tidak memberikan katalis positif bagi pasar karena, tidak ada kenaikan bobot signifikan, tidak ada saham baru yang masuk indeks, tidak ada emiten yang naik kelas dalam klasifikasi MSCI.

Akibatnya, tidak muncul tambahan permintaan dari investor institusi global yang biasanya masuk otomatis ketika bobot saham naik di indeks MSCI.

“BBCA itu size paling besar di MSCI. Tapi karena tidak ada kenaikan bobot dan tidak ada saham baru masuk, efek MSCI kali ini tidak mendorong pasar. Investor asing justru meninggalkan,” ujar Ellen May dalam analisanya.

Breakdown Support dan Sentimen Risk-Off

Selain faktor indeks global, tekanan pada BBCA juga diperkuat oleh sinyal teknikal. Ellen May mencatat bahwa BBCA baru memasuki fase awal breakdown setelah menembus area support penting di bawah level Rp8.000.

Pelemahan yang disertai volume transaksi besar dinilai sebagai indikasi distribusi institusi, bukan sekadar koreksi normal dari investor ritel. Kondisi ini mempertegas bahwa sentimen investor asing terhadap pasar modal Indonesia sedang memasuki fase risk-off.

Dampak ke IHSG

Sebagai saham dengan kapitalisasi dan bobot terbesar, pelemahan BBCA ikut menyeret IHSG hari ini, dalam beberapa sesi terakhir. Mayoritas saham unggulan juga bergerak di zona merah seiring meningkatnya aksi jual asing, mencerminkan tekanan pasar yang lebih luas.

Pasar kini menanti perkembangan lanjutan terkait arus modal asing, sentimen global, serta laporan kinerja emiten kuartal IV-2025 untuk melihat apakah tekanan jual ini akan mereda atau berlanjut lebih dalam. (Instagram/Emtrade Academy/Ellen May/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya