Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBEKUAN sementara proses rebalancing (atur ulang) indeks untuk saham-saham di pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International atau MSCI dinilai sebagai sinyal teknis yang dampaknya bisa sangat besar. Pasalnya hal itu menyangkut arus dana pasif global.
"Ketika mekanisme price discovery terganggu, baik karena volatilitas ekstrem, isu tata kelola, atau ketidakpastian kebijakan, pasar bereaksi cepat melalui aksi jual, terutama oleh investor asing yang sangat sensitif terhadap risiko dan kredibilitas institusi," ungkap Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman saat dihubungi merespons isu pembentukan oleh MSCI, Rabu (28/1).
Penanggungan oleh MSCI itu ditengarai menyebabkan indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok hingga 8% pada perdagangan Rabu (28/1). Rizal mengatakan anjloknya IHSG hingga trading halt lebih mencerminkan shock kepercayaan (confidence shock) ketimbang perubahan fundamental ekonomi secara tiba-tiba.
"Kejadian ini (pembekuan oleh MSCI) membuka persoalan struktural pasar modal Indonesia yang belum sepenuhnya tuntas, terutama terkait transparansi, kualitas keterbukaan informasi emiten, serta konsistensi dan kepastian regulasi," ujarnya.
Mengenai pembekuan oleh MSCI, ia mengatakan bagi investor institusional global, isu-isu ini krusial bisa karena menyangkut governance risk dan predictability. Jika persepsi transparansi memburuk, risk premium akan naik, dan pasar menjadi rentan terhadap gejolak meski indikator makro relatif stabil.
Namun, Rizal menegaskan bahwa kondisi pasar modal tidak bisa disamakan secara langsung dengan kondisi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Fundamental makro seperti pertumbuhan, konsumsi, dan stabilitas fiskal tetap memiliki basis yang berbeda. Ia menilai pembekuan oleh MSCI harus ditangkap sebagai alarm atau peringatan serius bagi pasar modal.
"Namun, pasar modal adalah etalase kepercayaan. Jika masalah struktural ini tidak segera dibenahi, sinyal negatif dari pasar keuangan berisiko menular ke sektor riil melalui kanal investasi, pembiayaan, dan nilai tukar. Karena itu, penguatan tata kelola pasar, transparansi, dan kredibilitas otoritas menjadi kunci pemulihan kepercayaan, bukan sekadar intervensi jangka pendek," pungkasnya. (H-4)
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (28/1) sore ditutup melemah yang diyakini memicu panic selling pelaku pasar setelah pembekuan oleh MSCI
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Selasa, 10 Maret 2026, dibuka menguat mengikuti pergerakan bursa global.
IHSG ditutup melemah tajam ke level 7.337 pada Senin (9/3/2026). Simak analisis penyebab anjloknya bursa akibat lonjakan harga minyak dan inflasi global di sini.
Sikap risk-off investor disebabkan oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, serta tingginya yield US Treasury akibat ekspektasi suku bunga The Fed yang tertahan tinggi.
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai perdagangan Jumat (6/3) dengan pergerakan melemah.
IHSG ditutup menguat 1,76 persen ke posisi 7.710,54 pada Kamis (5/3/2026). Simak analisis aksi bargain hunting investor dan daftar saham top gainers hari ini.
IHSG Kamis pagi (5/3/2026) dibuka menguat 118,29 poin ke level 7.695,35. Simak analisis teknikal, kurs Rupiah terbaru, dan rekomendasi saham pilihan di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved