Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Meski Dibayangi Ketidakpastian Global, IHSG Bisa Tembus 9.300

Insi Nantika Jelita
14/1/2026 17:37
Meski Dibayangi Ketidakpastian Global, IHSG Bisa Tembus 9.300
Pengunjung mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta.(Dok. MI/Usman Iskandar)

VICE President Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi, memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpeluang menguat hingga akhir Januari 2026 dengan target resistance di kisaran 9.250–9.300. Namun, ia mengingatkan pergerakan pasar pada bulan ini cenderung diwarnai volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

"Meski IHSG akan terus menguat, bulan ini akan cenderung menjadikan fluktuasi yang tinggi dibandingkan periode sebelumnya," katanya kepada Media Indonesia, Rabu (14/1).

Menurutnya, penguatan IHSG Januari 2026 sejauh ini tergolong sangat solid. Indeks telah naik sekitar 3% dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level 9.032. Pergerakan IHSG juga didominasi oleh investor domestik yang berkontribusi sekitar 74% terhadap nilai transaksi secara year to date (YTD).

Di saat yang sama, arus dana asing juga mencatatkan inflow sebesar Rp5,19 triliun secara YTD. "Ini turut menjadi penopang penguatan indeks," ucapnya.

Oktavianus menilai reli IHSG ini dipengaruhi oleh kuatnya aktivitas domestik serta realokasi aset oleh investor di awal tahun 2026. Saat ini terlihat adanya pergeseran portofolio ke saham-saham berbasis komoditas yang dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven), seiring kenaikan harga komoditas global. Harga emas, misalnya, kembali naik ke level US$4.630 per troy ounce, sementara perak menembus US$90 per ounce.

Meski demikian, ia juga mencermati sejumlah risiko yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG Januari 2026. Salah satunya adalah depresiasi nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp16.800 per dolar AS, sehingga memunculkan kekhawatiran akan tekanan lanjutan. Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik global. Mulai dari konflik Rusia–Ukraina, intervensi Amerika Serikat di Venezuela hingga Greenland, serta gejolak internal di Iran.

"Hal ini dapat memberikan dampak negatif terhadap harga komoditas energi dan pangan, sekaligus mendorong investor kembali mencari aset aman," terangnya.

Dalam kondisi ketidakpastian yang masih tinggi tersebut, Kiwoom Sekuritas menyarankan investor menerapkan strategi tactical allocation. Sektor yang diperkirakan tetap solid dalam jangka pendek hingga menengah adalah sektor energi dan barang baku, sehingga layak mendapatkan porsi alokasi yang lebih besar dalam portofolio. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya