Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Anomali Pangan Awal 2026: Cabai 'Terjun Bebas', Daging Sapi Justru Meroket Tembus Rp136 Ribu

Media Indonesia
06/1/2026 08:11
Anomali Pangan Awal 2026: Cabai 'Terjun Bebas', Daging Sapi Justru Meroket Tembus Rp136 Ribu
Ilustrasi(MI/USMAN ISKANDAR)

PASAR  pangan awal tahun 2026 menyajikan fenomena kontras. Saat ibu rumah tangga bisa bernapas lega karena harga bumbu dapur mulai "jinak" pasca-libur Nataru, kekhawatiran baru muncul dari lapak daging yang harganya justru merangkak naik secara tidak wajar.

Pantauan Media Indonesia di sejumlah pasar tradisional Jakarta dan data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Selasa (6/1) siang, menunjukkan adanya divergensi tren harga yang tajam antara produk hortikultura dan peternakan.

📊 Update Harga Siang Ini (6/1/2026)

Perbandingan harga rata-rata nasional vs H-1 Tahun Baru:

  • Cabai Rawit Merah: ▼ Rp58.790/kg (Turun Rp2.890)
  • Bawang Merah: ▼ Rp36.450/kg (Turun Rp1.200)
  • Daging Sapi Murni: ▲ Rp136.820/kg (Naik Rp850)
  • Daging Ayam Ras: ▼ Rp34.100/kg (Stabil/Turun Tipis)
Sumber: Panel Harga Bapanas & Reportase Lapangan

Mengapa Harga Daging Naik Saat Permintaan Turun?

Secara siklus tahunan, harga pangan seharusnya mengalami koreksi (penurunan) di minggu pertama Januari karena permintaan masyarakat kembali normal usai pesta akhir tahun. Penurunan harga cabai dan bawang mengonfirmasi siklus ini.

Namun, kenaikan harga daging sapi menjadi anomali. Ketua Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI) wilayah Jabodetabek, menduga adanya ketidakseimbangan di hulu (feedloter).

"Permintaan di pasar sebenarnya sepi, pembeli balik ke mode hemat. Tapi harga karkas dari RPH (Rumah Potong Hewan) masih tinggi. Alasannya stok sapi bakalan impor yang siap potong awal tahun ini agak tersendat masuknya," ujar salah satu pedagang di Pasar Induk Kramat Jati kepada MI.

Bayang-Bayang 'Munggahan' Ramadan

Selain faktor teknis pasokan, analis pasar menduga kenaikan ini juga dipicu oleh sentimen psikologis pedagang yang mulai bersiap menghadapi bulan Ramadan yang diperkirakan jatuh pada pertengahan Februari 2026.

Jarak waktu yang hanya tersisa sekitar 1,5 bulan menuju Ramadan membuat harga daging sapi memiliki resistensi kuat untuk turun (sticky price). Jika pemerintah tidak segera melakukan intervensi—baik melalui operasi pasar atau percepatan realisasi impor daging beku—harga dikhawatirkan akan terus terkerek hingga menembus Rp140.000/kg sebelum puasa dimulai.

Pemerintah melalui Bapanas diharapkan segera menelusuri rantai distribusi daging sapi ini. Jangan sampai anomali di awal tahun menjadi "new normal" harga yang memberatkan masyarakat di 2026. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya