Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Macro Outlook 2026: Optimisme Ekonomi Terjaga, Pasar Domestik Kian Mandiri

Ihfa Firdausya
02/1/2026 22:07
Macro Outlook 2026: Optimisme Ekonomi Terjaga, Pasar Domestik Kian Mandiri
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta.(MI/Usman Iskandar)

DI tengah dinamika global yang masih diwarnai ketidakpastian geopolitik, perubahan kebijakan suku bunga, dan pergeseran arus modal internasional, prospek ekonomi Indonesia memasuki 2026 dinilai tetap solid. Optimisme ini tecermin dalam Macro Outlook 2026 yang dirilis oleh Simpan Asset Management, yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga dengan struktur pasar keuangan yang semakin mandiri.

Dalam laporannya, Simpan Asset Management menilai bahwa perekonomian Indonesia memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menghadapi volatilitas global. Sepanjang 2025, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tercatat berada di atas 5%, ditopang oleh tingkat penetrasi industri yang masih rendah, peningkatan produktivitas, serta bonus demografi. 

Memasuki 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mencapai 5,1% secara tahunan, seiring kebijakan fiskal dan moneter yang lebih akomodatif.

Salah satu faktor yang dinilai akan menjadi katalis pertumbuhan jangka panjang adalah meningkatnya sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter. Inisiatif strategis pemerintah, termasuk pembentukan lembaga pengelola investasi nasional seperti Danantara, diperkirakan akan mendorong investasi dan memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi, meski dampaknya diperkirakan berlangsung secara bertahap.

Dari sisi pasar keuangan, laporan ini menyoroti perubahan struktural penting di pasar obligasi Indonesia. Sepanjang 2025, kepemilikan asing atas Surat Berharga Negara (SBN) turun hingga sekitar 14% dari total outstanding. Meski demikian, pasar obligasi tetap menunjukkan ketahanan yang kuat, dengan pergerakan yield yang relatif stabil dan bahkan sempat menurun pada periode tertentu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa stabilitas pasar obligasi Indonesia kini semakin ditopang oleh investor domestik, bukan lagi semata bergantung pada arus dana asing. Dengan basis investor lokal yang semakin solid, pasar obligasi Indonesia diperkirakan tetap resilien pada 2026. Namun, Simpan mengingatkan potensi kenaikan yield secara bertahap, terutama pada tenor menengah hingga panjang, seiring agenda pertumbuhan pemerintah, pelebaran defisit fiskal, dan potensi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Sementara itu, di pasar saham, Simpan Asset Management melihat adanya peluang rotasi investasi dari saham momentum ke saham-saham blue chip. Pada 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi baru, terutama didorong oleh saham-saham berkarakter momentum. Di sisi lain, saham blue chip relatif tertinggal akibat minimnya arus dana asing.

Memasuki 2026, valuasi saham blue chip Indonesia dinilai berada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Dengan mulai terlihatnya pemulihan siklus laba dan kondisi likuiditas global yang lebih kondusif, Simpan memandang peluang terjadinya pembalikan arus dana ke saham-saham berfundamental kuat semakin terbuka.

Dari perspektif global, laporan ini menilai ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan. Setelah sempat mengalami volatilitas akibat ketegangan perdagangan dan isu tarif pada awal 2025, pasar saham AS kembali menguat, dengan indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq Composite mencetak level tertinggi baru. Sektor teknologi, khususnya yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), menjadi pendorong utama kinerja pasar.

Memasuki 2026, siklus penurunan suku bunga global dan meredanya ketidakpastian kebijakan diharapkan dapat menopang sentimen risiko. Namun, Simpan mengingatkan bahwa valuasi pasar yang sudah tinggi membuat potensi imbal hasil menjadi lebih moderat, dengan volatilitas yang masih mungkin terjadi jika muncul kejutan negatif.

Laporan ini juga menyoroti perubahan struktural di Jepang yang berpotensi mengakhiri era yen carry trade sebagai sumber pendanaan murah global. Melemahnya peran yen diperkirakan akan mendorong pasar global mencari alternatif pendanaan dengan biaya lebih tinggi, yang pada akhirnya dapat memperketat leverage dan meningkatkan risiko gejolak suku bunga serta nilai tukar pada 2026.

Secara keseluruhan, Macro Outlook 2026 disusun sebagai panduan strategis bagi investor institusional maupun ritel agar dapat memahami konteks makro secara lebih utuh. Dengan pendekatan yang disiplin dan terukur, investor diharapkan tidak bereaksi berlebihan terhadap volatilitas jangka pendek, serta tetap fokus pada tujuan investasi jangka panjang di tengah perubahan lanskap ekonomi global dan domestik. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya