Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI sumber listrik bersih yang berkarakter baseload, energi panas bumi yang dikelola PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dipandang mampu menjaga keandalan sistem kelistrikan sekaligus mendukung peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional. Dari sisi pasar, saham berkode PGEO itu dinilai juga memiliki potensi yang positif dengan pertumbuhannya yang lebih terukur.
Dalam laporannya, analis pasar modal dari Bahana Sekuritas Jeremy Mikael menilai PGE berada pada posisi yang solid untuk memanfaatkan momentum tersebut. Dengan pipeline ekspansi yang jelas dan terukur, emiten ini dinilai berpotensi memperkuat kontribusi EBT nasional.
"Dengan target pengembangan kapasitas menuju 1 gigawatt (GW) dan produksi 5,5-6,0 gigawatt hour (GWh) pada 2028, PGEO menawarkan kombinasi pertumbuhan yang terukur dan profil bisnis yang relatif defensif, terutama jika dibandingkan dengan sejumlah emiten EBT lain maupun sektor seperti pertambangan mineral dan logam," ujar Jeremy dalam keterangan tertulis, Rabu (31/12/2025).
Jeremy menambahkan, karakteristik bisnis panas bumi yang cenderung stabil membuat pertumbuhan pendapatan dan laba PGE relatif lebih konsisten. Ditambah dengan target PGE untuk menjadi 1 GW company melalui pengembangan sejumlah proyek strategis, hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang berminat investasi ke sektor energi hijau dengan risiko yang lebih terkendali. Ia juga meyakini peluang pertumbuhan PGE dalam beberapa tahun ke depan akan sangat terbuka.
"Kami melihat dalam tiga tahun ke depan, setidaknya pada 2028, kapasitas PGEO berpotensi mencapai 1 GW. Hal ini dapat mendorong total produksi listrik menjadi sekitar 5,5-6,0 GWh. EBITDA diproyeksikan dapat mencapai US$484 juta pada 2028 (CAGR 2024-2028 sebesar 11%), sementara laba bersih diperkirakan mencapai US$201 juta pada 2028 (CAGR 2024-2028 sebesar 5,8%)," jelasnya.
Dari sisi fundamental, Jeremy juga menyoroti neraca keuangan PGE yang dinilai masih cukup sehat. "PGEO memiliki growth story yang jelas dari sisi penambahan kapasitas secara organik. Dari sisi valuasi, PGEO juga masih relatif reasonable dibandingkan pemain lain panas bumi di Indonesia. Selain itu, PGEO memiliki neraca yang sehat dengan gearing ratio di bawah rata-rata industri, sehingga masih memiliki debt head room apabila dibutuhkan untuk ekspansi," katanya.
Lebih lanjut Jeremy menilai prospek sektor EBT di Indonesia akan semakin menguat seiring dengan target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Dalam dokumen tersebut, kontribusi listrik dari EBT ditargetkan mencapai 30% pada 2034 dengan tambahan kapasitas terpasang EBT sebesar 52,8 GW.
Dari jumlah tersebut, panas bumi diproyeksikan berkontribusi sekitar 5,2 GW atau meningkat signifikan dari kapasitas eksisting saat ini. Kemudian pangsa pasar EBT berdasarkan kapasitas terpasang ditargetkan meningkat menjadi 37,5% pada 2034 alias naik dari sekitar 9,6% saat ini.
"Melihat pergerakan beberapa saham di sektor EBT, tampaknya minat investor terhadap sektor EBT mulai terlihat. Untuk PGEO, saat ini sahamnya terlihat berada dalam fase koreksi setelah mengalami kenaikan pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini. Namun, secara fundamental, prospek jangka menengahnya masih tetap menarik," katanya.
Terkait aspek eksekusi proyek, Jeremy menilai sinergi antarpemangku kepentingan menjadi faktor penting. Ia menyoroti peran Danantara dalam mendukung kesepakatan kerja sama antara PGEO dan PLN, termasuk dengan anak usaha PLN Indonesia Power. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan 19 proyek panas bumi dengan total potensi tambahan kapasitas hingga 530 megawatt (MW).
"Dengan keterlibatan Danantara, kami melihat koordinasi antara PGEO dan PLN sebagai offtaker tunggal dapat berjalan lebih selaras dalam pengembangan proyek ke depan," pungkasnya. (MTVN/I-2)
PEMBANGKIT Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu telah memainkan peran penting dalam pasokan listrik Indonesia selama beberapa dekade terakhir.
PANAS bumi bisa menjadi motor penggerak utama dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.
INDUSTRI panas bumi memiliki prospek baik dalam mendukung pencapaian target pemerintah dalam memperluas kapasitas pembangkit listrik energi baru dan terbarukan (EBT).
Hadir solusi gabungan yang dirancang untuk mengoptimalkan produksi energi panas bumi dan memajukan pengoperasian berkelanjutan.
Fluida ini bisa memicu gempa sekaligus menjadi sumber energi panas bumi yang lebih besar dari sistem konvensional. Sehingga pemetaan lokasinya menjadi sangat penting.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) terus menegaskan langkahnya dalam mengoptimalkan potensi panas bumi nasional.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) terus menegaskan komitmennya dalam mengelola komunikasi korporat yang transparan, relevan, dan berdampak.
PT Pertamina Geothermal Energy menunjukkan kepedulian dan solidaritas terhadap para korban bencana Sumatra.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) fokus dalam mewujudkan target 1 gigawatt (GW) dalam 2-3 tahun ke depan dan 1,7 GW pada 2034.
Wamen Investasi Todotua Pasaribu resmikan groundbreaking Proyek Green Hydrogen Pilot Plant Ulubelu di Lampung. Pilot plant berbasis panas bumi pertama di dunia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved