Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Panas Bumi Penggerak Utama Energi Baru Terbarukan

Wisnu Arto Subari
18/12/2025 16:29
Panas Bumi Penggerak Utama Energi Baru Terbarukan
(Antara)

PANAS bumi bisa menjadi motor penggerak utama dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia. Penilaian ini didasarkan atas potensi panas bumi Indonesia yang mencapai 23,74 gigawatt (GW) karena berada di ring of fire, sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara dengan cadangan panas bumi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

"Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar dan ini bisa menjadi kekuatan. Akan tetapi, hingga saat ini belum dioptimalkan karena banyak permasalahan yang dihadapi, seperti ketersediaan infrastruktur untuk menuju ke panas bumi tersebut," kata pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi dalam keterangannya, Kamis (18/12).

Fahmy menyoroti pentingnya dukungan pemerintah untuk mempercepat pengembangan panas bumi di Indonesia. Di sisi lain, untuk mengembangkannya, dibutuhkan perhatian khusus terutama dalam hal kesiapan infrastruktur. Ini disebabkan Indonesia memerlukan pembangunan interkoneksi antarpulau untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan.

"Kalau dibebankan sepenuhnya kepada investor, modal yang dibutuhkan akan sangat besar. Jika infrastrukturnya sudah tersedia, ini akan menarik investor untuk menggali potensi panas bumi kita," kata Fahmy.

Target Panas Bumi dalam RUPTL

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemerintah merencanakan penambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 42,5 gigawatt (GW) dan pembangunan penyimpanan energi sebesar 10,2 GW. Dari jumlah tersebut, sebanyak 70 persen direncanakan berasal dari energi terbarukan. Untuk panas bumi, dialokasikan tambahan kapasitas sebesar 5,2 GW dengan proyeksi kapasitas terpasang mencapai 1,1 GW pada 2029.

Namun, realisasi EBT secara umum masih belum sesuai harapan. Mengacu pada data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi bauran EBT sepanjang 2024 hanya mencapai 14,68 persen, jauh di bawah target yang ditetapkan sebesar 19,5 persen.

Sebelumnya, pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa hingga Oktober 2025 kapasitas listrik berbasis energi bersih baru mencapai 14,4 persen dari total kapasitas nasional. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyampaikan bahwa target bauran listrik energi baru terbarukan (EBT) sebesar 15,9 persen pada 2025 sulit tercapai.

Menurut Tri, kondisi tersebut mencerminkan dua hal: potensi EBT Indonesia sebenarnya sangat besar namun pengembangannya masih perlu dipercepat, dan sistem pembangkit nasional masih didominasi energi fosil, terutama batu bara, yang hingga kini menjadi sumber utama pasokan listrik.

Sementara itu, di tingkat global, pemanfaatan panas bumi semakin berkembang, terutama Amerika Serikat (AS). Sebagai negara dengan kapasitas terpasang panas bumi terbesar di dunia, yakni mencapai 3,93 GW, Amerika Serikat semakin agresif dalam mengembangkan pemanfaatan energi panas bumi. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya